Hidup, pada dasarnya, adalah sebuah pertanyaan yang menuntut jawaban. Setiap manusia berjalan dalam lintasan waktu, menghirup udara, berjuang memenuhi kebutuhan, mengejar obsesi, bahkan terperangkap dalam ambisi. Namun, di balik riuhnya hiruk-pikuk itu, jarang yang berhenti sejenak untuk bertanya: Mengapa aku hidup? Untuk apa aku hidup?
Al-Qur’an dengan tegas menggugah kesadaran manusia:
"أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ"
"Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu secara main-main (tanpa tujuan), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?" (QS. Al-Mu’minun: 115).
Ayat ini memutuskan dengan terang, bahwa hidup bukanlah sekadar lintasan kosong tanpa makna. Ada misi yang tertanam dalam keberadaan manusia: menjadi hamba dan khalifah, beribadah kepada Allah dan mengelola bumi dengan hikmah. Allah menegaskan:
"وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ"
"Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56).
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menyebutkan bahwa manusia yang tidak menyadari tujuan hidupnya ibarat seorang musafir yang lupa arah perjalanan. Ia mungkin sibuk mengisi perbekalan, tapi tak pernah tahu ke mana tempat tujuan. Harta, kedudukan, dan kenikmatan hanyalah “bekal yang fana”, sementara tujuan sejati adalah perjumpaan dengan Sang Khalik.
Filsuf eksistensialis modern seperti Søren Kierkegaard pernah menegaskan bahwa tragedi terbesar manusia adalah hidup tanpa pernah sungguh-sungguh menjadi dirinya yang otentik. Ia larut dalam arus massa, tanpa keberanian untuk bertanya tentang “mengapa” ia ada. Di titik ini, filsafat eksistensialis bertemu dengan ruh Qur’ani: hidup kehilangan makna bila tidak dikaitkan dengan Sang Pencipta.
Ali bin Abi Thalib r.a. pernah berkata: “Manusia sedang tidur, dan mereka akan terbangun ketika mati.” Kalimat singkat ini adalah refleksi bahwa banyak manusia hidup dalam kelalaian, menjalani rutinitas tanpa kesadaran transendental, hingga kematian membangunkan mereka pada realitas yang hakiki.
Hidup, jika dilihat dengan mata jasad, hanyalah siklus makan, bekerja, dan mati. Tapi jika dipandang dengan mata hati, hidup adalah perjalanan spiritual: dari Allah, bersama Allah, menuju Allah. Jalaluddin Rumi melukiskan: “Engkau bukan setetes air di lautan, melainkan seluruh lautan dalam setetes air.” Manusia bukan sekadar tubuh rapuh, tetapi ruh yang memikul misi Ilahi.
Maka, reason to live menurut Al-Qur’an adalah ibadah dan pengabdian. Sedangkan how to reach it adalah dengan menjalani hidup secara sadar, menyeimbangkan dunia dan akhirat, ilmu dan amal, rasio dan spiritualitas. Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah menyebutkan dalam Madarijus Salikin bahwa jalan menuju Allah adalah perpaduan antara mahabbah (cinta), khauf (takut), dan raja’ (harap).
Pada akhirnya, refleksi tentang hidup membawa kita pada sebuah kesadaran: hidup terlalu berharga bila hanya dijalani sekadar memenuhi syahwat dan ambisi. Hidup adalah ruang untuk beribadah, belajar, memberi, mencinta, dan menemukan makna dalam bayang-bayang kefanaan.
Dan ketika kematian datang, barulah semua tanya menemukan jawabnya. Sebab, seperti yang difirmankan Allah:
"يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ"
"Wahai manusia, sesungguhnya engkau telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka pasti engkau akan menemui-Nya." (QS. Al-Insyiqaq: 6).