6/21/2025

Cokroaminoto: Singa Podium dan Pelopor Zelfbestuur di Hindia Belanda



Ketika sejarah kemerdekaan Indonesia ditelusuri ke akarnya, sering kali kita langsung teringat pada proklamasi 1945 dan tokoh-tokoh seperti Soekarno dan Hatta. Namun, di balik gemuruh kemerdekaan itu, ada satu sosok penting yang jauh sebelumnya telah meniupkan api perjuangan: Haji Oemar Said Cokroaminoto. Ia bukan hanya orator ulung yang dijuluki Singa Podium, tetapi juga salah satu tokoh pertama yang secara terang-terangan menyerukan zelfbestuur — hak pemerintahan sendiri — kepada pemerintah kolonial Belanda.

Zelfbestuur: Gagasan Kemerdekaan Sebelum Kemerdekaan

Pada Kongres Sarekat Islam pertama di Bandung tahun 1916, Cokroaminoto tampil sebagai tokoh utama yang menyuarakan perlunya zelfbestuur bagi bangsa Indonesia. Dalam konteks politik kolonial saat itu, gagasan ini amat radikal. Kata "kemerdekaan" belum boleh diucapkan, namun Cokroaminoto dengan berani menyampaikannya dalam bentuk tuntutan agar Hindia Belanda diberikan hak untuk mengatur nasibnya sendiri.


Dalam pidatonya, ia berkata:


“Kami menghendaki pemerintahan sendiri, kami menuntut zelfbestuur!”

(Sumber: Shiraishi, Takashi. Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926.Jakarta: Grafiti, 1997.)


Pernyataan ini bukan hanya mencengangkan pemerintah kolonial, tetapi juga menyadarkan kaum bumiputera bahwa ada kemungkinan untuk menjadi tuan di negeri sendiri.


Cokroaminoto dan Sarekat Islam: Membangun Kesadaran Nasional


Sarekat Islam (SI), di bawah kepemimpinan Cokroaminoto, menjadi organisasi massa terbesar di Indonesia pada awal abad ke-20. SI bukan sekadar gerakan ekonomi umat Islam, melainkan berkembang menjadi kendaraan politik yang menampung berbagai aspirasi kemerdekaan. Di sinilah Cokroaminoto menunjukkan kepiawaiannya merangkul massa, membangun kesadaran nasional, dan merumuskan arah perjuangan.


Menurut Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo, seorang sejarawan terkemuka Indonesia:

“Cokroaminoto adalah pelopor nasionalisme politik yang berbasis massa. Ia menanamkan kesadaran politik kepada rakyat kecil, hal yang tidak dilakukan oleh tokoh-tokoh elitis sebelumnya.”

(Sumber: Sartono Kartodirdjo, Pemberontakan Petani Banten 1888, Pustaka Jaya, 1984.)


Guru Para Pemimpin Besar


Kehebatan Cokroaminoto tidak hanya diukur dari gagasannya, tetapi juga dari generasi pemimpin yang lahir dari didikannya. Di rumahnya di Surabaya, ia mendidik tokoh-tokoh yang kelak memainkan peran besar dalam sejarah Indonesia: Soekarno, Semaoen, Kartosoewirjo, dan bahkan Tan Malaka.


Menurut Soekarno dalam autobiografinya "Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat", ia menyebut:

“Cokroaminoto adalah guru bangsa. Di rumahnya saya belajar berpikir politik dan membayangkan Indonesia yang merdeka.”


Cokroaminoto berhasil mempengaruhi spektrum ideologi nasionalisme, Islamisme, dan sosialisme yang kelak mewarnai dinamika politik Indonesia.


Warisan Besar yang Terlupakan


Meskipun tidak sempat menyaksikan kemerdekaan yang ia impikan — Cokroaminoto wafat pada tahun 1934 — gagasan dan pengaruhnya tetap hidup. Zelfbestuur bukan lagi sekadar tuntutan politis, tetapi menjadi jalan menuju kemerdekaan sejati yang akhirnya dicapai pada 17 Agustus 1945.


Namun dalam buku-buku sejarah populer, nama Cokroaminoto sering kali tertutup bayang-bayang murid-muridnya. Padahal, ia adalah peletak dasar nasionalisme yang pertama kali menantang kolonialisme dengan ide pemerintahan sendiri secara terbuka.

Arsitek Kebangkitan Nasional

Cokroaminoto adalah tokoh sentral yang mengartikulasikan kemerdekaan jauh sebelum kata itu mendapat tempat dalam diskursus politik Hindia Belanda. Ia tidak hanya bersuara, tetapi membangun kesadaran. Ia bukan sekadar pemimpin gerakan, tetapi penggagas arah. Dalam sejarah Indonesia, ia layak dikenang bukan hanya sebagai singa podium, tetapi sebagai arsitek awal kebangkitan bangsa.

Referensi:

1. Shiraishi, Takashi. Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912–1926. Grafiti Pers, 1997.

2. Kartodirdjo, Sartono. Pemberontakan Petani Banten 1888. Pustaka Jaya, 1984.

3. Soekarno. Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Gunung Agung, 1965.

4. Ricklefs, M.C. Sejarah Indonesia Modern 1200–2008*. Serambi, 2008.

5. Suardi Tasrif. Cokroaminoto: Hidup dan Perjuangannya. Bulan Bintang, 1951


Selamat anda telah menjadi pembaca artikel kami, teruskan membaca artikel lainnya. 

Baca juga:

Khilafah adalah ideologi global

No comments:

Mengenal Kopiah Udheng Jawa: Perpaduan Elegan Tradisi Leluhur dan Gaya Moder

Mengenal Kopiah Udheng Jawa: Perpaduan Elegan Tradisi Leluhur dan Gaya Modern Pendahuluan Dunia fashion Muslim di Indonesia terus berkembang...