Dalam panggung sejarah umat manusia, peradaban senantiasa berkembang dalam dua poros utama: kemajuan fisik (teknologi, ilmu, infrastruktur) dan kematangan moral (etika, keadilan, nilai-nilai luhur). Dua peradaban besar yang mencerminkan kutub pendekatan yang berbeda adalah peradaban Barat sekuler dan peradaban Islam. Keduanya meninggalkan jejak panjang dalam sejarah, namun memiliki prioritas dan fondasi nilai yang berbeda. Perbandingan keduanya memberi gambaran tentang hubungan antara pencapaian material dan kedalaman spiritual.
Peradaban Barat Sekuler: Mesin Peradaban Tanpa Kompas Nilai?
Peradaban Barat, terutama sejak era Pencerahan (Enlightenment), mengalami lonjakan luar biasa dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Revolusi industri, temuan ilmiah, teknologi informasi, dan dominasi global secara ekonomi dan militer adalah buah dari paradigma rasionalisme dan sekularisme. Dengan menyingkirkan agama dari ranah publik dan menjadikan sains sebagai satu-satunya jalan kebenaran, Barat melesat dalam membangun kemajuan fisik.
Namun, kemajuan ini tak selalu dibarengi oleh peningkatan moral. Etika seringkali dikalahkan oleh kepentingan ekonomi dan politik. Teknologi digunakan bukan hanya untuk membangun, tetapi juga untuk mengontrol, mengeksploitasi, bahkan menghancurkan. Lihatlah bagaimana bom atom dijatuhkan, bagaimana kapitalisme global menciptakan ketimpangan, dan bagaimana budaya konsumerisme mencabut akar manusia dari nilai-nilai spiritual.
Dalam kerangka sekuler, etika menjadi relatif, tidak lagi berlandaskan wahyu ilahi, tetapi berdasarkan konsensus manusia yang berubah-ubah. Hal ini melahirkan kebebasan yang nyaris tanpa batas, tetapi juga krisis identitas, kehampaan makna, dan meningkatnya gangguan mental di masyarakat modern.
Peradaban Islam: Etika sebagai Inti Peradaban
Berbeda dengan Barat, peradaban Islam sejak awal dibangun di atas fondasi tauhid, yaitu pengesaan Allah yang mencakup dimensi spiritual, sosial, dan politik. Dalam Islam, ilmu dan teknologi bukan tujuan, melainkan alat untuk menegakkan nilai kebenaran, keadilan, dan kemaslahatan. Oleh karena itu, peradaban Islam di masa klasik (abad ke-7 hingga ke-13 M) bukan hanya melahirkan ilmuwan hebat seperti Al-Khwarizmi, Ibnu Sina, dan Al-Farabi, tetapi juga pemimpin adil seperti Umar bin Khattab dan Salahuddin Al-Ayyubi.
Teknologi dan pengetahuan dikembangkan, tetapi selalu dibimbing oleh etika wahyu. Dalam Islam, tidak semua yang bisa dilakukan secara teknis boleh dilakukan secara moral. Ada kesadaran bahwa manusia adalah khalifah di bumi, dan teknologi adalah amanah, bukan alat eksploitasi.
Peradaban Islam juga berhasil membangun tatanan sosial yang berkeadilan: zakat menekan ketimpangan, hukum syariat menertibkan masyarakat, dan akhlak dijadikan standar kemuliaan, bukan status atau kekayaan. Dalam Islam, kemajuan diukur bukan hanya dari apa yang dibangun, tetapi juga siapa yang diselamatkan.
Pertarungan atau Perpaduan?
Peradaban Barat modern seringkali dianggap sebagai puncak pencapaian manusia, tetapi kenyataannya ia pincang tanpa arah moral yang kuat. Sementara peradaban Islam menawarkan nilai-nilai etis yang dalam, tetapi hari ini banyak umat Islam yang justru kehilangan keunggulan ilmiah dan teknologinya karena keterputusan dari semangat ijtihad.
Pertanyaannya: apakah dua pendekatan ini harus bertarung, atau bisakah saling melengkapi?
Jawabannya ada pada rekonstruksi peradaban: kita membutuhkan teknologi dengan jiwa, dan akhlak yang punya daya. Dunia masa depan tidak bisa diselamatkan hanya oleh algoritma atau kecerdasan buatan, tetapi oleh manusia-manusia yang bermoral dan bijak menggunakan kecerdasan itu.J
Jalan Tengah Peradaban
Akhirnya, peradaban yang unggul bukanlah yang sekadar membangun gedung pencakar langit, tetapi yang juga mampu menegakkan keadilan. Bukan yang hanya menguasai luar angkasa, tetapi yang juga menaklukkan hawa nafsunya. Dalam hal ini, peradaban Islam—jika kembali pada esensi wahyunya—memiliki peluang untuk menghadirkan jalan tengah: kemajuan teknologi yang dibimbing etika langit.
Karena sejatinya, peradaban tanpa akhlak adalah kemajuan yang menyesatkan, sementara akhlak tanpa kemajuan adalah keindahan yang tertindas.

No comments:
Post a Comment