2/18/2026

๐ŸŒฟ Jiwa yang Tenang, Harta yang Bertakwa, dan Semangat untuk Maju

 

๐ŸŒฟ Jiwa yang Tenang, Harta yang Bertakwa, dan Semangat untuk Maju

Empat orang bisa saja memiliki latar belakang yang berbeda, tetapi semuanya berhasil meraih apa yang mereka cita-citakan. Mengapa? Karena mereka memiliki แนญumลซแธฅ (ambisi yang tinggi), keinginan kuat untuk maju dan membangun masa depan.

Selama yang diinginkan itu baik, halal, dan membawa manfaat, Allah ๏ทป akan membukakan jalannya.

Islam tidak pernah mengajarkan umatnya menjadi pasif. Seorang muslim justru diperintahkan hidup dengan semangat, visi, dan cita-cita besar—namun semuanya harus dipertemukan dengan satu fondasi utama: ketakwaan.


๐ŸŒธ Jiwa yang Tenang Itu Dipuji Allah

Allah ๏ทป berfirman:

ูŠَุง ุฃَูŠَّุชُู‡َุง ุงู„ู†َّูْุณُ ุงู„ْู…ُุทْู…َุฆِู†َّุฉُ
ุงุฑْุฌِุนِูŠ ุฅِู„َู‰ٰ ุฑَุจِّูƒِ ุฑَุงุถِูŠَุฉً ู…َุฑْุถِูŠَّุฉً
ูَุงุฏْุฎُู„ِูŠ ูِูŠ ุนِุจَุงุฏِูŠ
ูˆَุงุฏْุฎُู„ِูŠ ุฌَู†َّุชِูŠ

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
(QS. Al-Fajr: 27–30)

Dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa an-nafs al-muแนญma’innah adalah jiwa yang yakin kepada Allah, tenang dengan janji-Nya, tidak gelisah oleh dunia, dan ridha terhadap takdir-Nya.

Jiwa yang tenang bukan jiwa yang lemah. Ia dewasa. Tidak tergesa-gesa. Tidak panik berlebihan. Tidak membesar-besarkan masalah kecil.


๐Ÿ’ฐ Kekayaan Itu Baik… Jika Bersama Ketakwaan

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Mu’adz bin ‘Abdullah bin Khubaib dari ayahnya dan pamannya, Rasulullah ๏ทบ bersabda:

ู„َุง ุจَุฃْุณَ ุจِุงู„ْุบِู†َู‰ ู„ِู…َู†ِ ุงุชَّู‚َู‰، ูˆَุงู„ุตِّุญَّุฉُ ู„ِู…َู†ِ ุงุชَّู‚َู‰ ุฎَูŠْุฑٌ ู…ِู†َ ุงู„ْุบِู†َู‰، ูˆَุทِูŠุจُ ุงู„ู†َّูْุณِ ู…ِู†َ ุงู„ู†َّุนِูŠู…ِ

“Tidak mengapa (tidak buruk) kekayaan bagi orang yang bertakwa. Kesehatan bagi orang yang bertakwa lebih baik daripada kekayaan. Dan jiwa yang ceria termasuk bagian dari nikmat.”
(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Hadis ini luar biasa. Ia menegaskan bahwa:

  • Kaya bukan dosa

  • Sehat adalah nikmat besar

  • Jiwa yang ceria adalah karunia

Namun semuanya harus berada dalam bingkai takwa.

1️⃣ Kekayaan Tanpa Takwa Adalah Ujian Berat

Allah berfirman:

ูˆَุงุจْุชَุบِ ูِูŠู…َุง ุขุชَุงูƒَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุงู„ุฏَّุงุฑَ ุงู„ْุขุฎِุฑَุฉَ ูˆَู„َุง ุชَู†ุณَ ู†َุตِูŠุจَูƒَ ู…ِู†َ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง

“Carilah dengan apa yang telah Allah berikan kepadamu negeri akhirat, dan janganlah engkau lupakan bagianmu di dunia.”
(QS. Al-Qashash: 77)

Ayat ini seimbang. Dunia boleh, akhirat jangan hilang.

Sering terjadi, ketika Allah memberi nikmat—liburan, hotel mewah, waktu senggang—justru salat ditinggalkan, aurat diabaikan, maksiat dilakukan.

Padahal seharusnya:

  • Semakin diberi nikmat → semakin bersyukur

  • Semakin lapang rezeki → semakin rajin ibadah

Nikmat bukan alasan lalai. Nikmat adalah sarana untuk mendekat.


๐Ÿ’ช Sehat dan Bertakwa Lebih Baik daripada Kaya Tanpa Iman

Rasulullah ๏ทบ bersabda:

ู†ِุนْู…َุชَุงู†ِ ู…َุบْุจُูˆู†ٌ ูِูŠู‡ِู…َุง ูƒَุซِูŠุฑٌ ู…ِู†َ ุงู„ู†َّุงุณِ: ุงู„ุตِّุญَّุฉُ ูˆَุงู„ْูَุฑَุงุบُ

“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari)

Kesehatan yang diiringi ketakwaan lebih mulia daripada harta tanpa iman.

Tingkat terbaik tentu:

  • Kaya

  • Sehat

  • Bertakwa

Namun jika harus memilih, kesehatan yang membuat seseorang rajin salat, puasa, dan zikir lebih berharga daripada kekayaan yang menjauhkan dari Allah.

Kadang seseorang belum diberi harta banyak karena Allah tahu jika ia kaya, ia akan lalai. Bukankah Allah berfirman?

ูˆَุงู„ู„َّู‡ُ ูŠَุนْู„َู…ُ ูˆَุฃَู†ุชُู…ْ ู„َุง ุชَุนْู„َู…ُูˆู†َ

“Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)


๐Ÿงผ Mengubah Hal Mubah Menjadi Pahala

Dalam Ihya Ulumuddin, Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa amal mubah bisa bernilai ibadah dengan niat yang benar.

Makan → diniatkan menjaga amanah tubuh
Bekerja → diniatkan mencari nafkah halal
Mandi → diniatkan menjaga kebersihan

Rasulullah ๏ทบ bersabda:

ุฅِู†َّู…َุง ุงู„ุฃَุนْู…َุงู„ُ ุจِุงู„ู†ِّูŠَّุงุชِ

“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Islam adalah agama kebersihan dan kerapian. Nabi ๏ทบ bersabda:

ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ุฌَู…ِูŠู„ٌ ูŠُุญِุจُّ ุงู„ْุฌَู…َุงู„َ

“Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan.”
(HR. Muslim)

Maka seorang muslim seharusnya:

  • Bersih

  • Rapi

  • Wangi

  • Menyenangkan ketika ditemui

Karena iman juga tercermin dari penampilan yang terhormat.


๐Ÿ˜Š Jiwa yang Ceria Adalah Nikmat

Rasulullah ๏ทบ adalah manusia yang paling berat ujiannya. Namun beliau tetap tersenyum.

Beliau bersabda:

ุนَุฌَุจًุง ู„ุฃَู…ْุฑِ ุงู„ْู…ُุคْู…ِู†ِ ุฅِู†َّ ุฃَู…ْุฑَู‡ُ ูƒُู„َّู‡ُ ู„َู‡ُ ุฎَูŠْุฑٌ

“Sungguh menakjubkan urusan orang beriman, seluruh urusannya baik baginya.”
(HR. Muslim)

Jika mendapat nikmat → bersyukur.
Jika mendapat ujian → bersabar.

Banyak orang membesar-besarkan masalah kecil:

  • Ditolak kerja → merasa dunia runtuh

  • Ditolak menikah → merasa hidup selesai

  • Makanan habis → marah besar

Padahal itu semua kecil.

Jiwa yang tenang tidak mudah terguncang oleh perkara sepele.


๐Ÿš€ แนฌumลซแธฅ: Punya Cita-Cita Besar Itu Dianjurkan

Dalam sejarah Islam, disebutkan dalam Siyar A'lam al-Nubala karya Imam al-Dzahabi, ada kisah para pemuda Quraisy yang memiliki ambisi besar.

Di antara mereka:

  • Abdullah bin Zubair

  • Urwah bin Zubair

  • Abdul Malik bin Marwan

Mereka pernah menyampaikan cita-cita besar masing-masing. Dan beberapa tahun kemudian, Allah mewujudkannya.

Islam tidak melarang ambisi. Yang dilarang adalah iri dan dengki.

Allah berfirman:

ูˆَู„َุง ุชَุชَู…َู†َّูˆْุง ู…َุง ูَุถَّู„َ ุงู„ู„َّู‡ُ ุจِู‡ِ ุจَุนْุถَูƒُู…ْ ุนَู„َู‰ٰ ุจَุนْุถٍ

“Janganlah kalian iri terhadap apa yang Allah lebihkan sebagian kalian atas sebagian yang lain.”
(QS. An-Nisa: 32)

Namun meminta karunia Allah itu diperintahkan:

ูˆَุงุณْุฃَู„ُูˆุง ุงู„ู„َّู‡َ ู…ِู†ْ ูَุถْู„ِู‡ِ

“Mintalah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya.”
(QS. An-Nisa: 32)

Maka bermimpilah besar. Tapi tetap bertakwa.


๐ŸŒ… Penutup: Hidup Tenang, Berprestasi, dan Bertakwa

Ingin kaya? Silakan.
Ingin sukses? Silakan.
Ingin berpengaruh? Silakan.

Namun pastikan semuanya berada dalam koridor ketakwaan.

Karena pada akhirnya, yang Allah panggil bukan:
“Wahai orang yang paling kaya…”

Tetapi:

ูŠَุง ุฃَูŠَّุชُู‡َุง ุงู„ู†َّูْุณُ ุงู„ْู…ُุทْู…َุฆِู†َّุฉُ

“Wahai jiwa yang tenang…”

Semoga kita termasuk di dalamnya:
jiwa yang tenang, harta yang bertakwa, dan semangat yang terus maju menuju ridha Allah. ๐ŸŒฟ

Ramadhan: Madrasah Jiwa dan Revolusi Akhlak



๐ŸŒ™ Ramadhan: Madrasah Jiwa dan Revolusi Akhlak

Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan haus. Ia adalah madrasah ruhani yang ditempa langsung oleh Allah ๏ทป untuk membentuk manusia bertakwa. Jika Ramadhan hanya menghasilkan rasa lapar tanpa perubahan akhlak, maka ada yang keliru dalam cara kita menjalaninya.

๐Ÿ“– Puasa dan Tujuan Besarnya: Taqwa

Allah ๏ทป berfirman:

ูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุขู…َู†ُูˆุง ูƒُุชِุจَ ุนَู„َูŠْูƒُู…ُ ุงู„ุตِّูŠَุงู…ُ ูƒَู…َุง ูƒُุชِุจَ ุนَู„َู‰ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ู…ِู†ْ ู‚َุจْู„ِูƒُู…ْ ู„َุนَู„َّูƒُู…ْ ุชَุชَّู‚ُูˆู†َ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim bahwa puasa adalah sarana untuk menundukkan syahwat dan membersihkan jiwa, karena dengan melemahkan dorongan jasmani, hati menjadi lebih mudah tunduk kepada Allah.

Puasa bukan sekadar ritual, tapi latihan pengendalian diri. Orang yang mampu menahan yang halal (makan dan minum), seharusnya lebih mampu menahan yang haram.


๐Ÿง  Puasa dan Pengendalian Nafsu

Dalam karya monumentalnya Ihya Ulumuddin, Imam al-Ghazali membagi tingkatan puasa menjadi tiga:

  1. Puasa umum – menahan makan, minum, dan hubungan suami-istri.

  2. Puasa khusus – menjaga pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, dan kaki dari dosa.

  3. Puasa paling khusus – menjaga hati dari selain Allah.

Beliau menegaskan bahwa hakikat puasa adalah melemahkan kekuatan nafsu yang menjadi pintu masuk setan. Maka orang yang berpuasa tapi masih gemar gibah, marah, dan curang, baru berada di lapisan paling luar.


๐Ÿ”ฅ Ramadhan dan Pendidikan Akhlak

Rasulullah ๏ทบ bersabda:

ู…َู†ْ ู„َู…ْ ูŠَุฏَุนْ ู‚َูˆْู„َ ุงู„ุฒُّูˆุฑِ ูˆَุงู„ْุนَู…َู„َ ุจِู‡ِ ูَู„َูŠْุณَ ู„ِู„َّู‡ِ ุญَุงุฌَุฉٌ ูِูŠ ุฃَู†ْ ูŠَุฏَุนَ ุทَุนَุงู…َู‡ُ ูˆَุดَุฑَุงุจَู‡ُ

“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dosa, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.”
(HR. Bukhari)

Dalam Fath al-Bari, Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan puasa bertujuan mendidik moral, bukan hanya menahan fisik. Jika akhlak tidak berubah, maka nilai puasa menjadi berkurang.


๐Ÿ’› Ramadhan sebagai Revolusi Sosial

Ramadhan juga mengajarkan empati sosial. Dalam Al-Muwafaqat, Imam al-Syathibi menjelaskan bahwa seluruh syariat bertujuan menjaga lima hal pokok (maqashid syariah): agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.

Puasa melatih kita merasakan lapar—agar tumbuh solidaritas. Zakat fitrah dan sedekah Ramadhan menjadi instrumen nyata agar tak ada yang kelaparan di hari raya.

Jika Ramadhan berlalu tapi jurang kaya–miskin tetap kita abaikan, maka ruh sosialnya belum kita hayati.


๐ŸŒฟ Tanda Puasa Diterima

Ulama klasik menyebutkan: balasan kebaikan adalah kebaikan setelahnya.

Jika setelah Ramadhan:

  • Shalat tetap terjaga,

  • Lisan lebih bersih,

  • Hati lebih lembut,

  • Sedekah lebih ringan,

maka itu tanda Ramadhan meninggalkan jejak.

Sebaliknya, jika maksiat kembali seperti semula, kita perlu bertanya: apakah Ramadhan benar-benar menyentuh hati kita?


✨ Penutup: Jangan Biarkan Ramadhan Berlalu Biasa Saja

Ramadhan adalah proyek perubahan. Ia bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi kesempatan emas memperbaiki diri.

Sebagaimana dikatakan para ulama:

"ุงู„ุดู‚ูŠ ู…ู† ุญُุฑู… ุงู„ู…ุบูุฑุฉ ููŠ ุฑู…ุถุงู†"
“Orang yang celaka adalah yang terhalang dari ampunan di bulan Ramadhan.”

Semoga Ramadhan menjadikan kita bukan hanya lapar, tetapi juga lebih sabar, lebih jujur, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Allah.


Jika Anda ingin, saya bisa buatkan versi yang lebih tajam (lebih retoris), atau versi yang cocok untuk khutbah Jumat lengkap dengan mukadimah dan penutup doa.

๐ŸŒฟ Jiwa yang Tenang, Harta yang Bertakwa, dan Semangat untuk Maju

  ๐ŸŒฟ Jiwa yang Tenang, Harta yang Bertakwa, dan Semangat untuk Maju Empat orang bisa saja memiliki latar belakang yang berbeda, tetapi semu...