🌿 Jiwa yang Tenang, Harta yang Bertakwa, dan Semangat untuk Maju
Empat orang bisa saja memiliki latar belakang yang berbeda, tetapi semuanya berhasil meraih apa yang mereka cita-citakan. Mengapa? Karena mereka memiliki ṭumūḥ (ambisi yang tinggi), keinginan kuat untuk maju dan membangun masa depan.
Selama yang diinginkan itu baik, halal, dan membawa manfaat, Allah ﷻ akan membukakan jalannya.
Islam tidak pernah mengajarkan umatnya menjadi pasif. Seorang muslim justru diperintahkan hidup dengan semangat, visi, dan cita-cita besar—namun semuanya harus dipertemukan dengan satu fondasi utama: ketakwaan.
🌸 Jiwa yang Tenang Itu Dipuji Allah
Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً
فَادْخُلِي فِي عِبَادِي
وَادْخُلِي جَنَّتِي“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
(QS. Al-Fajr: 27–30)
Dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa an-nafs al-muṭma’innah adalah jiwa yang yakin kepada Allah, tenang dengan janji-Nya, tidak gelisah oleh dunia, dan ridha terhadap takdir-Nya.
Jiwa yang tenang bukan jiwa yang lemah. Ia dewasa. Tidak tergesa-gesa. Tidak panik berlebihan. Tidak membesar-besarkan masalah kecil.
💰 Kekayaan Itu Baik… Jika Bersama Ketakwaan
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Mu’adz bin ‘Abdullah bin Khubaib dari ayahnya dan pamannya, Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى، وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى، وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النَّعِيمِ
“Tidak mengapa (tidak buruk) kekayaan bagi orang yang bertakwa. Kesehatan bagi orang yang bertakwa lebih baik daripada kekayaan. Dan jiwa yang ceria termasuk bagian dari nikmat.”
(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Hadis ini luar biasa. Ia menegaskan bahwa:
-
Kaya bukan dosa
-
Sehat adalah nikmat besar
-
Jiwa yang ceria adalah karunia
Namun semuanya harus berada dalam bingkai takwa.
1️⃣ Kekayaan Tanpa Takwa Adalah Ujian Berat
Allah berfirman:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Carilah dengan apa yang telah Allah berikan kepadamu negeri akhirat, dan janganlah engkau lupakan bagianmu di dunia.”
(QS. Al-Qashash: 77)
Ayat ini seimbang. Dunia boleh, akhirat jangan hilang.
Sering terjadi, ketika Allah memberi nikmat—liburan, hotel mewah, waktu senggang—justru salat ditinggalkan, aurat diabaikan, maksiat dilakukan.
Padahal seharusnya:
-
Semakin diberi nikmat → semakin bersyukur
-
Semakin lapang rezeki → semakin rajin ibadah
Nikmat bukan alasan lalai. Nikmat adalah sarana untuk mendekat.
💪 Sehat dan Bertakwa Lebih Baik daripada Kaya Tanpa Iman
Rasulullah ﷺ bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari)
Kesehatan yang diiringi ketakwaan lebih mulia daripada harta tanpa iman.
Tingkat terbaik tentu:
-
Kaya
-
Sehat
-
Bertakwa
Namun jika harus memilih, kesehatan yang membuat seseorang rajin salat, puasa, dan zikir lebih berharga daripada kekayaan yang menjauhkan dari Allah.
Kadang seseorang belum diberi harta banyak karena Allah tahu jika ia kaya, ia akan lalai. Bukankah Allah berfirman?
وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)
🧼 Mengubah Hal Mubah Menjadi Pahala
Dalam Ihya Ulumuddin, Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa amal mubah bisa bernilai ibadah dengan niat yang benar.
Makan → diniatkan menjaga amanah tubuh
Bekerja → diniatkan mencari nafkah halal
Mandi → diniatkan menjaga kebersihan
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Islam adalah agama kebersihan dan kerapian. Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ
“Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan.”
(HR. Muslim)
Maka seorang muslim seharusnya:
-
Bersih
-
Rapi
-
Wangi
-
Menyenangkan ketika ditemui
Karena iman juga tercermin dari penampilan yang terhormat.
😊 Jiwa yang Ceria Adalah Nikmat
Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling berat ujiannya. Namun beliau tetap tersenyum.
Beliau bersabda:
عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ
“Sungguh menakjubkan urusan orang beriman, seluruh urusannya baik baginya.”
(HR. Muslim)
Jika mendapat nikmat → bersyukur.
Jika mendapat ujian → bersabar.
Banyak orang membesar-besarkan masalah kecil:
-
Ditolak kerja → merasa dunia runtuh
-
Ditolak menikah → merasa hidup selesai
-
Makanan habis → marah besar
Padahal itu semua kecil.
Jiwa yang tenang tidak mudah terguncang oleh perkara sepele.
🚀 Ṭumūḥ: Punya Cita-Cita Besar Itu Dianjurkan
Dalam sejarah Islam, disebutkan dalam Siyar A'lam al-Nubala karya Imam al-Dzahabi, ada kisah para pemuda Quraisy yang memiliki ambisi besar.
Di antara mereka:
-
Abdullah bin Zubair
-
Urwah bin Zubair
-
Abdul Malik bin Marwan
Mereka pernah menyampaikan cita-cita besar masing-masing. Dan beberapa tahun kemudian, Allah mewujudkannya.
Islam tidak melarang ambisi. Yang dilarang adalah iri dan dengki.
Allah berfirman:
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ
“Janganlah kalian iri terhadap apa yang Allah lebihkan sebagian kalian atas sebagian yang lain.”
(QS. An-Nisa: 32)
Namun meminta karunia Allah itu diperintahkan:
وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ
“Mintalah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya.”
(QS. An-Nisa: 32)
Maka bermimpilah besar. Tapi tetap bertakwa.
🌅 Penutup: Hidup Tenang, Berprestasi, dan Bertakwa
Ingin kaya? Silakan.
Ingin sukses? Silakan.
Ingin berpengaruh? Silakan.
Namun pastikan semuanya berada dalam koridor ketakwaan.
Karena pada akhirnya, yang Allah panggil bukan:
“Wahai orang yang paling kaya…”
Tetapi:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
“Wahai jiwa yang tenang…”
Semoga kita termasuk di dalamnya:
jiwa yang tenang, harta yang bertakwa, dan semangat yang terus maju menuju ridha Allah. 🌿
No comments:
Post a Comment