3/07/2026

Ajakan Pulang

#CERPENRAMADHAN 

Ajakan Pulang



Tubuhku demam.

Menggigil dengan kepala berdenyar, seakan saluran darah di dalamnya dialiri gelembung-gelembung kecil yang menekan seiring detak jantung. Setiap denyut seperti pukulan di dalam otak yang menyakitkan.

Aku mencoba rileks. Kubaringkan menghilangkan semua kontraksi otot sedikit pun. Tiada otot yang sengaja kutegang. Hanya napas yang bergerak pelan, dan organ-organ yang bekerja otomatis, tanpa dikendalikan.

Kututup kelopak mataku. Terasa panas, tapi dalam gelap itu ada warna-warna yang bergerak. Merah dan biru berkelindan seperti kabut tipis yang menari. Aku membiarkan warna-warna itu berputar pelan, mengikuti napas yang kutarik panjang. Udara mengalir ke paru-paru, turun ke perut, lalu seolah menjalar sampai ke kepala. Ada sensasi ringan yang menenangkan. Denyar di kepalaku perlahan surut.

Tubuhku terasa seperti berputar lambat—searah gerakan thawaf—melingkar pelan, ringan, hampir melayang. Warna-warna di balik kelopak mata mulai memudar. Merah dan biru larut menjadi putih yang lembut. Hening.

Dan tepat ketika aku hampir terlelap—aku mendengar bisikan. Sangat pelan. Sangat dekat.

“Bangun, Mas… sudah sore.”

Aku membuka mata. Di hadapanku berdiri seorang perempuan. Parasnya manis. Wajahnya bulat telur, dengan alis tipis yang rapi. Matanya binar seperti selalu menyimpan cahaya kecil di dalamnya. Bibirnya mungil, dagunya runcing.

Aku hafal betul wajah itu. Senyumnya lembut. Tangannya menyentuh dadaku, hangat dan ringan. Setengah terperanjat aku bangun duduk, mengucek mata sebentar. Memastikan apakah ini mimpi atau dunia yang nyata.

“Bangun, sudah sore,” katanya lagi lembut. “Sebentar lagi masuk maghrib. Nanti terlewat waktu buka puasa, lho.”

Aku menghela napas panjang.

“Ok…”

Suaraku masih berat.

“Iya… eh, sejak kapan kau datang?” tanyaku.

Ia memandangku dengan wajah heran.

“Mas nglindur, ya?” katanya sambil sedikit cemberut.
“Aku kan istrimu. Ya dari kemarin-kemarin aku di sini. Aneh.”

Aku menatapnya ragu. Lalu mengangguk pelan.

“Eh… iya. Kau kan istriku.”

Aku menggaruk kepala.

“Kamu sudah siapkan menu berbuka?”

Wajahnya kembali cerah.

“Iya, Mas. Ada beberapa butir kurma, kolak pisang, nasi sama telur ceplok. Itu menu kita.”

Ia tersenyum puas, seperti seorang koki yang bangga dengan hidangannya. Aku mengangguk. Sederhana. Tapi entah kenapa terasa cukup.

“Oh iya, Mas,” katanya lagi, “nanti maghrib kita jamak sama Isya. Soalnya kita mau mudik malam ini. Mas nggak lupa kan?”

Aku diam. Otakku mencoba mengingat sesuatu—rencana, percakapan, mungkin janji yang pernah kami buat. Tapi semuanya buntu, aku tak ingat apapun. Kosong. Seperti ruangan besar tanpa perabot, lapang tapi menyimpan misteri. Namun aku takut mengecewakannya. Maka aku hanya mengangguk.

“Baiklah.”

Ia tampak lega.

“Kita pulang, Mas,” katanya pelan. “Sudah lama sekali kita tak menyambangi Uma dan Abah di kampung. Mereka pasti kangen dengan kita.”

Aku tersenyum tipis.

Uma dan Abah memang orang tuaku. Aneh rasanya mengingat bahwa mereka justru terlihat lebih sayang kepada perempuan ini daripada kepadaku yang anak kandung mereka. Sering kali aku yang malah dihujani nasihat.

“Jaga dia baik-baik.”

“Jangan buat dia sedih.”

“Perempuan seperti dia itu titipan Tuhan.”

Aku kadang iri, kadang juga bangga. Perempuan ini memang punya cara yang lembut untuk memikat hati. Termasuk hati orang tuaku.

Ia menggenggam tanganku.

“Ayo Mas… kita pulang.”

Aku menatap wajahnya. Dan entah kenapa, hatiku terasa sangat ringan. Wajah teduh Uma dan raut tegas dan lembut Abah membayang, dengan senyum diantara keriput di wajah senja mereka. 

Seperti seseorang yang lama sekali berjalan sendirian di padang sunyi, lalu tiba-tiba menemukan jalan pulang. Hatiku bergairah, buncah dan bungah oleh rindu dendam yang bakal terobati. Rindu yang selama ini mengiris jiwaku menjadi potongan-potongan kecil, seperti puzzle yang bertebar acak. Kini seperti tertata kembali. Ya, ini memang saatnya aku harus pulang.


Di rumah kos sederhana itu, kamar nomor tujuh selalu tampak sepi. Penghuninya seorang lelaki yang dikenal para tetangga sebagai orang yang pendiam. Wajahnya sopan. Rajin ke masjid. Namun jarang berbicara lebih dari sekadar salam.

Namanya Arif. Ia sudah tinggal hampir dua tahun di sana. Tak ada yang pernah melihat tamu datang menjenguknya. Tak ada keluarga yang menelpon keras-keras di malam hari. Kadang ia terlihat duduk sendirian di teras, menatap kosong ke jalan. Diam dalam remang lampu teras yang sunyi. Kadang bibirnya bergerak seperti berbicara dengan seseorang yang tak terlihat. Beberapa bulan terakhir, tubuhnya tampak semakin kurus. Sering sakit.

Kadang keluar kamar sebentar, lalu menghilang lagi berhari-hari. Pemilik kos pernah mengetuk pintunya beberapa kali.

“Mas Arif, sehat?”

Dari dalam hanya terdengar jawaban pelan.

“Iya, Bu… sehat.”

Tapi suaranya terdengar seperti datang dari tempat yang jauh.


Maghrib itu datang pelan. Lampu-lampu kos mulai menyala satu per satu.

Beberapa penghuni berkumpul di dapur bersama, menyiapkan buka puasa. Seseorang baru sadar.

“Mas Arif kok beberapa hari nggak kelihatan?”

“Pintu kamarnya juga dari kemarin tertutup terus.”

Pemilik kos akhirnya mendekat ke kamar nomor tujuh.

Mengetuk.

“Mas Arif?”

Tak ada jawaban. Ia mengetuk lagi. Lebih keras. Tetap hening. Akhirnya pintu didorong. Tak terkunci. Di dalam kamar kecil itu, lelaki itu terbaring di atas kasur tipis.

Tubuhnya tenang. Wajahnya pucat. Namun bibirnya menyimpan senyum yang sangat lembut. Seolah baru saja bertemu seseorang yang sangat ia rindukan. Di samping tempat tidur ada gelas air yang setengah kosong. Dan sebuah tas kecil yang belum sempat dipakai. Orang-orang mulai berkerumun.

“Mas Arif meninggal…”

Kabar itu menyebar cepat di antara penghuni kos. Tak ada keributan besar. Hanya bisik-bisik sedih. Pemilik kos berdiri lama di depan pintu. Ia ingat sesuatu yang pernah didengar dari seorang teman Arif dulu. Tentang banjir bandang di Aceh beberapa tahun lalu. Tentang seorang istri. Tentang kedua orang tua. Yang hilang ditelan air dalam satu malam yang gelap. Sejak hari itu, Arif seperti berjalan tanpa arah. Sampai akhirnya berhenti di rumah kos kecil ini.

Malam semakin turun. Di kamar yang sederhana itu, wajah lelaki itu tetap tenang. Seolah baru saja mendengar seseorang berkata dengan lembut—

“Mas… ayo pulang.”

(Yogyakarta, 18 Ramadhan 1447H/8 Maret 2026M)

#CeritaRamadhan
#CerpenReligi
#KisahPulang

Ajakan Pulang

#CERPENRAMADHAN  Ajakan Pulang Tubuhku demam. Menggigil dengan kepala berdenyar, seakan saluran darah di dalamnya dialiri gelembung-gelemb...