5/21/2026

“Islam sebagai Fondasi Kebangkitan Nasional”

 

Khutbah Jum’at

“Islam sebagai Fondasi Kebangkitan Nasional”


KHUTBAH PERTAMA

Mukadimah

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

Amma ba’du.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya takwa. Ketakwaan bukan hanya ibadah pribadi, tetapi juga keberanian menjaga martabat umat, membela keadilan, dan menghadirkan kemaslahatan bagi negeri.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.”
(QS. Ali ‘Imran: 102)


Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Bangsa ini tidak lahir dari ruang kosong. Kemerdekaan Indonesia bukan hanya hasil diplomasi politik, tetapi juga buah panjang dari kesadaran umat, kebangkitan moral, dan perjuangan kaum muslimin.

Sejarah mencatat, jauh sebelum republik ini berdiri, umat Islam telah menjadi fondasi kebangkitan nasional. Masjid menjadi pusat pendidikan. Pesantren menjadi benteng ilmu dan akhlak. Para ulama menjadi penggerak kesadaran rakyat melawan penindasan.

Di antara tonggak penting itu adalah berdirinya Sarekat Islam yang dipimpin oleh HOS Cokroaminoto.

Sarekat Islam bukan sekadar organisasi dagang. Ia adalah gerakan rakyat berskala nasional yang merangkul pedagang, petani, buruh, santri, ulama, hingga kaum kecil yang selama ini tertindas kolonialisme.

Bahkan banyak sejarawan menyebut Sarekat Islam sebagai organisasi massa modern pertama yang benar-benar menjangkau rakyat luas di Nusantara.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Di saat sebagian kalangan masih takut berbicara tentang kemerdekaan, Cokroaminoto telah menggagas “zelfbestuur”, yakni pemerintahan sendiri, sebagai tuntutan awal kemerdekaan bangsa.

Ini menunjukkan bahwa semangat kemerdekaan lahir bukan dari kebencian semata, tetapi dari kesadaran bahwa manusia diciptakan Allah dalam kemuliaan dan tidak layak dijajah.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ

“Dan sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam.”
(QS. Al-Isra’: 70)

Penjajahan merendahkan martabat manusia. Karena itu melawan ketidakadilan merupakan bagian dari nilai Islam.


Jamaah Jumat rahimakumullah,

Islam mengajarkan bahwa kebangkitan suatu kaum dimulai dari perubahan moral dan kesadaran diri.

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini menjadi prinsip besar kebangkitan umat. Kemunduran tidak akan berubah hanya dengan keluhan. Negeri tidak akan bangkit hanya dengan kemarahan di media sosial. Dibutuhkan ilmu, akhlak, persatuan, kerja nyata, dan keberanian moral.

Imam Malik rahimahullah pernah berkata:

لَا يَصْلُحُ آخِرُ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِلَّا بِمَا صَلَحَ بِهِ أَوَّلُهَا

“Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa yang telah membuat baik generasi awalnya.”

Generasi awal umat Islam bangkit karena iman, ilmu, persaudaraan, dan kepedulian sosial. Mereka tidak individualis. Mereka memikirkan nasib masyarakat.


Jamaah Jumat yang berbahagia,

Hari ini negeri kita menghadapi banyak persoalan: ketimpangan ekonomi, krisis moral, korupsi, kerusakan lingkungan, perpecahan sosial, hingga pudarnya kepercayaan masyarakat terhadap keadilan.

Di tengah situasi itu, umat Islam tidak boleh hanya menjadi penonton. Umat Islam harus kembali menjadi pionir kebangkitan bangsa.

Bukan dengan kebencian.
Bukan dengan fitnah.
Bukan dengan saling menghancurkan.

Tetapi dengan ilmu, akhlak, persatuan, kepedulian sosial, dan keberanian memperjuangkan kebenaran.

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

Maka jadilah muslim yang membawa manfaat bagi negeri. Guru yang jujur. Pedagang yang amanah. Pemimpin yang adil. Pemuda yang berilmu. Ulama yang membimbing umat. Dan rakyat yang menjaga persatuan.


Jamaah Jumat rahimakumullah,

Mari kita mengambil pelajaran dari sejarah: bahwa kebangkitan bangsa ini pernah dipelopori oleh umat yang memiliki iman dan keberanian. Sebagaimana para nabi dan orang-orang saleh terdahulu yang bangkit melawan kezaliman demi menegakkan kemuliaan manusia.

Musa menghadapi kekuasaan Fir’aun dengan keberanian dan keyakinan kepada Allah, meski di hadapannya berdiri kerajaan besar yang menindas manusia. Ibrahim menghancurkan kesombongan penguasa dan penyembahan berhala dengan hujjah, keteguhan, dan pengorbanan. Begitu pula kisah Talut bersama pasukannya yang sedikit namun beriman ketika menghadapi Jalut yang memiliki kekuatan besar.

Allah Ta’ala berfirman:

كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Betapa banyak golongan kecil mampu mengalahkan golongan besar dengan izin Allah. Dan Allah bersama orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 249)

Maka umat Islam hari ini tidak boleh kehilangan harapan. Selama masih ada iman, ilmu, persatuan, dan keberanian moral, maka selalu ada jalan bagi kebangkitan. Negeri ini membutuhkan umat yang tidak hanya pandai mengeluh, tetapi juga siap memperbaiki; tidak hanya marah melihat kerusakan, tetapi juga hadir membawa solusi dan keteladanan.

Semoga umat Islam hari ini kembali menjadi cahaya bagi negeri, menjadi kekuatan moral bangsa, dan menjadi pelopor keadilan sosial sebagaimana dicontohkan para ulama dan pejuang terdahulu.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.


KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

Amma ba’du.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Bangsa ini membutuhkan generasi yang kuat imannya, luas ilmunya, dan besar kepeduliannya. Generasi yang tidak hanya cerdas dalam berpikir, tetapi juga kokoh dalam prinsip. Generasi yang berani bersikap kritis dan merdeka dalam menjalankan amar ma’ruf nahi munkar; yang tidak takut menyampaikan kebenaran, meski harus menghadapi tekanan dan resiko perjuangan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

“Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kalimat kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.”

Umat Islam tidak boleh menjadi umat yang mudah terbawa arus, mudah dipecah belah, atau kehilangan keberanian moral. Seorang muslim harus memiliki pendirian, berpikir jernih, dan tidak menjual nurani demi kepentingan sesaat.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penegak keadilan karena Allah.”
(QS. An-Nisa’: 135)

Sejarah menunjukkan bahwa perubahan besar selalu lahir dari orang-orang yang memiliki keberanian iman: berani melawan kebodohan dengan ilmu, melawan ketidakadilan dengan kejujuran, dan melawan keputusasaan dengan harapan. Maka jangan wariskan kepada anak-anak negeri ini mental tunduk kepada ketidakbenaran, tetapi wariskan keberanian, akhlak, ilmu, dan kepedulian terhadap nasib masyarakat dan bangsa.

Ya Allah, bangkitkan kembali semangat persatuan, kejujuran, dan keberanian di tengah umat ini.

Ya Allah, jadikan negeri kami negeri yang aman, adil, makmur, dan penuh keberkahan.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya:
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”
(QS. Al-Ahzab: 56)


اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

Artinya:
“Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam, dan keberkahan kepada junjungan kami Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan shalawat, salam, dan keberkahan kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”


اللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذِهِ الْأُمَّةَ أُمَّةً قَوِيَّةً بِالْإِيمَانِ، مُتَّحِدَةً فِي الْحَقِّ، مُقِيمَةً لِلْعَدْلِ، حَامِلَةً لِلْعِلْمِ وَالْأَخْلَاقِ.

Artinya:
“Ya Allah, jadikan umat ini umat yang kuat dengan iman, bersatu dalam kebenaran, menegakkan keadilan, serta membawa ilmu dan akhlak mulia.”


اللَّهُمَّ أَصْلِحْ شَبَابَنَا، وَأَلْهِمْهُمُ الشَّجَاعَةَ فِي الْحَقِّ، وَالثَّبَاتَ فِي الْمَبَادِئِ، وَالْإِخْلَاصَ فِي خِدْمَةِ الدِّينِ وَالْوَطَنِ.

Artinya:
“Ya Allah, perbaikilah generasi muda kami, ilhamkan kepada mereka keberanian dalam membela kebenaran, keteguhan dalam prinsip, dan keikhlasan dalam mengabdi kepada agama dan negeri.”


رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

Artinya:
“Ya Tuhan kami, ampunilah kami, kedua orang tua kami, serta seluruh kaum mukmin laki-laki dan perempuan, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.”


رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Artinya:
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari siksa neraka.”


وَأَقِمِ الصَّلَاةَ

Artinya:

.

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

 

No comments:

“Islam sebagai Fondasi Kebangkitan Nasional”

  Khutbah Jum’at “Islam sebagai Fondasi Kebangkitan Nasional” KHUTBAH PERTAMA Mukadimah إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَ...