Khutbah Jum’at
“Islam sebagai Fondasi Kebangkitan Nasional”
KHUTBAH PERTAMA
Mukadimah
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ
لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ
لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
Amma ba’du.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya takwa. Ketakwaan bukan hanya ibadah pribadi,
tetapi juga keberanian menjaga martabat umat, membela keadilan, dan
menghadirkan kemaslahatan bagi negeri.
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah
sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan
muslim.”
(QS. Ali ‘Imran: 102)
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Bangsa ini tidak lahir dari ruang kosong. Kemerdekaan
Indonesia bukan hanya hasil diplomasi politik, tetapi juga buah panjang dari
kesadaran umat, kebangkitan moral, dan perjuangan kaum muslimin.
Sejarah mencatat, jauh sebelum republik ini berdiri, umat
Islam telah menjadi fondasi kebangkitan nasional. Masjid menjadi pusat
pendidikan. Pesantren menjadi benteng ilmu dan akhlak. Para ulama menjadi
penggerak kesadaran rakyat melawan penindasan.
Di antara tonggak penting itu adalah berdirinya Sarekat
Islam yang dipimpin oleh HOS Cokroaminoto.
Sarekat Islam bukan sekadar organisasi dagang. Ia adalah
gerakan rakyat berskala nasional yang merangkul pedagang, petani, buruh,
santri, ulama, hingga kaum kecil yang selama ini tertindas kolonialisme.
Bahkan banyak sejarawan menyebut Sarekat Islam sebagai
organisasi massa modern pertama yang benar-benar menjangkau rakyat luas di
Nusantara.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Di saat sebagian kalangan masih takut berbicara tentang
kemerdekaan, Cokroaminoto telah menggagas “zelfbestuur”, yakni pemerintahan
sendiri, sebagai tuntutan awal kemerdekaan bangsa.
Ini menunjukkan bahwa semangat kemerdekaan lahir bukan dari
kebencian semata, tetapi dari kesadaran bahwa manusia diciptakan Allah dalam
kemuliaan dan tidak layak dijajah.
Allah Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ
“Dan sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam.”
(QS. Al-Isra’: 70)
Penjajahan merendahkan martabat manusia. Karena itu melawan
ketidakadilan merupakan bagian dari nilai Islam.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Islam mengajarkan bahwa kebangkitan suatu kaum dimulai dari
perubahan moral dan kesadaran diri.
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّىٰ يُغَيِّرُوا
مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum
sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini menjadi prinsip besar kebangkitan umat. Kemunduran
tidak akan berubah hanya dengan keluhan. Negeri tidak akan bangkit hanya dengan
kemarahan di media sosial. Dibutuhkan ilmu, akhlak, persatuan, kerja nyata, dan
keberanian moral.
Imam Malik rahimahullah pernah berkata:
لَا يَصْلُحُ آخِرُ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِلَّا بِمَا
صَلَحَ بِهِ أَوَّلُهَا
“Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa
yang telah membuat baik generasi awalnya.”
Generasi awal umat Islam bangkit karena iman, ilmu,
persaudaraan, dan kepedulian sosial. Mereka tidak individualis. Mereka
memikirkan nasib masyarakat.
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Hari ini negeri kita menghadapi banyak persoalan:
ketimpangan ekonomi, krisis moral, korupsi, kerusakan lingkungan, perpecahan
sosial, hingga pudarnya kepercayaan masyarakat terhadap keadilan.
Di tengah situasi itu, umat Islam tidak boleh hanya menjadi
penonton. Umat Islam harus kembali menjadi pionir kebangkitan bangsa.
Bukan dengan kebencian.
Bukan dengan fitnah.
Bukan dengan saling menghancurkan.
Tetapi dengan ilmu, akhlak, persatuan, kepedulian sosial,
dan keberanian memperjuangkan kebenaran.
Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi
manusia lainnya.”
Maka jadilah muslim yang membawa manfaat bagi negeri. Guru
yang jujur. Pedagang yang amanah. Pemimpin yang adil. Pemuda yang berilmu.
Ulama yang membimbing umat. Dan rakyat yang menjaga persatuan.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Mari kita mengambil pelajaran dari sejarah: bahwa
kebangkitan bangsa ini pernah dipelopori oleh umat yang memiliki iman dan
keberanian. Sebagaimana para nabi dan orang-orang saleh terdahulu yang bangkit
melawan kezaliman demi menegakkan kemuliaan manusia.
Musa menghadapi kekuasaan Fir’aun dengan keberanian dan
keyakinan kepada Allah, meski di hadapannya berdiri kerajaan besar yang
menindas manusia. Ibrahim menghancurkan kesombongan penguasa dan penyembahan
berhala dengan hujjah, keteguhan, dan pengorbanan. Begitu pula kisah Talut
bersama pasukannya yang sedikit namun beriman ketika menghadapi Jalut yang
memiliki kekuatan besar.
Allah Ta’ala berfirman:
كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً
بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Betapa banyak golongan kecil mampu mengalahkan golongan
besar dengan izin Allah. Dan Allah bersama orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 249)
Maka umat Islam hari ini tidak boleh kehilangan harapan.
Selama masih ada iman, ilmu, persatuan, dan keberanian moral, maka selalu ada
jalan bagi kebangkitan. Negeri ini membutuhkan umat yang tidak hanya pandai
mengeluh, tetapi juga siap memperbaiki; tidak hanya marah melihat kerusakan,
tetapi juga hadir membawa solusi dan keteladanan.
Semoga umat Islam hari ini kembali menjadi cahaya bagi
negeri, menjadi kekuatan moral bangsa, dan menjadi pelopor keadilan sosial
sebagaimana dicontohkan para ulama dan pejuang terdahulu.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ
لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا
طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ
لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
Amma ba’du.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Bangsa ini membutuhkan generasi yang kuat imannya, luas
ilmunya, dan besar kepeduliannya. Generasi yang tidak hanya cerdas dalam
berpikir, tetapi juga kokoh dalam prinsip. Generasi yang berani bersikap kritis
dan merdeka dalam menjalankan amar ma’ruf nahi munkar; yang tidak takut
menyampaikan kebenaran, meski harus menghadapi tekanan dan resiko perjuangan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ
جَائِرٍ
“Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kalimat
kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.”
Umat Islam tidak boleh menjadi umat yang mudah terbawa arus,
mudah dipecah belah, atau kehilangan keberanian moral. Seorang muslim harus
memiliki pendirian, berpikir jernih, dan tidak menjual nurani demi kepentingan
sesaat.
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ
بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penegak
keadilan karena Allah.”
(QS. An-Nisa’: 135)
Sejarah menunjukkan bahwa perubahan besar selalu lahir dari
orang-orang yang memiliki keberanian iman: berani melawan kebodohan dengan
ilmu, melawan ketidakadilan dengan kejujuran, dan melawan keputusasaan dengan
harapan. Maka jangan wariskan kepada anak-anak negeri ini mental tunduk kepada
ketidakbenaran, tetapi wariskan keberanian, akhlak, ilmu, dan kepedulian
terhadap nasib masyarakat dan bangsa.
Ya Allah, bangkitkan kembali semangat persatuan, kejujuran,
dan keberanian di tengah umat ini.
Ya Allah, jadikan negeri kami negeri yang aman, adil,
makmur, dan penuh keberkahan.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ
ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Artinya:
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai
orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam
penghormatan kepadanya.”
(QS. Al-Ahzab: 56)
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ وَبَارَكْتَ
عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ
مَجِيدٌ.
Artinya:
“Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam, dan keberkahan kepada junjungan kami
Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan
shalawat, salam, dan keberkahan kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim.
Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”
اللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذِهِ الْأُمَّةَ أُمَّةً قَوِيَّةً
بِالْإِيمَانِ، مُتَّحِدَةً فِي الْحَقِّ، مُقِيمَةً لِلْعَدْلِ، حَامِلَةً لِلْعِلْمِ
وَالْأَخْلَاقِ.
Artinya:
“Ya Allah, jadikan umat ini umat yang kuat dengan iman, bersatu dalam
kebenaran, menegakkan keadilan, serta membawa ilmu dan akhlak mulia.”
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ شَبَابَنَا، وَأَلْهِمْهُمُ الشَّجَاعَةَ
فِي الْحَقِّ، وَالثَّبَاتَ فِي الْمَبَادِئِ، وَالْإِخْلَاصَ فِي خِدْمَةِ الدِّينِ
وَالْوَطَنِ.
Artinya:
“Ya Allah, perbaikilah generasi muda kami, ilhamkan kepada mereka keberanian
dalam membela kebenaran, keteguhan dalam prinsip, dan keikhlasan dalam mengabdi
kepada agama dan negeri.”
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِلْمُؤْمِنِينَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
Artinya:
“Ya Tuhan kami, ampunilah kami, kedua orang tua kami, serta seluruh kaum mukmin
laki-laki dan perempuan, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.”
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ
حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Artinya:
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta
lindungilah kami dari siksa neraka.”
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ
Artinya:
.
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ
وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ
عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
No comments:
Post a Comment