2/20/2021

PANDANGAN HIDUP MUSLIM


Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Lc., M.Ag.

Orientasi Dunia dan Akhirat

Kalau kita perhatikan, dalam orientasi dunia dan akhirat, umat manusia dapat dikelompokkan kepada tiga kategori:

 

Pertama

Kelompok yang menganggap hidup hanya satu kali, yaitu di dunia. Oleh karenanya harus dinikmati sepuas-puasnya. Tentang kelompok ini Allah SWT berfirman:

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ

“Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”. Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja”. (Q.S. Al-Jatsiyah 45:24)

Kedua

Kelompok yang memburu dunia dengan meninggalkan akhirat. Namun nasib mereka malang, dunia yang dikejar tidak dapat, akhirat yang ditinggal hilang. Tepat sekali Hasan Al-Banna menggambarkan kelompok ini dalam sebuah bait sya’irnya:

نرقع دنيانا بتمزيق ديننا * ولا ديننا يببقى ولا ما نرقع

“Kita tambal dunia kita dengan merobek agma. Agama kita hilang, duniapun tidak tertolong”

Ketiga

Kelompok yang menjadikan dunia ibarat ladang untuk bercocok tanam, sedang hasilnya akan dipetik nanti di akhirat. Kehidupan di dunia ini tidak lebih ibarat permainan dan senda gurau sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah SWT:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Tiadalah hidup di dunia ini melainkan pemainan dan senda gurau belaka. Sesungguhnya kampung Akhirat lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (Q.S. Al-An’am 6:32)

Mereka tidak menyia-nyiakan hidup di dunia karena mereka yakin, untuk mencapai akhirat haruslah melalui dunia. Mereka berpedoman pada firman Allah SWT:

وَابْتَغِ فِيمَا ءَاتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا …

“Dan carilah pada apa-apa yang  telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagian) untuk kehidupan di akhirat, jangan lupa bagianmu di dunia…) Q.S. Al-Qashash 28:77)

Menuju Keseimbangan Hidup

Dari ketiga kategori umat manusia di atas, tentu saja yang ideal dan sesuai dengan tuntutan Al-Qur’an dan Hadits adalah kelompok ketiga yang memiliki orientasi dunia dan akhirat secara seimbang. Untuk menuju keseimbangan ini, menurut Fathi Yakan, dalam bukunya Maza Ya’ni Intimai lil Islam, diperlukan pemahaman terhadap lima hal:

1) Tujuan Hidup;

2) Nilai Dunia dibandingkan Akhirat;

3) Hakikat Kematian;

4) Hakikat Islam; dan

5) Hakikat Jahiliyah.

1)  Tujuan Hidup

Tujuan hidup seorang mukmin adalah ibadah kepada Allah SWT. Segala sesuai yang dilakukan di atas permukaan bumi ini adalah semata-mata untuk mencari keridhaan Allah SWT. Dalam hal ini Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

      “Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah  kepada-Ku” (Q.S. Adz-Dzariyat 51:56)

2)  Nilai Dunia dibandingkan Akhirat

Semua kenikmatan hidup yang didapat di dunia belum berarti apa-apa kalau dibandingkan dengan kenikmatan yang dijanjikan oleh Allah di sorga nanti. Malah dalam salah satu hadits qudsy dinyatakan oleh Allah SWT bahwa kenikmatan sorga itu sesuatu yang belum pernah dilihat oleh manusia, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terlintas dalam pikiran.  Tentang nilai dunia dibanding akhirat ini Allah berfirman:

أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ

“…Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? , padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit”. (Q.S. At-Taubah 9:38)

Begitu pula segala kepedihan dan kesengsaraan hidup di dunia belum apa-apa kalau dibandingkan dengan kepedihan azab neraka kelak. Bagi seorang mukmin, dunia itu ibarat penjara. Bagi orang kafir dunia itu ibarat sorga. Kenapa demikian? Karena betapapun kesenangan hidup di dunia, tak obahnya seperti penjara kalau dibandingkan dengan kesenangan hidup di sorga nanti. Sebaliknya, bagi orang kafir, betapapun susah dan menderitanya hidup di dunia, bila dibandingkan dengan siksaan di neraka, jelas masih sorga bagi mereka. Jadi tidak salah kalau Nabi Muhammad SAW mengatakan:

الدنيا سجن المؤمن وجنة الكافر

          “Dunia adalah penjara bagi orang yang beriman dan sorga bagi orang kafir” (H.R. Muslim)

3)  Hakikat Kematian

Setiap yang bernyawa pasti mati. Tiap-tiap orang sudah ditentukan ajalnya, tidak bisa dipercepat atau diperlambat sedetikpun. Penyebab kematian boleh bermacm-macam, tapi yang namanyamati itu tetap satu. Tidak seorangpun yang tahu kapan dia akan meninggal. Di mana dan dalam keadaan bagaimana. Oleh sebab itu sepantasnyalah setiap pribadi bersiap-siap menghadapinya. Siapkan bekal yang akan dibawa untuk kampung sejati nanti. Berbuatlah kebajikan sebanyak-banyaknya seolah-olah engkau akan mati esok hari. Ingatlah firman Allah SWT yang mengatakan:

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ(26)وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ(27)

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan”. (Q.S. Ar-Rahman 55:26-27)

 

4)  Hakikat Islam

Memahami hakikat Islam artinya  memperdalam pengetahuan   tentang pokok-pokok ajaran Islam, hukum-hukum dan petunjuk-petunjuknya sehingga dia dapat mencapai kebaikan sebagaimana yang dijanjikan oleh Rasulullah SAW:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barangsiapa yang diinginkan oleh Alah untuk diberi kebaikan, diberinya dia pemahaman terhadap agama-Nya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

5)   Hakikat Jahiliyah

Tantangan-tantangan yang datang dari jahiliyah abad 20 dan sekarang memasuki abad 21 tambah lama tambah kuat. Oleh sebab itu seorang Muslim haruslah ikut mempelajari ideologi jahiliyah, sistem jahiliyah, strategi dan metode yang mereka gunakan untuk melumpuhkan Islam, supaya umat Islam dapat membentengi diri dan malah mengalahkan para pendukung  kejahiliyahan dengan senjata mereka sendiri. Rasulullah. SAW menyatakan:

من تعام لغة قوم سلم من مكرهم

“Barangsiapa yang mempelajari bahasa suatu kaum, dia akan selamat dari makar mereka”. (H.R. Abu Na’im).

Sikap Hidup Muslim

Setelah memahami lima hal di atas, dalam hidup ini, seorang muslim haruslah memiliki sikap-sikap berikut ini:

1)    Selalu  konsisten beramal dalam Islam, karena iman itu bukan hanya tamani (angan-angan), tetapi sesuatu yang mesti dibuktikan dalam karya nyata.

2)    Selalu memperhatikan kepentingan umat Islam, karena umat Islam itu seperti satu batang tubuh yang satu sama lain sangat toleran dan solider. Juga ibarat sebuah bangunan yang saling topang menopang. Kesulitan kaum muslimin harus dipikirkan oleh umat islam secara bersama-sama. Siapa yang tidak mementingkan urusan kaum Muslimin bukanlah termasuk golongan mereka. Rasulullah SAW bersabda:

من لم يهتم بأمر المسلمين فليس منهم

“Siapa yang tidak mementingkan (tidak mau tau) dengan urusan kaum muslimin, bukanlah dia termasuk golongan mereka”. (H.R. Hakim)

3)    Mulia dengan kebenaran dan percaya bahwa pertolongan Allah akan diberikan kepada orang-orang yang menolong agama-Nya. Seorang mukmin harus berani menegakkan kebenaran dalam siatuasi macam apapun .

4)    Bertolong-tolongan meningggikan kalimat Allah dengan sesama kaum muslimin dalam jama’ah yang diridhai oleh Allah SWT, karena tugas amar ma’ruf nahi munkar adalah tugas besar yang tidak mungkin dilaksanakan seorang dirit anpa bantuan orang lain. Allah SWT berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Bertolong-tolonganlah kamu dalam kebaikan dan ketaqwaan, dan janganlah kamu bertolong-tolongan dalam dosa dan permusuhan” (Q.S. Al-Maidah 5:2).

Demikianlah, orientasi kehidupan seorang Muslim, mudah-mudahan ada manfaatnya.

DUNIA MENURUT ISLAM

 

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (Qs Al Hadid ; 20)

إِنَّ مِمَّا أَخَافُ عَلَيْكُمْ من بعدي ما يفتح عليكم من زهرة الدنيا و زينتها

“Sesungguhnya di antara yang aku khawatirkan pada diri kalian setelah peninggalanku ialah dibukakannya bunga dunia dan pernak-perniknya untuk kalian

مَّن كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَن نُّرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَّدْحُورًا* وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا

“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS Al-Isra’: 18-19).

Dalam riwayat lain disebutkan:

وعن ابن عمر رضي اللَّه عنهما قَالَ: أَخَذ رسولُ اللَّه ﷺ بِمَنْكِبِي فقال: كُنْ في الدُّنْيا كأَنَّكَ غريبٌ، أَوْ عَابِرُ سبيلٍ

Pada suatu waktu, Rasulullah memegang pundak Abdullah bin Umar Beliau berpesan, ''Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau orang yang sekadar melewati jalan (musafir).''

Abdullah menyimak dengan khidmat pesan itu dan memberikan nasihat kepada sahabatnya yang lain:

كَانَ ابنُ عمرَ رضي اللَّه عنهما يقول: "إِذَا أَمْسَيْتَ فَلا تَنْتَظِرِ الصَّباحَ، وإِذَا أَصْبَحْتَ فَلا تَنْتَظِرِ المَساءَ، وخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لمَرَضِكَ، ومِنْ حياتِك لِمَوتِكَ" رواه البخاري

''Apabila engkau berada di sore hari, maka janganlah engkau menanti datangnya pagi. Sebaliknya, bila engkau berada di pagi hari, janganlah engkau menanti datangnya sore. Ambillah (manfaatkanlah) waktu sehatmu sebelum engkau terbaring sakit, dan gunakanlah masa hidupmu untuk beramal sebelum datangnya kematianmu.'' (HR Bukhori). 

وَٱضْرِبْ لَهُم مَّثَلَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا كَمَآءٍ أَنزَلْنَٰهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ فَٱخْتَلَطَ بِهِۦ نَبَاتُ ٱلْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ ٱلرِّيَٰحُ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ مُّقْتَدِرً

''Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.'' (QS Al-Kahfi: 45)

Menganggap kehidupan itu hannya dunia saja

Oleh karenanya harus dinikmati sepuas-puasnya. Tentang kelompok ini Allah SWT berfirman:

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ

“Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”. Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja”. (Q.S. Al-Jatsiyah 45:24)

Kelompok yang memburu dunia dengan meninggalkan akhirat. 

Namun nasib mereka malang, dunia yang dikejar tidak dapat, akhirat yang ditinggal hilang. Tepat sekali Hasan Al-Banna menggambarkan kelompok ini dalam sebuah bait sya’irnya:

نرقع دنيانا بتمزيق ديننا * ولا ديننا يببقى ولا ما نرقع

“Kita tambal dunia kita dengan merobek agma. Agama kita hilang, duniapun tidak tertolong”

 

 

Allah Azza wa Jalla berfirman: كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ۖ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan? [al-Baqarah/2:28]

Referensi: https://almanhaj.or.id/3400-hakikat-dunia.html

 

Allah Azza wa Jalla berfirman: كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ۖ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan? [al-Baqarah/2:28]

Referensi: https://almanhaj.or.id/3400-hakikat-dunia.html
Allah Azza wa Jalla berfirman: كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ۖ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan? [al-Baqarah/2:28]

Referensi: https://almanhaj.or.id/3400-hakikat-dunia.html

 

 

 

2/15/2021

BUKAN SEKEDAR KEMENANGAN

 


Pelari jarak jauh yang mewakili Negara Kenya, Mutai, hanya berjarak be


berapa meter dari garis finish, tetapi karena bingung dengan tanda tanda garis finish, ia berhenti. Ia berpikir bahwa ia telah menyelesaikan perlombaan itu. Atlet Spanyol, Iván Fernandez, berada tepat di belakangnya dan menyadari apa yang terjadi, dia mulai berteriak kepada pelari Kenya itu untuk terus berlari, tetapi Mutai tidak bisa berbahasa Spanyol dan tidak mengerti. Jadi orang Spanyol itu mendorongnya menuju garis kemenangan.


Seorang jurnalis bertanya kepada Iván: 

"Mengapa anda melakukan itu?"


Ivan menjawab: "Impian saya adalah suatu hari nanti kita hidup bersama dan memiliki moral yang baik didalam masyarakat" 


Wartawan itu bersikeras: "Tapi mengapa anda membiarkan orang Kenya itu menang?"

Ivan menjawab: "Saya tidak membiarkan dia menang, memang dia akan menang"


Wartawan itu bersikeras lagi: "Tapi anda bisa menang jika tidak membantunya"


Ivan memandangnya dan menjawab: "Tapi apa manfaat dari kemenangan saya? Apa kehormatan dari medali itu? Apa yang akan ibu saya pikirkan dan katakan tentang itu kepada saya?"


NILAI-NILAI KEHIDUPAN diturunkan dari generasi ke generasi.


*Keren. 🥺

1/08/2021

Makna Hadzal Qur'ana Mahjura (Al Furqon : 30)

 

Dalam Surat Al Furqon ayat 30, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan".  

Makna Al Qur'an yang ditinggalkan menurut Ibnul Qoyyim AL Jauziyah adalah:dalam kitabnya yang berjudul, ‘al-Fawā`id(hal. 83)’, menerangkan bahwa salah satu bentuk pengacuhan Alquran adalah sebagai berikut: Pertama, tidak mendengarkan, dan mengimaninya. Kedua, tidak mengamalkan, dan berhenti pada halal-haramnya, meski mengimani. Ketiga, tidak menjadikannya sebagai sumber hukum baik dalam masalah pokok maupun cabang. Keempat, tidak mentadabburi, memahami apa yang dimaksudkan oleh Pembicaranya(Allah). Kelima, tidak menjadikannya sebagai obat untuk semua penyakit hati.

Menurut Quraisy Shihab, Rasulullah mengadukan kesombongan kaumnya yang dia rasakan kepada Allah dengan mengatakan, "Sesungguhnya mereka telah meninggalkan al-Qur'ân dan mencampakkannya. Mereka juga makin menjadi dengan ketaksudian, kesombongan dan permusuhan yang ada pada mereka."

Ibnu Katsir berkata:

Demikian itu karena orang-orang musyrik tidak mau mendengar Al-Qur'an dengan penuh ketaatan, tidak mau pula mendengarnya. Makna ayat ini sama dengan apa yang disebutkan oleh Firman-Nya dalam ayat lain:
{وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ}
Dan orang-orang yang kafir berkata, "Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al-Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya. (Fussilat: 26), hingga akhir ayat.
Apabila dibacakan Al-Qur'an kepada mereka, mereka melakukan hiruk-pikuk dan banyak berbicara tentang hal lainnya hingga orang-orang tidak dapat mendengarkannya. Ini merupakan salah satu sikap yang meng­gambarkan ketidakacuhan kepada Al-Qur'an, tidak mau beriman kepada Al-Qur'an serta tidak membenarkannya, termasuk sikap meninggalkan Al-Qur'an. Termasuk sikap tidak mengacuhkan Al-Qur'an ialah tidak mau merenungkan dan memahami maknanya. Termasuk ke dalam pengertian tidak mengacuhkan Al-Qur'an ialah tidak mengamalkannya dan tidak melaksanakan perintah-perintahnya, serta tidak meninggalkan larangan-larangannya. Termasuk pula ke dalam pengertian tidak mengacuhkan Al-Qur'an ialah mengesampingkannya, lalu menuju kepada yang lainnya, baik berupa syair, pendapat, nyanyian atau main-main, cerita atau pun metode yang diambil bukan darinya.
Semoga Allah Yang Maha Penganugerah lagi Mahakuasa atas segala sesuatu menyelamatkan kita dari hal-hal yang membuat-Nya murka, dan menggerakkan kita kepada hal-hal yang diridai oleh-Nya, seperti meng­hafal Al-Qur'an-Nya, memahaminya, dan mengamalkan apa yang di­kandungnya di tengah malam dan siang hari, sesuai dengan cara yang disukai dan diridai-Nya. Sesungguhnya Dia Mahamulia lagi Maha Pemberi.

 


الحكم على حديث: ( سيأتي زمان على أمتي ...)


 

السؤال: أخ من العراق يقول يوسف جوهر عمر بعث بسؤال يقول فيه: قال رسول الله ﷺ: سيأتي زمان على أمتي لا يبقى من الإسلام إلا اسمه، ومن الإيمان إلا رسمه، ومن القرآن إلا حرفه، همهم بطونهم دينهم دراهمهم قبلتهم نساؤهم لا بالقليل يقنعون ولا بالكثير يشبعون السؤال: هل الحديث صحيح؟ وهل يدل على اقتراب يوم القيامة؟ 

الجواب: لا أعلم صحة هذا الأثر ولكن جاء معنى بعضه عن علي أنه قال: «يأتي على الناس زمان لا يبقى فيه من الإسلام إلا اسمه ولا من القرآن إلا رسمه، مساجدهم عامرة وهي خراب من الهدى، علماؤهم شر من تحت أديم السماء، من عندهم تخرج الفتنة وفيهم تعود » هذا مروي عن علي رضي الله عنه وأرضاه، وفي صحته نظر وهذا معناه صحيح فإن الأمور في آخر الزمان تتغير ولا يبقى من الإسلام إلا اسمه ومن القرآن إلا رسمه؛ لأنهم لا يعملون به، ثم يرفع إذا لم يبق إلا رسمه يرفع في آخر الزمان وهو من أشراط الساعة، و يأتي على الناس زمان لا يقال فيه: الله الله ولا يقال فيه: لا إله إلا الله كما صحت به الأحاديث عن رسول الله عليه الصلاة والسلام.
فهذا المعنى صحيح، هذا المعنى وإن كان الأثر فيه نظر لكن معناه صحيح؛ لأنه تتغير الأحوال في آخر الزمان ويقل العلم والفضل كما قال ﷺ: يتقارب الزمان ويظهر الجهل ويقل العلم ويفشو الزنا ويشرب الخمر ويكثر الهرج. قيل: يا رسول الله! ما الهرج؟ قال: القتل القتل كل هذا واقع كما أخبر به النبي عليه الصلاة والسلام، وكذلك في آخر الزمان تعمر المساجد باللبن بالحجر بالأسمنت بأنواع العمارة ولكن يقل قاصدوها والمصلون فيها لقلة الرغبة في الخير وقلة الإيمان وضعف الوازع الإيماني.
كذلك يوجد علماء لكن منحرفون عن الهدى في آخر الزمان، وقد وجدوا في هذا الزمان وفي غير هذا الزمان ولكن يزداد الأمر شدة يكونون علماء زور علماء ضلالة، يدعون إلى الفساد والشر، وإلى الشرك بالله عز وجل وإلى البدع والخرافات، فهم علماء في الاسم ولكن الحقيقة ليسوا بعلماء لضلالهم وبعدهم عن الهدى، نسأل الله السلامة. نعم.

المقدم: جزاكم الله خيراً.

4/27/2016

STIGMATISASI WAHABI, UPAYA AMPUTASI SEJARAH BANGSA

Wahabi, yang fisikeli dinisbat pada kaum berjenggot dan bercadar tiba-tiba saja menjadi isu yang harus digemakan, tidak tanggung-tanggung mereka langsung meng-akuisi "nusantara" dan segera menisbat yang tidak se'aliran dengan mereka sebagai bukan "nusantara". Kemudian istilah wahabi dicipta "sebagai" furqon antara nusantara dan bukan nusantara yang bermakna bukan nusantara berarti tidak nasionalis, tidak layak mendiami nusantara.

Senyatanya, jika menilik sejarah bangsa, wahhabi itu ada setua bangsa ini, meski harus dibuat dafinisi wahhabi itu sendiri. Jika yang disebut wahhabi adalah madzhab pemikiran Islam yang bersumber dari Ibnu Taymiyah dan Syeikh Abdul Wahhab itu sendiri maka sejatinya wahhabi sudah sekian lama menjadi bagian "nusantara" ini. Bahkan jika Islam "tradisional" yang bermadzhab Asya'ariyah, Syafi'iyah dikembangkan oleh para wali yang hampir semuanya pendatang dari timur tengah, maka faham wahhabiyah justru dibawah oleh anak pribumi dari Timur tengah. Contohnya gerakan Kaum Paderi di Sumatra Barat, Haji Miskin Pandai Sikat (Agam) Haji Abdurrahman Piabang (Lubuk Limapuluh Koto), dan Haji Mohammad Haris Tuanku Lintau (Luhak Tanah Datar) adalah pemuda-pemuda asli ranah Minang. Mereka mulai membawakan purifikasi Islam sebagaimana dilakukan Syeikh Abdul Wahhab pada tahun 1801. Dan sejarah mencatat merekalah yang mempertahankan nusantara ini dari imperialisme Belanda dibawah Imam Bonjol dengan peperangan selama kurang lebih 30th.

Bahkan di Jawa, pemikiran wahhabi sudah masuk pada masa pemerintajan Paku Buwono IV, sekitar tahun 1788M, bahkan Sunan Bagus, sebutan lain PB IV tertarik dengan ajarah Wahhabi ini, meski kemudian Pemerintah Belanda mendesak agar orang-orang Wahabi itu diserahkan kepadanya. Pemerintah Belanda cukup tahu, apakah akibatnya bagi penjajahannya, jika faham Wahabi ini dikenal oleh rakyat.

Di masa pergerakan pun, para aktivis pergerakan Islam banyak didominasi oleh mereka yang cenderung dengan pemikiran Ibnu Taymiyah dan Syeikh Abdul Wahhab yang dianggap sebagai sumber utama ajaran Wahhabi, paling tidak mereka mengikut pemikiran Muhammad Abduh atau ataupun Jamaluddin AL Afghani dan Muh rasyid Ridho, secara akidah mereka berkiblat kepada pemikiran Ibnu Taymiyah dan Syeikh ABdul Wahhab. Para aktivis ini kemudian banyak bergabung dalam Partai Masyumi.

Pun Soekarno pun pernah mengutarakan ketertarikannya terhadap "wahabi" ini. Kepada A. Hassan, Soekarno bercerita keinginannya membaca buku "Utusan Wahabi." Ia juga bercerita telah menerjemahkan buku biografi Ibnu Saud. "Bukan main hebatnya ini biografi! Saya jarang menjumpai biografi yang begitu menarik hati," ujar Bung Karno. Ia menuliskan dalam suratnya itu, "Bagi saya buku ini bukan saja satu ikhtiar ekonomi, tetapi adalah pula satu pengakuan, satu confenssion. Ia menggambarkan Ibnu Saud dan Wahhabism begitu rupa, mengkobar-kobarkan elemen amal, perbuatan begitu rupa hingga banyak kaum ‘tafakur’ dan kaum pengeramat Husain cs (Syiah) akan kehilangan akal nanti sama sekali,"

Muhammadiyah dengan gerkan purifikasi dengan slogan anti TBC, bisa dikatakan membawa spirit wahhabi, bahkan kalau kita menilik buku kuliah tauhidnya Yunahar Ilyas maka disana ada pembagian aqidah menjadi tiga Rububiyah, Uluhiyah dan Mulkiyah serta asma wa syifa, metode pengajaran tauhid khas wahhabi.

Stigmatisasi Wahhabi dahulu dan sekarang
Di Indonesia, stigma Wahabi pernah dilekatkan pada ormas-ormas Islam seperti Muhammadiyah, Al-Irsyad, dan Persatuan Islam (PERSIS). Tokoh-tokoh seperti KH Ahmad Dahlan, Syaikh Ahmad Soorkati, A. Hassan, dianggap sebagai pengusung paham Wahabi di Indonesia.
Pada masa yang lalu stigmatisasi wahhabi adalah upaya melanggenggang imperalisme. Hari ini stigmatiasi wahhabi tidak lebih dari upaya dari orang-orang yang merasa "minder" dan kala saing agar bisa memenangkan persaingan dengan lebih mudah, bahkan lebih dari itu ada motif duniawi, seperti "proyek" dan kekuasaan.

Wahhabi dalam konteks yang luas tidak bisa diidentifikasi oleh entitas tertentu, ciri pakaian tertentu atau ormas tertentu. Pun sebutan wahhabi atau yang lainnya sebenarnya sangat tidak begitu penting. Karena sesungguhnya yang terpenting adalah kita bisa beragama dengan kesalehan yang shohih, dan kejujuran dalam ucapan dan perbuatan. Ikhlas, menjauhi motif-motif dunia, baik harta, kekuasaan ataupun sanjungan. Kita menghargai perbedaan dalam beragama sepanjang bisa di pertanggungjawabkan. 

5/30/2015

Cintaku Diketok Palu




Sebetulnya apasih rahasia dari aktivitas pacaran kok bisa-bisanya membius para remaja, bahkan anak SD pun sudah tahu tentang aktivitas-aktivitas pacaran. Itu terbukti ketika Ustadz Burhan Sodiq menceritakan tentang seorang psikolog Jakarta ibu Elly Risman bikin kuisioner kepada anak-anak SD. Beliau memberi kesempatan kepada anak-anak untuk bertanya tentang dunia dewasa,
“Silahkan kamu bertanya tentang dunia dewasa yang kamu tidak tahu.. !!”
Kemudian ada seorang anak bertanya,
“Ibu saya mau tanya, bagaimana caranya agar ciuman tapi tidak hamil?”
Bayangkan anak SD, pertanyaannya sudah kayak gitu.
ya, silahkan mencium sumur, mungkin tidak akan hamil. Hehehe..

(Cintaku Diketok Palu, Wahono Wihan Wijaya) 

“Islam sebagai Fondasi Kebangkitan Nasional”

  Khutbah Jum’at “Islam sebagai Fondasi Kebangkitan Nasional” KHUTBAH PERTAMA Mukadimah إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَ...