Berbagai informasi mengenai dunia IT, dunia duni Islam dan informasi bisnis berbagai macam produk.
4/15/2021
4/09/2021
Makna Al-Fatihah dalam Macapat
Kanthi nyebut ing asmane gusti
Gusti Allah ingkang moho mirah
Maha asih sejatine
Puja lan puji iku
Amung Allah ingkang ndarbeni
Gustine jagat raya
Ya alam sawegung
Maha welas asih cetha
Kang ngratoni dinaning agama yekti
Kukuding alam ndonya
Amung kunjuk mring paduka Gusti
Hamba nyembah saha kumawula
Angrerepa dhepe dhepe
Hamba nyuwun pitulung
Tinedahna margi kang yekti
Margine tiyang kathah
Ingkang bagya tuhu
Paduka Paringi nikmat
Sanes margi Bebendu lan sasar sami
Amin tutuping donga...
4/07/2021
Kecerdasan Imam Al-baqilani
Kecerdasan Imam Al Baqilani
Diterjemahkan oleh: $AF (pengasuh #ppm #alfatih)
Imam Abu Bakar Al Baqilani yang terkenal sebagai ahli debat pernah berjumpa dengan seorang pendeta Nasrani.
Tiba-tiba pendeta tersebut berkata; "Kalian, kaum muslimin mengidap penyakit fanatisme"
Imam Al Baqilani bertanya; "Apa maksud anda?"
Pendeta tersebut menjawab; "Kalian membolehkan pernikahan dengan wanita ahli kitab (Yahudi/Nasrani), namun kalian melarang kami menikahi anak-anak gadis kalian".
Lalu imam Abu Bakar Al Baqilani menjawab: "Kami boleh menikahi wanita Yahudi karena kami beriman kepada Musa As dan kami diperbolehkan menikahi wanita Nasrani karena kami beriman dengan Isa As. Jika kalian mau beriman dengan Nabi Muhammad Saw, pasti kami nikahkan kalian dengan putri-putri kami"
Maka terbungkamlah mulut pendeta kafir tersebut.
Sebagai ulama terkemuka, Imam Abu Bakar Al Baqilani juga pernah diutus oleh penguasa Iraq untuk berdebat dengan orang-orang Nasrani di Kostantinopel pada tahun 371 H
Saat mendengar kedatangan Imam Abu Bakar Al Baqilani, penguasa Romawi memerintahkan para pembantunya untuk merendahkan tinggi pintu istana. Hal ini dilakukan agar Imam Abu Bakar Al Baqilani terpaksa membungkuk kan badan saat memasuki istana Romawi tersebut.
Tatkala Al Baqilani sampai di depan istana beliau mengetahui siasat licik tersebut, maka beliau membalikkan badan lalu berjalan sambil membungkuk dengan posisi membelakangi raja. Beliau menghadapkan pantatnya terlebih dahulu kepada sang raja daripada wajahnya.
Saat itulah, raja Romawi tahu siapa yang sedang dia hadapi?
Saat beliau memasuki ruangan istana itu, beliau mulai menanyakan kabar para pendeta tersebut dan keluarganya; "Bagaimana kabar kalian dan keluarga serta anak-anak kalian?"
Mendengar hal itu, maka murka-lah sang raja: "Bukankah anda tahu kalau pendeta-pendeta kami tidak menikah dan tidak memiliki anak?"
Lalu Abu Bakar berkata; "Allahu Akbar! Kalian mensucikan para pendeta kalian dari pernikahan dan keturunan lalu kalian menuduh Tuhan kalian menikah dan melahirkan Isa???"
Mendengar jawaban ini, sang raja makin murka lalu ia berkata: "Lalu bagaimana pendapat mu terkait Aisyah (tuduhan selingkuh yang pernah menimpa Aisyah Ra)?
Abu Bakar Al Baqilani menjawab: "Jika Aisyah Ra pernah dituduh berzina (oleh kaum munafik) maka Maryam pun pernah dituduh (oleh kaum Yahudi) padahal keduanya adalah wanita yang suci. Bedanya; Aisyah menikah dan tidak dikaruniai anak sedangkan Maryam tidak menikah tapi dikaruniai anak. Menurut kalian; siapa yang lebih layak dituduh (meskipun keduanya jelas-jelas wanita yang suci)?
Makin gila lah sang raja mendengar jawaban abu bakar rahimahullah tersebut.
Raja Romawi tersebut kembali bertanya; "Apakah Nabi kalian berperang?"
Abu bakar menjawab:"Iya"
Raja kembali bertanya: "Apakah ia menang?"
Abu bakar menjawab: "iya"
Sang raja bertanya kembali: "apakah Nabi kalian pernah kalah (perang)?"
Abu bakar menjawab: "iya"
Raja berkata: "Aneh, Nabi kok kalah perang!!!?"
Abu bakar menjawab; "Tahukah Anda, ada yang lebih aneh daripada itu; bagaimana bisa tuhan mati di tiang salib?"
Maka terbungkamlah mulut orang kafir tersebut!!
تاريخ بغداد (٣٧٩/٥)
للخطيب البغدادي
Referensi: Tarikh Baghdad (5/379) karya Al Khatib Al Baghdadi
Hikmah yang bisa dipetik:
(1). Dulu para ulama sibuk berdebat untuk meluruskan kesesatan orang kafir, sedangkan saat ini sebagian ulama sibuk memuji dan mencari titik-titik kompromi dengan orang kafir
(2). Agama ini harus dipikul oleh orang-orang yang cerdas agar wibawanya terjaga. Oleh sebab itu siapa saja diantara kita yang memiliki putra/putri yang cerdas, jangan semua diarahkan untuk jadi dokter atau arsitek. Harus ada yang disekolahkan agar menjadi ulama, penjaga akidah umat.
Wallahu a'lam...
2/26/2021
SYARIAT ISLAM MENURUT SUNAN BONAMG
PENERAPAN SYARIAT ISLAM MENURUT SUNAN BONANG
Sunan Bonang berkata sebagaimana termaktub dalam naskah kuno ‘Kropak Ferrara’ (lembar 12a):
“Na wong ababa-ribina den ajaka ta amegat gawe, maring agama syareat, nora ta iya agelem, kudu maring kreta kapir, kupur”
“Jika ada orang yang terlibat dalam persoalan hukum dan tidak bersedia diajak untuk menyelesaikannya menurut Syariat Islam, justru memilih hukum kafir, ia menjadi kafir”
SUMBER:
An Early Javanese code of Muslim ethics (Kropak Ferrara), G.J.W. Drewes
Telegram : Muharrik
2/23/2021
Berhati-hati dengan dunia
2/21/2021
MEMAKNAI BERKAH PADA BULAN RAJAB
Khutbah Jum'at
*_Memaknai Berkah pada bulan Rojab_*
Oleh : Gus Ali Syahidin.
Suatu hari Rasulullah bersama sahabatnya mendapati situasi krisis air.
Hingga waktu shalat Ashar tiba, mereka yang berikhtiar mencarinya di berbagai tempat tidak berhasil memperolehnya. Air yang tersedia hanyalah air sisa yang jumlahnya tak banyak.
Dalam situasi tersebut, Nabi melakukan sesuatu yang membuat orang tercengang.
Rasulullah memasukkan tangan beliau ke dalam air sisa yang berada dalam sebuah wadah itu dan berseru kepada para sahabatnya, "Ayo mulailah berwudhu. Berkah datang dari Allah."
Para sahabat menyaksikan di sela-sela jari Nabi memancar air. Para sahabat tak hanya bisa wudhu dengan sempurna, tapi juga menghilangkan rasa haus karena air juga bisa diminum.
Kisah ini bisa kita temukan dalam 'Umdatul Qari' Syarah Shahih Bukhari. Yang menarik dari cerita tadi adalah kata-kata Rasulullah tentang "al-barakah mina-Llâh".
Kisah tersebut menunjukkan bahwa berkah bersumber dari Allah, bukan manusia, air, pohon, matahari, atau lainnya.
Meskipun, objek yang diberkahi itu bisa apa saja, termasuk air dan jemari Nabi. Krisis air bukan halangan bagi para sahabat untuk beribadah, bahkan mereka bisa sekaligus menyaksikan mukjizat Nabi yang tentu kian meningkatkan keteguhan iman mereka.
Dalam Lisanul Arab, "barakah" dimaknai sebagai an-mâ' waz ziyâdah, tumbuh dan bertambah.
Sebagian ulama merinci lagi bahwa berkah adalah bertambahnya kebaikan (ziyâdaatul khair). Kebaikan yang dimaksud tentu bukan kenikmatan duniawi, melainkan tingkat kesadaran kita kepada Allah, taqarrub ilallah.
Berkah dengan demikian tidak terkait dengan banyak atau sedikitnya harta benda. Orang yang kaya raya bisa jadi tidak mendapat keberkahan hidup ketika harta bendanya justru membuatnya merasa perlu dihormati, merendahkan orang miskin, berfoya-foya, atau untuk aktivitas maksiat.
Sebaliknya, kemiskinan bisa mendatangkan berkah saat hal itu melatihnya bersabar, mensyukuri nikmat, atau bersikap baik kepada tetangga.
Berkah juga tidak harus berhubungan dengan kesehatan. Sebab, kondisi sakit pun kadang bisa membuat orang instrospeksi diri (muhasabah), tobat, dzikir, dan mengingat-ingat hak-hak orang lain yang mungkin ia langgar. Meskipun, sakit pun juga bisa berbuah malapetaka ketika seseorang justru lebih banyak mengeluh, mencibir karunia Allah, atau melakukan sesuatu yang melampaui batas.
Tempat yang berkah tak mesti subur, sejuk, atau yang pemandangannya indah. Buktinya Allah memberi keistimewaan kepada tanah Makkah yang gersang.
Begitu pula dengan waktu. Waktu yang berkah belum tentu saat-saat hari raya atau hari berkabung.
Tapi keberkahan waktu itu datang manakala segenap peristiwa di dalamnya membuat kita semakin dekat dengan Allah.
Terkait dengan berkah atau barokah, Rasulullah memberi teladan kepada umatnya untuk memanjatkan doa ketika memasuki bulan Rajab:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
“Duhai Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadlan.”
(Lihat Muhyiddin Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Adzkâr, Penerbit Darul Hadits, Kairo, Mesir)
Bulan Rajab merupakan salah satu bulan haram, artinya bulan yang dimuliakan. Dalam Islam, terdapat empat bulan haram di luar Ramadhan, yakni Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.
Saat tiba waktu Rajab, yang Rasulullah minta adalah keberkahan bulan ini, lalu keberkahan bulan Sya’ban, hingga ia dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan.
Saat bulan Rajab tiba, Rasulullah tidak memohon kekayaan, kesehatan, atau kenikmatan duniawi secara khusus. Beliau berdoa agar dilimpahi keberkahan di bulan Rajab dan Sya’ban seiring dengan menyongsong bulan Ramadhan. Secara tidak langsung, doa ini adalah permohonan panjang umur. Tentu saja bukan sekadar usia panjang, tetapi usia yang bermanfaat untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Inti dari berkah adalah peningkatan taqarrub kita kepada Allah, sehingga kepribadian kita diliputi oleh sifat-sifat yang mencerminkan perintah Allah: jujur, adil, rendah hati, peduli sesama, penyayang, tidak serakah, tidak gemar menggunjing atau menghakimi orang lain, dan lain sebagainya.
Kita juga semakin rajin memaknai setiap aktivitas kita atas dasar nilai ibadah. Bekerja untuk menafkahi keluarga karena Allah, ikut kerja bakti tingkat RT karena Allah, bertegur sapa dengan tetangga karena Allah, dan seterusnya.
Apakah kita tak boleh berdoa memohon harta atau kesehatan di bulan Rajab ini? Tentu saja boleh. Hanya saja, yang lebih penting dari banyaknya kekayaan dan kesehatan adalah berkah, yakni suatu kondisi yang mampu menambah ketaatan kita kepada Allah subhanahu wata’ala.
Diterangkan dalam Shahih Bukhari, Rasulullah sendiri pernah mendoakan sahabatnya, Anas dengan pernyataan:
اللَّهُمَّ أكْثِرْ مَالَهُ، وَوَلَدَهُ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أعْطَيْتَهُ
Artinya: “Ya Allah perbanyaklah harta dan anaknya serta berkahilah karunia yang Engkau berikan kepadanya.”
Kata berkah di sini merupakan kunci dari segenap nikmat lahiriah. Dengan keberkahan seseorang tidak hanya kaya harta tapi juga kaya hati: merasa cukup, bersyukur, dan tidak tamak; tidak hanya mementingkan kuantitas anak, tapi juga kualitasnya yang shalih, cerdas, dan berakhlak.
Dari uraian ini jelas bahwa bulan Rajab menjadi berkah tatkala ada perkembangan dalam diri kita terkait kedekatan dan ketaatan kita kepada Allah.
Ketika keberkahan itu datang, secara otomatis kualitas kepribadian kita pun meningkat, baik dalam kondisi sulit maupun lapang, sehat maupun sakit, punya banyak utang maupun dilimpahi keuntungan.
Keberkahan di bulan Rajab dan Sya'ban ini penting mengingat kita akan menghadapi bulan Ramadhan, bulan yang jauh lebih mulia dan berlimpah keutamaan.
Semoga kita menjadi pribadi-pribadi yang senantiasa diberkahi, senantiasa diberi petunjuk, dan dipanjangkan umurnya hingga bisa menjumpai Ramadhan.
Wassalam.
*DKM AL FURQON*
Cicurug - Kersamenak - Grt
“Islam sebagai Fondasi Kebangkitan Nasional”
Khutbah Jum’at “Islam sebagai Fondasi Kebangkitan Nasional” KHUTBAH PERTAMA Mukadimah إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَ...
-
Mengetahui perkiraan berat daging sapi sangat penting, terutama saat hendak membeli, menjual, atau mempersiapkan hewan kurban. Berikut ini a...
-
Menjelang Hari Raya Idul Fitri, perdebatan klasik kembali mengemuka: apakah umat Islam wajib mengikuti keputusan pemerintah dalam penetap...
-
“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar).” (HR. Buk...