3/16/2022

Tafsir Al-Fatihah


๐Ÿ“š๐Ÿ’ *SURAH AL-FATIHAH*
            ( Bagian ke-2 dari 3)

ุงู„ْุญَู…ْุฏُ ู„ِู„َّู‡ِ ุฑَุจِّ ุงู„ْุนَุงู„َู…ِูŠู†َ (2) ุงู„ุฑَّุญْู…َٰู†ِ ุงู„ุฑَّุญِูŠู…ِ (3) ู…َุงู„ِูƒِ ูŠَูˆْู…ِ ุงู„ุฏِّูŠู†ِ (4) [ุงู„ูุงุชุญุฉ : 2-4]

*Terjemah*
_(2) Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam, (3) Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, (4) Pemilik hari pembalasan_.

*Kosakata:*
1. _Rabb_ ุฑَุจِّ (al-Fฤtihah/1: 2)
Kata rabb secara etimologi berarti, “pemelihara”, “pendidik”, “pengasuh”, “pengatur”, dan “yang menumbuhkan”. Kata rabb biasa dipakai sebagai salah satu nama Tuhan, karena Tuhanlah yang secara hakiki sebagai pemelihara, pendidik, pengasuh, pengatur dan yang menumbuhkan makhluknya. Oleh sebab itu, kata rabb biasa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan kata “Tuhan”. Kata rabb di dalam Al-Qur′an disebut 151 kali.

2. _Ar-Rahman, ar-Rahim_  ุงู„ุฑَّุญْู…َٰู†ِ ุงู„ุฑَّุญِูŠู…ِ (al-Fฤtihah/1: 3)
     Kata _ar-rahman_ terambil dari _ar-rahmah_ yang berarti belas kasihan, yaitu suatu sifat yang menimbulkan perbuatan memberi nikmat dan karunia. Jadi, kata _ar-rahman_ berarti “Yang berbuat (memberi) nikmat dan karunia yang banyak”. Kata _ar-rahman_ disebutkan dalam Al-Qur′an 57 kali di berbagai surah, termasuk pada Basmalah di awal surah _al-Fatihah_ tapi tidak termasuk pada Basmalah di awal setiap surah selain _al-Fatihah_. Kata _ar-rahman_ terdapat pada surah _al-Fatihah, al-Baqarah, ar-Ra‘ad, al-Isra′, Maryam, Taha, al-Anbiya′, al-Furqan, asy-Syu‘ara′, an-Naml, Yasin, Fussilat, az-Zukhruf, Qaf, ar-Rahmaln, al-Hasyr, al-Mulk_, dan an-Naba′.
     Kata _ar-rahim_ juga diambil dari kata _ar-rahmah_. Arti _ar-rahim_ ialah: “Yang mempunyai sifat belas kasihan dan sifat itu tetap padanya selama- lamanya”.    Kata _ar-rahim_ disebutkan dalam Al-Qur′an sebanyak 95 kali termasuk dalam _Basmalah_ di awal surah _al-Fatihah_ tapi tidak termasuk pada Basmalah di awal setiap surah selain _al-Fatihah_. Kata _Ar-rahim_ tersebut terdapat pada surah _al-Fatihah, al-Baqarah, Ali ‘Imran, an-Nisa′, al-Ma′idah, al-An‘am, al-A‘raf, al-Anfal, at-Taubah, Yunus, Hud, Yusuf, Ibrahim, al-Hijr, an-Nahl, al-Hajj, an-Nur, asy-Syu‘ara′, an-Naml, al-Qasas, ar-Rum, as-Sajdah, Saba′, Yasin, az-Zumar, Fussilat, asy-Syura, ad-Dukhan, al-Ahqaf, al-Hujurat, at-Tur, al-Hadid, al-Mujadilah, al-Hasyr, al-Mumtahanah, at-Tagabun, at-Tahrim, dan al-Muzzammil_.
     _Ar-rahman_ dan _ar-rahim_ maksudnya bahwa Tuhan telah memberi nikmat yang banyak dengan murah dan telah melimpahkan karunia yang tidak terhingga, karena Dia bersifat belas kasihan kepada makhluk-Nya. Karena sifat belas kasihan itu merupakan sifat yang tetap pada-Nya, maka nikmat dan karunia Allah tidak ada putus-putusnya.

๐Ÿ“š๐Ÿ’ *Tafsir*
     (2) Pada ayat di atas, Allah memulai firman-Nya dengan menyebut _“Basmalah”_ untuk mengajarkan kepada hamba-Nya agar memulai suatu perbuatan yang baik dengan menyebut basmalah, sebagai pernyataan bahwa dia mengerjakan perbuatan itu karena Allah dan kepada-Nyalah dia memohonkan pertolongan dan berkah. Maka, pada ayat ini Allah mengajarkan kepada hamba-Nya agar selalu memuji-Nya.
     _Al-hamdu_ artinya pujian, karena kebaikan yang diberikan oleh yang dipuji, atau karena suatu sifat keutamaan yang dimilikinya. Semua nikmat yang telah dirasakan dan didapat di alam ini dari Allah, sebab Dialah yang menjadi sumber bagi semua nikmat. Hanya Allah yang mempunyai sifat-sifat kesempurnaan.   Karena itu Allah sajalah yang berhak dipuji.
Orang yang menyebut _al-hamdu lillah_ bukan hanya mengakui bahwa puji itu untuk Allah semata, melainkan dengan ucapannya itu dia memuji Allah.
_Rabb_ artinya pemilik, pengelola dan pemelihara. Di dalamnya terkandung arti mendidik, yaitu menyampaikan sesuatu kepada keadaan yang sempurna dengan berangsur-angsur.
     _‘Alamin_ artinya seluruh alam, yakni semua jenis makhluk. Alam itu berjenis-jenis, yaitu alam tumbuh-tumbuhan, alam binatang, alam manusia, alam benda, alam makhluk halus, umpamanya malaikat, jin, dan alam yang lain. Ada mufasir mengkhususkan _‘alamin_ pada ayat ini kepada makhluk-makhluk Allah yang berakal yaitu manusia, malaikat dan jin. Tetapi ini mempersempit arti kata yang sebenarnya amat luas.
     Dengan demikian, Allah itu Pendidik seluruh alam, tak ada sesuatu pun dari makhluk Allah yang terlepas dari didikan-Nya. Tuhan mendidik makhluk-Nya dengan seluas arti kata itu. Sebagai pendidik, Dia menumbuhkan, menjaga, memberikan daya (tenaga) dan senjata kepada makhluk itu, guna kesempurnaan hidupnya masing-masing.
     Siapa yang memperhatikan perjalanan bintang-bintang, menyelidiki kehidupan tumbuh-tumbuhan dan binatang di laut dan di darat, mempelajari pertumbuhan manusia sejak dari rahim ibunya sampai ke masa kanak-kanak, lalu menjadi manusia yang sempurna, tahulah dia bahwa tidak ada sesuatu juga dari makhluk Allah yang terlepas dari penjagaan, pemeliharaan, asuhan dan inayah-Nya.
     (3) Pada ayat dua di atas Allah swt menerangkan bahwa Dia adalah Tuhan seluruh alam. Maka untuk mengingatkan hamba kepada nikmat dan karunia yang berlipat-ganda, yang telah dilimpahkan-Nya, serta sifat dan cinta kasih sayang yang abadi pada diri-Nya, diulang-Nya sekali lagi menyebut _ar-Rahman ar-Rahim_ . Yang demikian dimaksudkan agar gambaran keganasan dan kezaliman seperti raja-raja yang dipertuan dan bersifat sewenang-wenang lenyap dari pikiran hamba.
     Allah mengingatkan dalam ayat ini bahwa sifat ketuhanan Allah terhadap hamba-Nya bukanlah sifat keganasan dan kezaliman, tetapi berdasarkan cinta dan kasih sayang. Dengan demikian manusia akan mencintai Tuhannya, dan menyembah Allah dengan hati yang aman dan tenteram, bebas dari rasa takut dan gelisah. Malah dia akan mengambil pelajaran dari sifat-sifat Allah. Dia akan mendasarkan pergaulan dan tingkah lakunya terhadap manusia sesamanya, atau terhadap orang yang di bawah pimpinannya, malah terhadap binatang yang tak pandai berbicara sekalipun, atas sifat cinta dan kasih sayang itu. Karena dengan jalan demikianlah manusia akan mendapat rahmat dan karunia dari Tuhannya.
     Rasulullah bersabda:

ุงِู†َّู…َุงูŠَุฑْุญَู…ُ ุงู„ู„ّٰู‡ُ ู…ِู†ْ ุนِุจَุงุฏِู‡ِ ุงู„ุฑُّ ุญَู…َุงุกَ (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุทุจุฑ ุงู†ูŠ )

_Allah hanya sayang kepada hamba-hamba-Nya yang pengasih_. (Riwayat at-Tabrani)

ุงู„ุฑَّ ุง ุญِู…ُูˆْู†َ ูŠَุฑْุญَู…ُู‡ُู…ُ ุงู„ุฑَّุญْู…ٰู†ُ ุชَุจَุงุฑَูƒَ ูˆَุชَุนَุงู„َู‰ ุงِุฑْุญَู…ُูˆْุง ู…َู†ْ ูِู‰ ุงْู„ุงَุฑุถِ ูŠَุฑْุญَู…ْูƒُู…ْ ู…َู†ْ ูِู‰ ุงู„ุณَّู…َุง ุกِ ( ุฑูˆุงู‡ ุงุญู…ุฏ ูˆุงุจูˆ ุฏุงูˆุฏ ูˆ ุงู„ุชุฑ ู…ุฐูŠ ูˆ ุง ู„ุญุงูƒู… )
 
_Orang-orang yang penyayang, akan disayangi oleh Allah yang Rahman Tabaraka wa Ta‘ala.(Oleh karena itu) sayangilah semua makhluk yang di bumi, niscaya semua makhluk yang di langit akan menyayangi kamu semua. (Riwayat Ahmad, Abu Dawud at-Tirmidi dan al-Hakim).

     Rasulullah bersabda:

ู…َู†ْุฑَุญِู…َ ูˆَู„َูˆْุฐَุจِูŠْุญَุฉَุนُุตْูُูˆْุฑٍ ุฑَุญِู…َู‡ُ ุงู„ู„ّٰู‡ُ ูŠَูˆْู…َ ุงู„ْู‚ِูŠَุงู…َุฉِ (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ )

_“Siapa yang kasih sayang meskipun kepada seekor burung (pipit) yang disembelih, akan disayangi Allah pada hari Kiamat_. (Riwayat al-Bukhari)

     Maksud hadis yang ketiga ialah menggunakan aturan dan tata cara pada waktu menyembelih burung, misalnya memakai pisau yang tajam. Dapat pula dipahami dari urutan kata _ar-Rahman, ar-Rahim_, bahwa penjagaan, pemeliharaan dan asuhan Allah terhadap seluruh alam, bukanlah karena mengharapkan sesuatu dari alam itu, tetapi semata-mata karena rahmat dan kasih sayang-Nya.
Boleh jadi ada yang terlintas dalam pikiran orang, mengapa Allah membuat peraturan dan hukum, dan menghukum orang-orang yang melanggar peraturan itu? Pikiran ini akan hilang bila diketahui bahwa peraturan dan hukum, begitu juga azab di akhirat atau di dunia yang dibuat Allah untuk hamba-Nya yang melanggar tidaklah berlawanan dengan sifat Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, karena peraturan dan hukum itu rahmat dari Allah demi untuk kebaikan manusia itu sendiri. Begitu pula azab dari Allah terhadap hamba-Nya yang melanggar peraturan dan hukum itu sesuai dengan keadilan-Nya.

     (4) Sesudah Allah menyebutkan beberapa sifat-Nya, yaitu: Tuhan seluruh alam, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, maka diiringi-Nya dengan menyebutkan satu sifat-Nya lagi, yaitu “menguasai hari pembalasan”. Penyebutan ayat ini dimaksudkan agar kekuasaan Allah atas alam ini tak terhenti sampai di dunia ini saja, tetapi terus berkelanjutan sampai hari akhir. Ada dua macam bacaan berkenaan dengan _Malik_. *Pertama*, dengan memanjangkan _ma_, dan *kedua* dengan memendekkannya. Menurut bacaan yang pertama, _Malik_ artinya “Yang memiliki” (Yang empunya). Sedang menurut bacaan yang kedua, artinya “Raja”. Kedua bacaan itu benar.
     Baik menurut bacaan yang pertama ataupun bacaan yang kedua, dapat dipahami dari kata itu arti “berkuasa” dan bertindak dengan sepenuhnya. Sebab itulah diterjemahkan dengan “Yang menguasai”. “Yaum” artinya hari, tetapi yang dimaksud di sini ialah waktu secara mutlak.
     _Ad-din_ banyak artinya, di antaranya: (1) perhitungan, (2) ganjaran, pembalasan, (3) patuh, (4) menundukkan, dan (5) syariat, agama. Yang selaras di sini ialah dengan arti “pembalasan”. Jadi, M±liki yaumidd³n maksudnya “Allah itulah yang berkuasa dan yang dapat bertindak dengan sepenuhnya terhadap semua makhluk-Nya pada hari pembalasan.”
     Sebetulnya pada hari kemudian itu banyak hal yang terjadi, yaitu Kiamat, kebangkitan, berkumpul, perhitungan, pembalasan, tetapi pembalasan  sajalah yang disebut oleh Allah di sini, karena itulah yang terpenting. Yang lain dari itu, umpamanya kiamat, kebangkitan dan seterusnya, merupakan pendahuluan dari pembalasan, apalagi untuk _targib_ dan _tarhib_ (menggalakkan dan menakut-nakuti), penyebutan “hari pembalasan” itu lebih tepat.

*Hari Akhirat Menurut Pendapat Akal (Filsafat)*
      Kepercayaan tentang adanya hari akhirat, yang di hari itu akan diadakan perhitungan terhadap perbuatan manusia pada masa hidupnya dan diadakan pembalasan yang setimpal, adalah suatu kepercayaan yang sesuai dengan akal. Sebab itu adanya hidup yang lain, sesudah hidup di dunia ini, bukan saja ditetapkan oleh agama, tetapi juga ditunjukkan oleh akal.
     Seseorang yang mau berpikir tentu akan merasa bahwa hidup di dunia ini belumlah sempurna, perlu disambung dengan hidup yang lain. Alangkah banyaknya orang yang teraniaya hidup di dunia ini telah pulang ke rahmatullah sebelum mendapat keadilan. Alangkah banyaknya orang yang berjasa kecil atau besar, belum mendapat penghargaan atas jasanya. Alangkah banyaknya orang yang telah berusaha, memeras keringat, membanting tulang, tetapi belum sempat lagi merasakan buah usahanya itu. Sebaliknya, alangkah banyaknya penjahat, penganiaya, pembuat onar, yang tak dapat dijangkau oleh pengadilan di dunia ini. Lebih-lebih kalau yang melakukan kejahatan atau aniaya itu orang yang berkuasa sebagai raja, pembesar dan lain-lain. Maka biarpun kejahatan dan aniaya itu telah merantai bangsa seluruhnya, tidaklah akan digugat orang, malah dia tetap dipuja dan dihormati. Maka, dimanakah akan didapat keadilan itu, seandainya nanti tidak ada mahkamah yang lebih tinggi, Mahkamah Allah di hari kemudian?
     Sebab itu, para pemikir dari zaman dahulu telah ada yang sampai kepada kepercayaan tentang adanya hari akhirat itu, semata-mata dengan jalan berpikir, antara lain Pitagoras. Filsuf ini berpendapat bahwa hidup di dunia ini merupakan bekal hidup yang abadi di akhirat kelak. Sebab itu sejak dari dunia hendaklah orang bersedia untuk hidup yang abadi.
Sokrates, Plato dan Aristoteles berpendapat, “Jiwa yang baik akan merasakan kenikmatan dan kelezatan di akhirat, tetapi bukan kelezatan kebendaan, karena kelezatan kebendaan itu terbatas dan mendatangkan bosan dan jemu. Hanya kelezatan rohani, yang betapa pun banyak dan lamanya, tidak menyebabkan bosan dan jemu.”

*Kepercayaan Masyarakat Arab Sebelum Islam tentang Hari Akhirat*
     Di antara masyarakat Arab sebelum Islam terdapat beberapa pemikir dan pujangga yang telah mempercayai adanya hari kemudian, seperti Zuhair bin Abi Sulma yang meninggal dunia setahun sebelum Nabi Muhammad saw diutus Allah sebagai rasul.
      Ada pula di antara mereka yang tidak mempercayai adanya hari kemudian. Dengarlah apa yang dikatakan oleh salah seorang penyair  mereka: “Hidup, sesudah itu mati, sesudah itu dibangkitkan lagi, itulah cerita dongeng, hai fulan.” Karena itu, datanglah agama Islam, membawa kepastian tentang adanya hari kemudian. Pada hari itu akan dihisab semua perbuatan yang telah dikerjakan manusia selama hidupnya, besar atau kecil. Allah berfirman:

ูَู…َู† ูŠَุนْู…َู„ْ ู…ِุซْู‚َุงู„َ ุฐَุฑَّุฉٍ ุฎَูŠْุฑًุง ูŠَุฑَู‡ُ (7) ูˆَู…َู† ูŠَุนْู…َู„ْ ู…ِุซْู‚َุงู„َ ุฐَุฑَّุฉٍ ุดَุฑًّุง ูŠَุฑَู‡ُ (8)

_(7) Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, (8) dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya_. (az-Zalzalah/99: 7-8)

     Tidak sedikit ayat di dalam Al-Qur′an yang menjelaskan bahwa di antara mereka memang banyak yang tidak percaya adanya hari akhirat; hidup  hanya di dunia, setelah itu selesai (al-An‘am/6: 29 ; al-Mu′minun/23: 37). Mereka berkata, bila seorang bapak mati, maka lahir anak, bila suatu bangsa punah, maka datang bangsa lain. Mereka tidak percaya, bahwa sesudah mati manusia masih akan hidup kembali (Hud/11: 7; al-Isra′/17: 49) dan banyak lagi ayat senada yang menggambarkan pendirian demikian. Di dalam sejarah pemikiran tercatat bahwa sejak dahulu kala banyak anggapan yang demikian itu.

‎ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู…… ูˆุจุงู„ู„ู‡ ุงู„ุชูˆููŠู‚ ูˆุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ู†ุจูŠู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆุขู„ู‡ ูˆุตุญุจู‡ ูˆุณู„ู…


๐Ÿ“✍️ *Dinukil oleh: _Alfaqir ilallah Mangesti Waluyo Sedjati_*

๐Ÿ“š *REFERENSI :* 
 1. Al-Qur’an Dan Tafsirnya (Edisi  
       yang Disempurnakan) Juz 01,
      Departemen Agama RI, 
      diterbitkan oleh: Penerbit Lentera 
      Abadi, Jakarta, Dicetak oleh: 
      Percetakan Ikrar Mandiriabadi, 
      Jakarta, 2010

๐Ÿ•Œ *KAJIAN ISLAM & MAJELIS ILMU “BAITUL IZZAH” SIDOARJO*
*_“Mentradisikan hidup berdasarkan Al Qur'an dan As-Sunnah”_*



11/14/2021

Doa agar dagangan laris dan berkah

 Allohumma innii as-asluka tarzuqoni rizqon halaalan waasi’an thoyyiban min ghairi ta’abin wala masyaqqatin walaa dloirin walaa nashabin innaka a-laa kulli syai-iin qodiir.

Artinya: Ya Allah aku minta pada Engkau akan pemberian rizki yang halal, luas, baik tidak tanpa repot dan juga tanpa kemelaratan dan tanpa keberatan sesungguhnya Engkau kuasa atas segala sesuatu.

Doa ini bisa dibacakan sesudah selesai salat 5 waktu, salat hajat dan tahajud dengan niat ikhlas sebagai ikhtiar di dalam mencari rizki halal di jalan Allah.

Selanjutnya
Allahumma inni as’aluka, ‘ilman nafi’an, wa rizqon thoyyiban, wa a’malan mutaqobalan.

Artinya: Ya Allah aku mohon kepadamu, berikanlah kepadaku ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik, dan amalan yang diterima di sisimu.

Doa ini dibaca saat membuka usaha dagang di pagi hari dan tidak hanya memohon supaya dagangan bisa laris dan banyak pembeli akan tetapi juga dijadikan permohonan rezeki yang diperoleh supaya bisa menjadi berkah untuk kehidupan orang yang dinafkahi.

Selain doa agar dagangan laris pada saat memulai usaha dagang sebaiknya juga berdoa sbb:

“Al-Hamdu Lillaahil Ladzii Rozaqonii Haadza Min Ghairi Haulin Minnii Wa Laa Quwwatin, Alloohumma Baarik Fiihi.” 

Artinya: “Segala puji bagi Allah, yang telah memberi rizqi kepadaku dengan tidak ada daya dan kekuatan bagiku, ya Allah semoga Engkau berkahi pada rizqiku.”

Bisa juga:
“Bismil ‘llaahi tawakkaltu ‘ala ‘llaahi. Bismi ‘llaahi ‘lladzi laayadhurru ma ‘asmihii syaium fil ‘lardi walaa fi ‘ssamaa-I wahuwa ‘ssami’u’l ‘allim.”

Artinya, “Dengan nama Allah, Aku menyerah kepada Allah. Dengan Nama Allah Yang tidak Melarat serta namaNya suatu juapun yang di bumi dan pula yang di langit dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

atau bisa juga:
Bacalah Ta’awud (A’udzubillahi minassyaithoonir-rojiim) sebanyak 1 kali
Bacalah Basmalah sebanyak 1 kali
Bacalah Ayat Kursi sebanyak 1 kali
Bacalah Surat Al-Ikhlas sebanyak 3 kali
Bacalah Surat Al-Falaq sebanyak 1 kali, lalu dilanjutkan dengan membaca surat An-Naas sebanyak 1 kali

Demikianlah amalan doa agar dagangan laris dan juga berkah.

11/13/2021

KEKHALIFAHAN ADALAH IDEOLOGI GLOBAL

•KHILAFAH ADALAH IDEOLOGI GLOBAL

___________________________________________

.

.

Islam adalah ajaran Allah yang Maha Mengetahui segala sesuatu lagi Maha Bijaksana, yang disampaikan kepada manusia melalui para Nabi utusan-Nya sejak manusia pertama yakni nabi Adam AS yang dinyatakan sebagai Khalifah di permukaan bumi ini, untuk ditaati /dipraktekkan ajaran-Nya (Islam) dalam kehidupan dunia demi keselamatan hidup dunia dan akhirat. Sebenarnya ajaran ini terlebih dahulu telah ditawarkan pada langit, bumi dan gunung-gunung namun mereka menolak untuk menerimya karena khawatir akan mengkhianatinya (tidak mampu mempertanggung jawabkannya), hanya manusia sebagai Khalifah itulah yang siap menerima amanat tersebut.


Allah SUBAHANAHU WATA’ALA berfirman,

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh”. (QS. Al-Ahzab (33) : 72).


Dalam masa yang sangat panjang, anak cucu Khalifah Adam AS itu, silih berganti dipilih oleh Allah untuk menerima wahyu-Nya, kemudian disampaikan kepada anak cucu Khalifah Adam AS tersebut yang hidup di zaman Nabinya masing-masing. Maka sempurnalah ajaran Allah setelah sampai pada giliran Nabi yang terakhir yaitu Nabi Muhammad SHALLAHU ALAIHI WASALAM.


Setelah ajaran ini dinyatakan sempurna oleh Allah maka tidak lagi diperlukan seorang Nabi untuk menerima wahyu lanjutan dan berakhirlah penunjukan seorang Nabi sebagai pemimpin orang-orang yang beriman dalam mempraktekkan ajaran Islam, maka risalah Nabi terakhir pun dinyatakan sebagai rahmatan lil alamin dan bagi seluruh ummat manusia di muka bumi ini. Sepanjang kepemimpinan orang-orang beriman adalah Nabi, maka sistem kehidupan mereka dalam mempraktekkan ajaran Islam disebut sistem kenabian (An Nubuwah).


Namun setelah sistem kenabian berakhir, pertanyaannya, siapakan yang melanjutkan kepemimpinan bagi keseluruhan kaum muslimin diantara anak cucu Khalifah Adam AS itu? Tentu tidaklah tepat bila diambil-alih oleh para jin dan tidak pula cocok jika diwakilkan kepada para malaikat, maka yang sangat rasionil dan paling tepat bila kepemimpinan yang dimaksud diserahkan kembali kepada anak cucu Khalifah Adam itu sendiri, yakni dipimpin oleh seorang Khalifah dalam sistem KeKhalifahan bukan dalam sistem-sistem kehidupan lainnya (demokrasi, komunisme, nasionalisme, dan lain-lain).


Rasulullah SHALLAHU ALAIHI WASALAM bersabda, “Dulu Bani Israil diurus oleh para nabi, setiap kali seorang nabi wafat, maka ia digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak ada nabi sesudah aku. Yang akan ada adalah para Khalifah dan mereka banyak. ”Para Sahabat bertanya, “Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Nabi bersabda, “Penuhilah baiat yang pertama. Yang pertama saja. Berikanlah kepada mereka hak mereka. Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban mereka atas apa yang diminta agar mereka mengurusnya”. (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad dan Ibn Majah).


Data sejarah pun jelas tak terbantahkan bahwa pelanjut kepemimpinan Nubuwah itu adalah Kekhalifahan. Itulah sebabnya para Mulkan setelah Al-Khulafa’u Rosyidin pun menyatakan diri mereka sebagai Khalifah juga, karena mereka paham betul tanpa ragu bahwa ulil amri mingkum yang dimaksud didalam QS. An-Nisa’ : 59, tidak lain adalah seorang Khalifah sampai berakhirnya Kekhalifahan Utsmani di Turki pada Tahun 1924 M di zaman Khalifah Abdul Hamid II (tahun 1340-1342H/1922-1924M), dan berakhir pulalah kekuasaan Islam di muka bumi ini.


Ternyata tanpa sistem Kekhalifahan maka kehidupan global ummat Islam dibawah satu kepemimpinan (ulil amri mingkum) tidak mungkin dapat diwujudkan dan selamanya tetap dalam perpecahan melalui firqah-firqah hasil karya manusia yang tidak pernah dianjurkan oleh Rasulullah SHALLAHU ALAIHI WASALAM dan tidak pernah pula dipraktekan oleh para sahabat sebagai wujud keutuhan kesatuan bagi keseluruhan kaum muslimin di permukaan bumi ini yang berkepanjangan walaupun perpecahan itu adalah dikutuk Allah tanpa khilaf Ulama’.


Jika Allah dan Rasul-Nya mewajibkan bersatu dan mengharamkan perpecahan, apakah mungkin tanpa kepemimpinan yang satu? Hilangnya kesatuan global ummat Islam berarti hancurnya pelaksanaan syariat Islam secara kaffah yang diperintahkan (QS. Al-Baqarah : 208), dan hilangnya wibawa kaum muslimin dalam kehidupan, dan ummat Islam hanya sibuk dengan kebanggaan golongan masing-masing, yang pada puncaknya Islam hanya berlaku sesuai selera pribadi ataupun golongannya. Sebagai mana disinyalir dalam Al-Quran, “Kullu Hizbim Bima Ladaihin Farihun”, artinnya “Setiap golongan masing-masing membanggakan golongannya”.


Dapatlah disimpulkan bahwa untuk mengembalikkan Izzatul Islam wal Muslimin demi kejayaan ummat Islam dalam rahmat dan ridha Allah tidak terdapat jalan lain sebagai solusi kecuali kaum muslimin menyadari kembali bahwa hanya dengan sistem Kekhalifahan bagi kaum Muslimin (Khilafatul Muslimin), yakni Khilafah sebagai pelanjut An-Nubuwwah merupakan persyaratan untuk dapat ditegakkan syariat Islam sesempurna mungkin. Kekhalifahan adalah ideologi global ummat Islam se-dunia. Wallahu a’lam

4/21/2021

Sang Raja dan Menterinya

Pada suatu hari ada seorang raja besar yang tinggal di kerajaannya dan dia ditemani oleh seorang menteri yang tidak akan pernah meninggalkannya, dan menteri ini dikenal karena kesalehan dan kebijaksanaannya. Dia selalu bertawakal kepada Allah 'Azza wa Jalla dalam semua urusannya. Dia selalu berkata “Semuanya baik, Insya Allah” di semua tempat dan kondisi. Raja selalu kagum pada kalimat ini dan kesabaran menteri yang luar biasa. 

Suatu hari, salah satu jari raja terluka, dan darah yang mengalir deras keluar dari tangannya, dan ketika menteri melihatnya, dia berkata kepadanya kalimat yang biasa ia ucapkan: "Semuanya baik, Insya Allah." Mendengar ucapan itu marahlah Sang Raja kepada menterinya dan berkata kepadanya, "Apanya yang baik sekarang! Lihat darah yang keluar diantara jariku!" Maka raja memerintahkan agar Sang menteri dipenjara, dia meragukan kesetiaannya. Namun apa tidak ada yang diucccapkan Sang menteri, kecuali yang dia jawab, seperti biasa: "Semuanya baik, Insya Allah"! 

Dan seperti kebiasaan raja, setiap hari Jumat, dia pergi jalan-jalan sebentar ke hutan dekat istananya, setelah dia lelah berjalan di antara pepohonan, raja beristirahat di bawah naungan pohon besar, dan tiba-tiba raja menjumpai para penyembah berhala, dan hari ini adalah hari raya bagi berhala ini, karena kemalangan raja. Mereka berkumpul di sekitar raja dan memutuskan untuk mempersembahkan raja sebagai kurban kepada berhala mereka, tetapi ketika mereka mengetahui bahwa jarinya terpotong, mereka mengatakan bahwa ini adalah cacat dalam dirinya dan oleh karena itu tidak dapat dikorbanan kepada sesembahan mereka dan mereka membebaskannya. Baru setelah itu raja mengetahui arti dari ungkapan menterinya: "Semuanya baik, Insya Allah." Jika bukan karena jari yang putus ini, tentu raja akan celaka. Raja bergegas menemui menteri dan meminta maaf kepadanya, dan Raja bertanya kepadanya. "Aku mendengar kamu mengucapkan kata-katamu ketika Engkau akan masuk penjara, lalu apa kebaikan yang Engkau dapatkan di penjara yang menjengkelkan yang suram itu?!" Tanggapan menteri yang cerdas: "Saya adalah menteri Anda, tuan, dan selalu dengan Anda, dan jika saya tidak masuk penjara, saya akan bersama Anda di hutan, dan orang-orang ini akan mempersembahkan saya kepada berhala sebagai persembahan karena, dan itulah mengapa memasuki penjara pada hari itu lebih baik bagiku!"

4/09/2021

Makna Al-Fatihah dalam Macapat

 Kanthi nyebut ing asmane gusti  

Gusti Allah ingkang moho mirah

Maha asih sejatine 

Puja lan puji iku  

Amung Allah ingkang ndarbeni 

Gustine jagat raya  

Ya alam sawegung 

Maha welas asih cetha  

Kang ngratoni dinaning agama yekti  

Kukuding alam ndonya  

Amung kunjuk mring paduka Gusti  

Hamba nyembah saha kumawula  

Angrerepa dhepe dhepe  

Hamba nyuwun pitulung 

Tinedahna margi kang yekti 

Margine tiyang kathah 

Ingkang bagya tuhu 

Paduka Paringi nikmat  

 Sanes margi Bebendu lan sasar sami  

Amin tutuping donga...

Makna AL Fatihah dalam Macapat

4/07/2021

Kecerdasan Imam Al-baqilani

 Kecerdasan Imam Al Baqilani 

Diterjemahkan oleh: $AF (pengasuh #ppm #alfatih) 


Imam Abu Bakar Al Baqilani yang terkenal sebagai ahli debat pernah berjumpa dengan seorang pendeta Nasrani. 


Tiba-tiba pendeta tersebut berkata; "Kalian, kaum muslimin mengidap penyakit fanatisme" 


Imam Al Baqilani bertanya; "Apa maksud anda?"


Pendeta tersebut menjawab; "Kalian membolehkan pernikahan dengan wanita ahli kitab (Yahudi/Nasrani), namun kalian melarang kami menikahi anak-anak gadis kalian".


Lalu imam Abu Bakar Al Baqilani menjawab: "Kami boleh menikahi wanita Yahudi karena kami beriman kepada Musa As dan kami diperbolehkan menikahi wanita Nasrani karena kami beriman dengan Isa As. Jika kalian mau beriman dengan Nabi Muhammad Saw, pasti kami nikahkan kalian dengan putri-putri kami"


Maka terbungkamlah mulut pendeta kafir tersebut. 


Sebagai ulama terkemuka, Imam Abu Bakar Al Baqilani juga pernah diutus oleh penguasa Iraq untuk berdebat dengan orang-orang Nasrani di Kostantinopel pada tahun 371 H 


Saat mendengar kedatangan Imam Abu Bakar Al Baqilani, penguasa Romawi memerintahkan para pembantunya untuk merendahkan tinggi pintu istana. Hal ini dilakukan agar Imam Abu Bakar Al Baqilani terpaksa membungkuk kan badan saat memasuki istana Romawi tersebut. 


Tatkala Al Baqilani sampai di depan istana beliau mengetahui siasat licik tersebut, maka beliau membalikkan badan lalu berjalan sambil membungkuk dengan posisi membelakangi raja. Beliau menghadapkan pantatnya terlebih dahulu kepada sang raja daripada wajahnya. 


Saat itulah, raja Romawi tahu siapa yang sedang dia hadapi? 


Saat beliau memasuki ruangan istana itu, beliau mulai menanyakan kabar para pendeta tersebut dan keluarganya; "Bagaimana kabar kalian dan keluarga serta anak-anak kalian?"


Mendengar hal itu, maka murka-lah sang raja: "Bukankah anda tahu kalau pendeta-pendeta kami tidak menikah dan tidak memiliki anak?"


Lalu Abu Bakar berkata; "Allahu Akbar! Kalian mensucikan para pendeta kalian dari pernikahan dan keturunan lalu kalian menuduh Tuhan kalian menikah dan melahirkan Isa???" 


Mendengar jawaban ini, sang raja makin murka lalu ia berkata: "Lalu bagaimana pendapat mu terkait Aisyah (tuduhan selingkuh yang pernah menimpa Aisyah Ra)?


Abu Bakar Al Baqilani menjawab: "Jika Aisyah Ra pernah dituduh berzina (oleh kaum munafik) maka Maryam pun pernah dituduh (oleh kaum Yahudi) padahal keduanya adalah wanita yang suci. Bedanya; Aisyah menikah dan tidak dikaruniai anak sedangkan Maryam tidak menikah tapi dikaruniai anak. Menurut kalian; siapa yang lebih layak dituduh (meskipun keduanya jelas-jelas wanita yang suci)? 


Makin gila lah sang raja mendengar jawaban abu bakar rahimahullah tersebut. 


Raja Romawi tersebut kembali bertanya; "Apakah Nabi kalian berperang?" 

Abu bakar menjawab:"Iya" 

Raja kembali bertanya: "Apakah ia menang?" 

Abu bakar menjawab: "iya"


Sang raja bertanya kembali: "apakah Nabi kalian pernah kalah (perang)?"

Abu bakar menjawab: "iya"

Raja berkata: "Aneh, Nabi kok kalah perang!!!?"

Abu bakar menjawab; "Tahukah Anda, ada yang lebih aneh daripada itu; bagaimana bisa tuhan mati di tiang salib?" 


Maka terbungkamlah mulut orang kafir tersebut!! 

ุชุงุฑูŠุฎ ุจุบุฏุงุฏ (ูฃูงูฉ/ูฅ)

ู„ู„ุฎุทูŠุจ ุงู„ุจุบุฏุงุฏูŠ

Referensi: Tarikh Baghdad (5/379) karya Al Khatib Al Baghdadi 


Hikmah yang bisa dipetik:


(1). Dulu para ulama sibuk berdebat untuk meluruskan kesesatan orang kafir, sedangkan saat ini sebagian ulama sibuk memuji dan mencari titik-titik kompromi dengan orang kafir 


(2). Agama ini harus dipikul oleh orang-orang yang cerdas agar wibawanya terjaga. Oleh sebab itu siapa saja diantara kita yang memiliki putra/putri yang cerdas, jangan semua diarahkan untuk jadi dokter atau arsitek. Harus ada yang disekolahkan agar menjadi ulama, penjaga akidah umat.


Wallahu a'lam...

“Islam sebagai Fondasi Kebangkitan Nasional”

  Khutbah Jum’at “Islam sebagai Fondasi Kebangkitan Nasional” KHUTBAH PERTAMA Mukadimah ุฅِู†َّ ุงู„ْุญَู…ْุฏَ ู„ِู„َّู‡ِ، ู†َุญْู…َุฏُู‡ُ ูˆَ...