11/17/2023

AQIDAH

 A.     Aqidah Islam

Aqidah adalah asas/landasan hidup bagi kaum muslimin, dengan bentuk kita mampu menjadikan dan menerima Allah Swt sebagai satu-satunya sumber Otoritas (Rab), legalitas (Malik) dan loyalitas (Ilah) .

Dari hasil pembacaan al-Qur`an  dan al-sunnah dapat kita temukan bahwa Allah Swt. berperan sebagai Rabb, Malik dan Ilah.

Perhatikan Qs : Qs. al-Fatihah [1]: 2,4,5; al-Nas [114]: 1-3. [[1]]

E    

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. segala puji] bagi Allah, Tuhan semesta alam Maha  Pemurah lagi Maha Penyayang. yang menguasai  di hari Pembalasan.  hanya Engkaulah yang Kami  sembah , dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan.

?@è%Eb>t?I/ ?¨$¨Y9$#   ?7I=tB ?¨$¨Y9$#    Im»s9I) ?¨$¨Y9$#  

Katakanlah: "Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.raja manusia. sembahan manusia.

Begitu pula dalam Hadist Rasul Saw mengisyaratkan ketiga unsur tauhid di atas :

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ ، أَنَّ أَبَا بَكْرٍ قَالَ : يَا رَسُولَ اللهِ ، عَلِّمْنِيْ كَلِمَاتٍ أَقُوْلهُاَ إِذَا أَصْبَحْتُ ، وَإِذَا أَمْسَيْتُ . قَالَ : « قُلْ : اَللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ، أَنْتَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكُهُ ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ وَشَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ . قُلْهَا إِذَا أَصْبَحْتَ ، وَإِذَا أَمْسَيْتَ ، وَإِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ » أبو يعلى الموصلي

Dari Abu Hurairah ra bahwasanya Abu Bakar berkata: ya Rasulullah Ajarkan aku beberapa kalimat yang kuucapkan tiap pagi dan sore. Beliau bersabda: “Katakanlah ya Allah Pencipta langit dan bumi, Yang Mengetahui yang nampak dan ghaib, Engkaulah Rabb, Malik segala sesuatu, tiada Ilah kecuali engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan jiwaku, kejahatan syetan dan penyekutuannya. Katakanlah di waktu pagi dan soremu dan bila hendak tidur.” (HR. Abu Ya’la al-Maushily) [[2]]

Dengan tolak ukur ayat dan hadis di atas, maka unsur-unsur aqidah dapat disimpulkan dengan rumusan Rububiyyah, Mulkiyyah dan Uluhiyyah.

1.      Rububiyah Allah SWT

Allah sebagai Rabb berarti Allah sebagai Pencipta, Pendidik, Pengatur, Penjamin logistik seluruh makhluk, Penjaga stabilitas keamanan, Pemilik hukum, dan Pembuat undang-undang. Allah adalah Pengatur alam semesta, Pengatur manusia, Pengatur ’Arsy dan Pengatur segala sesuatu.

Oleh karenanya, aqidah terhadap  rububiyyah Allah adalah meyakini bahwa Allah sebagai satu-satunya Rabb (Maha Pencipta, Pengatur, Pemelihara, Maha Penjamin logistik atau rezeki, Penjamin keamanan, Maha Pendidik dan Pengajar) serta mengimani secara yakin bahwa Allah sebagai Rabb, hanya ditangan-Nya-lah kewenangan mutlak/absolut membuat aturan, undang-undang/hukum.

Inilah makna pengakuan tauhid la Rabba illallah. Artinya, ia harus menafikan (menolak, menjauhi dan memerangi) segala bentuk hukum, ideologi, produk hukum, perundang-undangan dan adat-istiadat yang tidak dibangun berdasarkan tuntunan Allah.

Allah sebagai Rabbinnas dibuktikan oleh si hamba dengan memberlakukan undang-undang-Nya di muka bumi ini baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, negara dan dunia dalam segala aspek kehidupan baik ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, hankam dan lain sebagainya sebagai wujud nyata dari kesempurnaan sistem dalam Islam.  Jika tidak, berarti pengakuannya palsu dan dusta besar terhadap Allah Swt, dan dinyatakan dalam al-Qur`an tidak dianggap beragama sedikitpun. [3]

2.      Mulkiyah Allah SWT [[4]]

kata Malik memiliki arti sebagai raja [[5]], pemilik segala sesuatu [[6]] . Allah sebagai Malik berarti Allah sebagai raja, pemilik segala sesuatu. Aqidah mulkiyyah berarti mengimani bahwa hanya Allah sebagai Raja manusia, Raja alam semesta dan Raja segala sesuatu yang wajib ditaati. Tidak ada kedaulatan dan kerajaan lain yang boleh diakui apalagi ditaati selain kedaulatan dan kerajaan-Nya.

Mulkiyyah Allah di bumi diproyeksikan dalam bentuk lembaga risalah (lembaga Negara Khilafah) yang kedudukannya menempati maqam nubuwwah, yakni suatu struktur lembaga pemerintahan hukum Allah yang sah, diamanahkan kepada orang beriman (Uli al-Amr) sebagai syahid atas manusia dan kelak dimintai pertanggungjawabannya  di hadapan al-Malik al-Haqq.

Berdasarkan hal ini, maka secara nyata bahwa manusia harus mewujudkan kekhalifahan Allah dan menafikan (menolak, menjauhi dan memerangi) segala bentuk kekuasaan, kerajaan, pemerintahan  dan kepemimpinan yang tidak ditegakkan atas dasar tuntunan Allah SWT. Inilah makna “La Malika Illallah

3.      Uluhiyah Allah SWT

Kata Ilah dalam bahasa arab mengandung arti ma’bud dan musta‘an. Ma’bud adalah salah satu makna dari Ilah, yaitu yang diibadahi  . Ilah atau ma’bud maknanya meliputi: Yang dicintai ,Yang diibadahi, Yang diminta pertolongan. 

Seluruh rasul membawa misi proklamasi tauhid ibadah hanya kepada Allah [[7]]. Ajaran ketauhidan atau monotheisme dalam Islam yang disebut "la Ilaha illallah", adalah suatu konsepsi tertinggi tentang ketuhanan, menolak setiap bentuk ideologi dan falsafah ketuhanan ganda. Islam tidak mengenal adanya pengabdian ganda, karena hal  itu merupakan sifat nifaq (bermuka dua) dan syirik. Si muslim dituntut pengabdiannya semata-mata hanya kepada Allah swt, tidak kepada yang lainnya.

Keyakinan kepada uluhiyyah Allah secara integral pula merupakan bentuk konkrit yang diterapkan dalam kehidupan dengan melaksanakan rububiyyah Allah di mulkiyyah Allah. Wujudnya adalah sekelompok manusia yang beriman kepada Allah swt yang menjalankan hukum dan program Allah di lembaga yang diridhai Allah. Maka keyakinan ini akan memberikan dampak menyelamatkan eksistensi kehidupan manusia di bawah naungan ridha dan rahmat Allah swt. Tatanan kehidupan yang terbentuk merupakan wujud nyata keseimbangan dan keserasian terhadap sunnatullah dan sunnaturrasul.

Lihat skema di bawah ini :

Rububiyahh

Mulkiah

Uluhiyah

Syari’ah

Qiyadah

Ibadah

Daulah

Allah SWT


 

Demikian pula thaghut [[8]] berperan sama sebagai Rabb, Malik dan Ilah berdasarkan al-Qur`an [[9]]

Dalam al-Qur`an disebutkan bahwa Fir’aun penguasa mesir, merupakan personifikasi thaghut yang telah memproklamirkan diri sebagai rabb [[10]] أَنَا رَبُّكُمُ الأَعْلَى , malik [[11]]   أَلَيْسَ لِي مُلْكُ مِصْر  dan ilah[[12]] لَئِنِ اتَّخَذْتَ إِلهَاً غَيْرِي   tandingan Allah Swt. Namun pengakuan batilnya itu tidak terbukti sehingga binasalah ia, meskipun pada detik-detik terakhir kematiannya ia mencabut proklamasinya dan mengakui rububiyyah Allah. Allah telah mengabadikan hal ini dalam al-Qur`an bahkan jasadnya pun diabadikan sebagai pelajaran bagi kaum setelahnya. 

10/20/2023

Kenapa Kita peduli Palestina?

 Palestina adalah negeri yang diberkahi Allah SWT. 

Di awal QS. Al Isra: 1 Allah SWT berfirman 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِيٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلًا مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِي بَٰرَكۡنَا حَوۡلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنۡ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ

"Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatknnn kok kokan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat."

(QS. Al-Isra' 17: Ayat 1)

Barakna haulahu, yang Allah berkahi sekelingnya.

Palestina merupakan negeri yang diberkahi Allah SWT. Sejumlah nabi dan rasul diketahui pernah mengunjungi atau bahkan menetap di sana. Sebut saja, Nabi Nuh AS, Nabi Musa AS, Nabi Ibrahim AS, Nabi Ishak AS, serta Nabi Isa AS. Bahkan, Nabi Muhammad SAW singgah terlebih dahulu di Masjid al-Aqsha saat melaksanakan perjalanan panjang menuju Langit Tertinggi (Isra wa al-Mi’raj).


Istri Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar, melahirkan anak yang diberi nama Ismail. Istri Nabi Ibrahim lainnya, Siti Sarah, melahirkan anak, yakni Ishak. Putra yang pertama itu menurunkan bangsa Arab, sedangkan yang kemudian menurunkan Nabi Yaqub AS, sosok yang bergelar Israil.

Nabi Yaqub mempunyai 12 orang anak. Salah satunya ialah Yusuf AS, yang kemudian menjadi bendaharawan negara Mesir. Ketika musim paceklik, Yaqub AS dan 11 putranya meninggalkan Palestina dan bermigrasi ke Mesir.Politik di Mesir berubah. Bangsa Israil dianggap sebagai masalah bagi negara Mesir. Raja setempat yang bergelar Firaun menjadikan mereka sebagai budak.

Bahkan, sampai hati mereka berkata, sebagaimana diabadikan Alquran, "Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya (Palestina) selama-lamanya, selagi ada orang yang gagah perkasa di dalamnya, karena itu, pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini." (Lihat QS al-Maidah ayat 24).

ILUSTRASI Kompleks Masjid al-Aqsa di Kota Tua Yerusalem, Palestina. | DOK EPA Alaa Badarn

Dunia Islam

Kronologi Sejarah di Bumi Palestina

Palestina merupakan negeri yang istimewa; di dalamnya terdapat Masjid al-Aqsha, Baitul Makdis.

Palestina merupakan negeri yang diberkahi Allah SWT. Sejumlah nabi dan rasul diketahui pernah mengunjungi atau bahkan menetap di sana. Sebut saja, Nabi Nuh AS, Nabi Musa AS, Nabi Ibrahim AS, Nabi Ishak AS, serta Nabi Isa AS. Bahkan, Nabi Muhammad SAW singgah terlebih dahulu di Masjid al-Aqsha saat melaksanakan perjalanan panjang menuju Langit Tertinggi (Isra wa al-Mi’raj).

Bila dilihat dari perspektif sejarah, ada begitu banyak peristiwa penting yang pernah terjadi di Bumi al-Quds. Berikut ini paparan singkat tentang sejarah panjang yang melintasi negeri ini hingga masa awal abad ke-21.

3.000 Sebelum Masehi (SM)

Setelah banjir besar yang menimpa kaum Nabi Nuh AS, umatnya menyebar ke berbagai wilayah. Bangsa Kanaan pertama kali mendiami bumi Palestina.

2000-1500 SM

Istri Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar, melahirkan anak yang diberi nama Ismail. Istri Nabi Ibrahim lainnya, Siti Sarah, melahirkan anak, yakni Ishak. Putra yang pertama itu menurunkan bangsa Arab, sedangkan yang kemudian menurunkan Nabi Yaqub AS, sosok yang bergelar Israil.

Nabi Yaqub mempunyai 12 orang anak. Salah satunya ialah Yusuf AS, yang kemudian menjadi bendaharawan negara Mesir. Ketika musim paceklik, Yaqub AS dan 11 putranya meninggalkan Palestina dan bermigrasi ke Mesir.

1550-1200 SM

Politik di Mesir berubah. Bangsa Israil dianggap sebagai masalah bagi negara Mesir. Raja setempat yang bergelar Firaun menjadikan mereka sebagai budak.

1200-1100 SM

Nabi Musa AS memimpin bangsa Israil (Bani Israil) meninggalkan Mesir, mengembara di gurun Sinai menuju "tanah yang dijanjikan." Janji itu tunai asalkan mereka sendiri yang konsisten taat kepada Allah SWT. Saat Bani Israil diperintah oleh Allah untuk memasuki tanah Filistin (Palestina), mereka ju

stina), mereka justru membangkang.

Bahkan, sampai hati mereka berkata, sebagaimana diabadikan Alquran, "Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya (Palestina) selama-lamanya, selagi ada orang yang gagah perkasa di dalamnya, karena itu, pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini." (Lihat QS al-Maidah ayat 24).

1000-922 SM

Secara mengejutkan, Bani Israil dapat mengalahkan Goliath (Jalut) dari Filistin. Tokoh mereka dalam hal ini ialah Nabi Daud AS. Daud lalu dijadikan raja Israil. Pada puncak jayanya, wilayah kerajaannya membentang dari tepian sungai Nil hingga sungai Eufrat di Irak. Pada masa Daud ini, Masjid al-Aqsha kembali dibangun.

922-800 SM

Nabi Daud kemudian digantikan putranya, Nabi Sulaiman AS. Sepeninggal Sulaiman, Israil dilanda perang saudara yang berlarut-larut. Akhirnya, kerajaan itu terbelah menjadi dua, yakni bagian utara bernama Israel beribu kota di Samaria. Adapun bagian selatan bernama Yehuda, beribu kota di Yerusalem.

800-600 SM

Bani Israil melenceng dari ajaran tauhid. Allah SWT menurunkan azab kepada mereka. Kerajaan Israel hancur usai diserang kerajaan Asyiria. Peristiwa ini diabadikan pula dalam Alquran surah al-Maidah, serta Injil pada Kitab Raja-raja pertama 14:15, dan Kitab Raja-raja kedua 17:18.

600-500 SM

Kerajaan Yehuda dihancurkan lewat tangan Nebukhadnezzar II dari Babilonia. Dalam Injil Kitab Raja-raja kedua 23:27 dinyatakan, mereka tidak mempunyai hak lagi atas Yerusalem. Mereka diusir dari kota itu dan lalu dipenjara di Babilonia.

Dalam Alquran surah al-Israa’ disebutkan, Bani Israil dua kali berbuat keonaran. Dan setiap kali hal itu dilakukan, mereka akan dikalahkan. Dalam Taurat dan buku The Testament of Moses disebutkan, kekalahan pertama mereka alami saat berperang melawan Raja Assyiri Shalmanser II (Nebukhadnezzar II dari Babilonia) dari Timur. Adapun kekalahan kedua terjadi saat kedatangan kaisar Romawi Titus dan Hadrian, antara tahun 70-135 M. Roma menghancurkan sinagog (rumah ibadah orang Yahudi).

ILUSTRASI Kompleks Masjid al-Aqsa di Kota Tua Yerusalem, Palestina. | DOK EPA Alaa Badarneh

Dunia Islam

Kronologi Sejarah di Bumi Palestina

Palestina merupakan negeri yang istimewa; di dalamnya terdapat Masjid al-Aqsha, Baitul Makdis.

Palestina merupakan negeri yang diberkahi Allah SWT. Sejumlah nabi dan rasul diketahui pernah mengunjungi atau bahkan menetap di sana. Sebut saja, Nabi Nuh AS, Nabi Musa AS, Nabi Ibrahim AS, Nabi Ishak AS, serta Nabi Isa AS. Bahkan, Nabi Muhammad SAW singgah terlebih dahulu di Masjid al-Aqsha saat melaksanakan perjalanan panjang menuju Langit Tertinggi (Isra wa al-Mi’raj).

Bila dilihat dari perspektif sejarah, ada begitu banyak peristiwa penting yang pernah terjadi di Bumi al-Quds. Berikut ini paparan singkat tentang sejarah panjang yang melintasi negeri ini hingga masa awal abad ke-21.

3.000 Sebelum Masehi (SM)

Setelah banjir besar yang menimpa kaum Nabi Nuh AS, umatnya menyebar ke berbagai wilayah. Bangsa Kanaan pertama kali mendiami bumi Palestina.

2000-1500 SM

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:


وَنَجَّيۡنَٰهُ وَلُوطًا إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ٱلَّتِي بَٰرَكۡنَا فِيهَا لِلۡعَٰلَمِينَ

"Dan Kami selamatkan dia (Ibrahim) dan Luth ke sebuah negeri yang telah Kami berkahi untuk seluruh alam."

(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 71)



Istri Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar, melahirkan 

anak yang diberi nama Ismail. Istri Nabi Ibrahim lainnya, Siti Sarah, melahirkan anak, yakni Ishak. Putra yang pertama itu menurunkan bangsa Arab, sedangkan yang kemudian menurunkan Nabi Yaqub AS, sosok yang bergelar Israil.

Nabi Yaqub mempunyai 12 orang anak. Salah satunya ialah Yusuf AS, yang kemudian menjadi bendaharawan negara Mesir. Ketika musim paceklik, Yaqub AS dan 11 putranya meninggalkan Palestina dan bermigrasi ke Mesir.

1550-1200 SM

Politik di Mesir berubah. Bangsa Israil dianggap sebagai masalah bagi negara Mesir. Raja setempat yang bergelar Firaun menjadikan mereka sebagai budak.

1200-1100 SM

Nabi Musa AS memimpin bangsa Israil (Bani Israil) meninggalkan Mesir, mengembara di gurun Sinai menuju "tanah yang dijanjikan." Janji itu tunai asalkan mereka sendiri yang konsisten taat kepada Allah SWT. Saat Bani Israil diperintah oleh Allah untuk memasuki tanah Filistin (Palestina), mereka justru 

1000-922 SM

Bahkan, sampai hati mereka berkata, sebagaimana diabadikan Alquran, "Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya (Palestina) selama-lamanya, selagi ada orang yang gagah perkasa di dalamnya, karena itu, pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini." (Lihat QS al-Maidah ayat 24).

Secara mengejutkan, Bani Israil dapat mengalahkan Goliath (Jalut) dari Filistin. Tokoh mereka dalam hal ini ialah Nabi Daud AS. Daud lalu dijadikan raja Israil. Pada puncak jayanya, wilayah kerajaannya membentang dari tepian sungai Nil hingga sungai Eufrat di Irak. Pada masa Daud ini, Masjid al-Aqsha kembali dibangun.

922-800 SM

Nabi Daud kemudian digantikan putranya, Nabi Sulaiman AS. Sepeninggal Sulaiman, Israil dilanda perang saudara yang berlarut-larut. Akhirnya, kerajaan itu terbelah menjadi dua, yakni bagian utara bernama Israel beribu kota di Samaria. Adapun bagian selatan bernama Yehuda, beribu kota di Yerusalem.

800-600 SM

Bani Israil melenceng dari ajaran tauhid. Allah SWT menurunkan azab kepada mereka. Kerajaan Israel hancur usai diserang kerajaan Asyiria. Peristiwa ini diabadikan pula dalam Alquran surah al-Maidah, serta Injil pada Kitab Raja-raja pertama 14:15, dan Kitab Raja-raja kedua 17:18.

600-500 SM

Kerajaan Yehuda dihancurkan lewat tangan Nebukhadnezzar II dari Babilonia. Dalam Injil Kitab Raja-raja kedua 23:27 dinyatakan, mereka tidak mempunyai hak lagi atas Yerusalem. Mereka diusir dari kota itu dan lalu dipenjara di Babilonia.

Dalam Alquran surah al-Israa’ disebutkan, Bani Israil dua kali berbuat keonaran. Dan setiap kali hal itu dilakukan, mereka akan dikalahkan. Dalam Taurat dan buku The Testament of Moses disebutkan, kekalahan pertama mereka alami saat berperang melawan Raja Assyiri Shalmanser II (Nebukhadnezzar II dari Babilonia) dari Timur. Adapun kekalahan kedua terjadi saat kedatangan kaisar Romawi Titus dan Hadrian, antara tahun 70-135 M. Roma menghancurkan sinagog (rumah ibadah orang Yahudi).


500-400 SM

Cyrus dari Persia meruntuhkan Babilonia dan mengizinkan bangsa Israel kembali ke Yerusalem.

330-322 SM

Israel diduduki Alexander Agung dari Macedonia (Yunani). Ia melakukan hellenisasi terhadap bangsa-bangsa taklukannya. Bahasa Yunani menjadi bahasa resmi Israel sehingga Injil pun mereka tulis dalam bahasa Yunani, dari sebelumnya berbahasa Ibrani.

300-190 SM

Yunani dikalahkan Romawi. Palestina pun dikuasai imperium Romawi.

1-33 M

Nabi Isa AS aktif berdakwah. Sejumlah tokoh Yahudi berkonspirasi dan memfitnah sang nabi sebagai "penghasut" yang membahayakan kuasa Romawi.

621 M

Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan Isra dan Mi’raj dari Masjidil Haram ke Masjid al-Aqsha, kemudian dilanjutkan ke Sidratul Muntaha.

638 M

Di bawah pemerintahan Khalifah Umar Ibnu Khattab RA, seluruh negeri Palestina dimerdekakan dari penjajah Romawi. Seterusnya seluruh penduduk Palestina, Muslim maupun non-Muslim, hidup aman di bawah pemerintahan khalifah. Kebebasan beragama dijamin sepenuhnya.

700-1000 M

Wilayah Islam meluas dari Asia Tengah, Afrika, hingga Spanyol. Di dalamnya, bangsa Yahudi mendapat peluang ekonomi dan intelektual yang sama.

1076-1200 M

Yerusalem dikepung oleh tentara salib dari Eropa. Tahun 1099, tentara Salib menguasai Jerusalem, namun kemudian Palestina berhasil direbut oleh panglima Islam, Shalahuddin al-Ayyubi, tahun 1187 M. Pemerintahan berlangsung hingga tahun 1260 M.

1798 M

Pemimpin Prancis, Napoleon Bonaparte mengatakan, bangsa Yahudi bisa diperalat bagi tujuan-tujuan Prancis di Timur Tengah. Wilayah itu secara resmi masih di bawah khalifah Islam.

9/09/2023

Apa misi para Rasul?

 Surah An-Nisa Ayat 165 dan tafsirnya menerangkan salah satu alasan Allah SWT mengutus para Rasul agar orang-orang durhaka dan kafir tidak membuat alasan di akhirat nanti.

رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا ﴿ ١٦٥

(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.


ayat ini menerangkan, Allah telah mengutus para Rasul yang sebagian telah dikisahkan dan sebagian lagi tidak, supaya mereka menyampaikan berita gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar di akhirat dan memberi peringatan kepada orang-orang kafir dan durhaka, bahwa mereka akan mendapat siksa dalam api neraka.


Dan kalau mereka Kami binasakan dengan suatu siksaan sebelum (Alquran itu diturunkan), tentulah mereka berkata, 

وَلَوْ أَنَّآ أَهْلَكْنَٰهُم بِعَذَابٍ مِّن قَبْلِهِۦ لَقَالُوا۟ رَبَّنَا لَوْلَآ أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولًا فَنَتَّبِعَ ءَايَٰتِكَ مِن قَبْلِ أَن نَّذِلَّ وَنَخْزَىٰ


"Ya Tuhan kami, mengapa tidak Engkau utus seorang Rasul kepada kami, sehingga kami mengikuti ayat-ayat-Mu sebelum kami menjadi hina dan rendah?" (QS Thaha: 134)

bahwa hikmah diutusnya para Rasul itu ialah untuk membatalkan hujah atau alasan orang kafir nanti pada hari kiamat.


Begitu juga dijelaskan ayat lainnya;

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

"Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: 'Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku'," (Surat Al Anbiya ayat 25).

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

"Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)." (Surat an Nahl ayat 36).

Menurut cendikiawan Muslim asal Turki, Muhammad Fethullah Gulen, ayat tersebut menunjukkan diutusnya para rasul adalah menghindarkan umat manusia dari penyembahan terhadap berhala, membimbing untuk beribadah kepada Allah, dan menjadi teladan bagi manusia. 

"Namun, berkenaan dengan tujuan diutusnya Rasulullah tampaknya agak sedikit berbeda dengan para Rasul lain. Beliau diutus menjadi rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil al alamin) dan sekaligus memikul tanggung jawab berdakwah menyeru segenap umat manusia dan jin menuju penghambaan diri kepada Allah," jelas Gulen dalam bukunya Cahaya Abadi Muhammad SAW Kebanggaan Umat Manusia.

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ هَدَى اللّٰهُ وَمِنْهُمْ مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلٰلَةُ ۗ فَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ (٣٦)

36. Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut [826] itu, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya [827]. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).

Allah mengutus Rasul-Nya untuk memisahkann antara haq dan batil

Quran Surat al-Furqan ayat 1: 

تَبٰرَكَ الَّذِيْ نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلٰى عَبْدِهٖ لِيَكُوْنَ لِلْعٰلَمِيْنَ نَذِيْرًا ۙ
Terjemahan
Mahasuci Allah yang telah menurunkan Furqan (Al-Qur'an) kepada hamba-Nya (Muhammad), agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam (jin dan manusia).

Mengenai misi suci Nabi Muhammad dan Quran itu dapat pula dibaca di Surat asy-Syura ayat 7

وَكَذٰلِكَ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ قُرْاٰنًا عَرَبِيًّا لِّتُنْذِرَ اُمَّ الْقُرٰى وَمَنْ حَوْلَهَا وَتُنْذِرَ يَوْمَ الْجَمْعِ لَا رَيْبَ فِيْهِ ۗفَرِيْقٌ فِى الْجَنَّةِ وَفَرِيْقٌ فِى السَّعِيْرِ
Terjemahan
Dan demikianlah Kami wahyukan Al-Qur'an kepadamu dalam bahasa Arab, agar engkau memberi peringatan kepada penduduk ibukota (Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) di sekelilingnya serta memberi peringatan tentang hari berkumpul (Kiamat) yang tidak diragukan adanya. Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka.

al-Qalam ayat 52, 

وَمَا هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعٰلَمِيْنَ ࣖ  52. 

Padahal (Al-Qur'an) itu tidak lain adalah peringatan bagi seluruh alam.

Tafsir
Padahal Al-Qur’an itu tidak lain adalah peringatan, nasihat dan pengajaran bagi seluruh alam.
Dalam ayat ini, Allah mengatakan dengan tegas bahwa Al-Qur'an itu berisi petunjuk dan pelajaran untuk kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat. Ia diperuntukkan bagi seluruh manusia di mana pun mereka berada, baik bagi penduduk negeri-negeri yang telah maju ataupun bagi penduduk negeri yang sedang berkembang atau terbelakang, baik untuk orang yang pintar maupun untuk orang yang bodoh, baik penduduk kota maupun penduduk desa, baik bagi orang yang kaya maupun bagi orang-orang yang miskin, dan sebagainya. Oleh karena itu, setiap orang dapat belajar memahami dan mempelajari Al-Qur'an, asal ia mempunyai sikap akan menerima setiap kebenaran yang disampaikan kepadanya. Jika seseorang belum mempunyai sikap yang demikian, walaupun hati dan pikirannya telah menerima kebenaran Al-Qur'an, namun hawa nafsunya memerintahkan agar ia menentang Al-Qur'an itu dan mengatakannya sebagai buatan manusia atau tuduhan lainnya.

Berapa banyak orang yang terus-menerus melawan kebenaran dan keadilan karena memperturutkan hawa nafsunya, seperti hawa nafsu ingin pangkat, kedudukan, harta yang banyak, takut dipencilkan oleh golongannya, takut meninggalkan kepercayaan nenek moyangnya, dan sebagainya. Betapa banyak orang yang bersedia membunuh teman, saudara kandung, bahkan ayah dan ibunya karena mengiuti hawa nafsunya.

Muhammad saw adalah seorang nabi dan rasul Allah yang telah terbukti kejujurannya, seorang yang dihormati dan dipercayai oleh kaumnya, adil sempurna akal pikirannya, tidak seorang pun yang mengingkarinya. Setelah beliau diangkat Allah sebagai nabi dan rasul, timbullah rasa benci itu, karena mengikuti Muhammad saw berarti meninggalkan pangkat, harta, kesenangan, dan kesewenang-wenangan

dan at-Takwir ayat 27, 

اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعٰلَمِيْنَۙ 27. (Al-Qur'an) itu tidak lain adalah peringatan bagi seluruh alam, 

Tafsir
Al-Qur’an itu tidak lain adalah peringatan bagi seluruh alam. Al-Qur’an menjelaskan segala sesuatu untuk kebaikan manusia, baik urusan dunia maupun akhirat; mereka yang berbuat baik akan mendapat pahala dan surga, dan yang berbuat jahat akan mendapat dosa dan neraka.
Kemudian Allah menyatakan bahwa Al-Qur'an itu tiada lain hanya peringatan bagi semesta alam, bagi mereka yang mempunyai hati cenderung kepada kebaikan. Namun demikian, tidak semua manusia dapat mengambil manfaat dari Al-Qur'an ini. Yang mengambil manfaat ialah siapa yang mau menempuh jalan yang lurus. Adapun orang yang menyimpang dari jalan itu, maka ia tidak dapat mengambil manfaat dari peringatan Al-Qur'an.

yakni misi suci untuk seluruh dunia!

Silahkan juga baca Quran Surat al-Bara’ah (at-Taubah) ayat 128: ”Sesungguhnya telah datang seorang Rasul kepada kamu dari golongan kamu. Dia merasa berat akan penderitaan kamu, penuh keinginannya terhadap keinginanmu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.”

Dengan ayat itu terbukti bahwa Nabi Muhammad menempatkan diri sebagai Rasul dan pemimpin umat. Merasa duka-cita atas penderitaan yang menimpa umat manusia. Baik berupa kerusakan kerohanian/moral dan keruntuhan budi dan pekerti ataupun cekcok yang tiada habis-habisnya di kalangan masyarakat. Begitu pula berupa kesulitan-kesulitan hidup/mencari nafkah di kalangan rakyat.

“Islam sebagai Fondasi Kebangkitan Nasional”

  Khutbah Jum’at “Islam sebagai Fondasi Kebangkitan Nasional” KHUTBAH PERTAMA Mukadimah إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَ...