6/07/2025

𝐈𝐝𝐮𝐥 𝐐𝐮𝐫𝐛𝐚𝐧: 𝐌𝐞𝐧𝐣𝐞𝐥𝐚𝐣𝐚𝐡𝐢 𝐓𝐫𝐚𝐧𝐬𝐞𝐧𝐝𝐞𝐧𝐬𝐢 𝐏𝐞𝐧𝐠𝐨𝐫𝐛𝐚𝐧𝐚𝐧 𝐌𝐞𝐧𝐮𝐣𝐮 𝐊𝐞𝐩𝐞𝐝𝐮𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐈𝐧𝐤𝐥𝐮𝐬𝐢𝐟



Idul Qurban, yang juga dikenal sebagai Idul Adha, adalah salah satu Hari Raya dalam Islam yang punya makna mendalam. Lebih dari sekadar penyembelihan hewan kurban, hari raya ini mengajarkan kita tentang 𝘛𝘳𝘢𝘯𝘴𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘴𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘰𝘳𝘣𝘢𝘯𝘢𝘯 dan pentingnya 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘮𝘣𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘦𝘥𝘶𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘬𝘭𝘶𝘴𝘪𝘧 di tengah masyarakat.

𝐌𝐚𝐤𝐧𝐚 𝐓𝐫𝐚𝐧𝐬𝐞𝐧𝐝𝐞𝐧𝐬𝐢 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐏𝐞𝐧𝐠𝐨𝐫𝐛𝐚𝐧𝐚𝐧

Inti dari Idul Qurban terletak pada kisah Nabi Ibrahim AS yang bersedia mengorbankan putranya, Ismail AS, sebagai bentuk ketaatan mutlak kepada Allah SWT. Peristiwa ini bukan tentang tindakan penyembelihan itu sendiri, melainkan tentang 𝘬𝘦𝘪𝘬𝘩𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘵𝘪, 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘣𝘢𝘳𝘢𝘯, dan 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 kepada kehendak Ilahi. Pengorbanan ini melampaui batas materi dan duniawi, membawa kita pada pemahaman tentang 𝘯𝘪𝘭𝘢𝘪-𝘯𝘪𝘭𝘢𝘪 𝘴𝘱𝘪𝘳𝘪𝘵𝘶𝘢𝘭 yang lebih tinggi. Ini adalah pengingat bahwa segala sesuatu yang kita miliki sejatinya adalah titipan dari Tuhan, dan kesediaan untuk melepaskannya demi ketaatan adalah bentuk ibadah tertinggi.

Pengorbanan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan Ismail mengajarkan kita bahwa ketaatan sejati kadang menuntut kita untuk melepaskan hal-hal yang paling kita cintai. Namun, di balik pengorbanan tersebut, terdapat 𝘫𝘢𝘯𝘫𝘪 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘩𝘢𝘯 dan 𝘬𝘦𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘐𝘭𝘢𝘩𝘪. Ini adalah esensi transendensi: melampaui batasan diri dan duniawi untuk mencapai sesuatu yang lebih besar dan abadi. Inilah makna kurban yang secara harfiah bermakna "mendekat".

𝐃𝐚𝐫𝐢 𝐊𝐞𝐭𝐚𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐈𝐧𝐝𝐢𝐯𝐢𝐝𝐮 𝐌𝐞𝐧𝐮𝐣𝐮 𝐊𝐞𝐩𝐞𝐝𝐮𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐒𝐨𝐬𝐢𝐚𝐥

Aspek penting lain dari Idul Qurban adalah distribusi daging kurban kepada mereka yang membutuhkan. Setelah penyembelihan, daging dibagi menjadi tiga bagian: sepertiga untuk yang berkurban dan keluarganya, sepertiga untuk kerabat dan tetangga, dan sepertiga untuk fakir miskin. Praktik ini secara nyata menunjukkan transisi dari pengorbanan personal (ketaatan individu) menuju aksi sosial.

Pembagian daging kurban ini bukan sekadar rutinitas, melainkan wujud nyata dari 𝘴𝘰𝘭𝘪𝘥𝘢𝘳𝘪𝘵𝘢𝘴 dan 𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵𝘪. Ini adalah jembatan yang menghubungkan mereka yang mampu dengan mereka yang kurang beruntung, memastikan bahwa kegembiraan Idul Qurban juga dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Dengan berbagi, kita tidak hanya memenuhi syariat, tetapi juga 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘳𝘬𝘶𝘢𝘵 𝘪𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘴𝘰𝘴𝘪𝘢𝘭 dan 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘳𝘢𝘯𝘨𝘪 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯. 

𝐌𝐞𝐧𝐮𝐦𝐛𝐮𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐊𝐞𝐩𝐞𝐝𝐮𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐈𝐧𝐤𝐥𝐮𝐬𝐢𝐟

𝘒𝘰𝘯𝘴𝘦𝘱 𝘬𝘦𝘱𝘦𝘥𝘶𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘬𝘭𝘶𝘴𝘪𝘧 menjadi sangat relevan dalam konteks Idul Qurban. Inklusivitas berarti merangkul semua, tanpa memandang latar belakang, status sosial, atau keyakinan. Daging kurban dibagikan kepada siapa saja yang membutuhkan, tanpa diskriminasi. Ini adalah manifestasi dari ajaran Islam yang mengedepankan 𝘳𝘢𝘩𝘮𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘦𝘴𝘵𝘢 𝘢𝘭𝘢𝘮. 

Idul Qurban mendorong kita untuk melihat melampaui lingkaran terdekat kita dan menumbuhkan kesadaran akan kebutuhan orang lain. Ini adalah panggilan untuk berbagi 𝘳𝘦𝘻𝘦𝘬𝘪, meringankan beban, dan  kebahagiaan. Kepedulian yang inklusif berarti bahwa semangat pengorbanan tidak hanya berhenti pada ketaatan ritual, tetapi meresap menjadi gaya hidup yang peduli terhadap sesama.

𝐈𝐝𝐮𝐥 𝐐𝐮𝐫𝐛𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐧 𝐓𝐚𝐧𝐭𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐙𝐚𝐦𝐚𝐧

Di era modern, semangat Idul Qurban memiliki relevansi yang semakin besar. Di tengah hiruk pikuk materialisme dan individualisme, Idul Qurban mengingatkan kita akan pentingnya berbagi dan peduli terhadap sesama. Perayaan ini mengajak kita untuk merefleksikan kembali makna sejati dari kekayaan—bukan hanya yang bersifat materi, tetapi juga kekayaan hati dan kemurahan jiwa. 

Dengan memahami dan mengamalkan nilai-nilai transendensi pengorbanan dan kepedulian yang inklusif, Idul Qurban dapat menjadi momentum untuk memperkuat persatuan, menumbuhkan empati, dan membangun masyarakat yang lebih adil dan beradab. Ini adalah ajakan untuk tidak hanya berkurban dengan harta, tetapi juga 𝐛𝐞𝐫𝐤𝐮𝐫𝐛𝐚𝐧 dengan waktu, tenaga, dan pikiran untuk kebaikan bersama.

#iduladha #idulqurban #hewankurban #pengorbanan #inklusif #kepedulian 

6/06/2025

Mengenal Ustadz Yahya Waloni


 
Ustadz Yahya Waloni 

Dari Pendeta Kristen Menjadi Pendakwah Islam Kontroversial

Ustadz Muhammad Yahya Waloni adalah salah satu tokoh publik yang cukup dikenal di Indonesia karena kisah hidupnya yang unik dan kontroversial. Lahir pada 30 November 1970 di Manado, Sulawesi Utara, ia mengawali kehidupannya sebagai seorang Kristen taat dan bahkan pernah menjadi pendeta serta rektor di Sekolah Tinggi Theologia Calvinis Ebenhaezer, Sorong.

Perjalanan Spiritual: Dari Pendeta ke Mualaf

Titik balik dalam hidupnya terjadi pada tahun 2006 ketika Yahya Waloni memutuskan untuk memeluk agama Islam bersama istrinya. Proses mualafnya dibimbing oleh Komarudin Sofa, seorang pengurus Nahdlatul Ulama di Tolitoli, Sulawesi Tengah. Setelah menjadi Muslim, ia mengganti namanya menjadi Muhammad Yahya Waloni, dan nama keluarganya pun berubah mengikuti ajaran Islam. Keputusan ini membawa perubahan besar dalam hidupnya, baik secara pribadi maupun publik.

Gaya Ceramah dan Kontroversi

Setelah memeluk Islam, Yahya Waloni aktif berdakwah. Ia dikenal luas karena gaya bicaranya yang lantang, blak-blakan, dan penuh semangat. Ceramah-ceramahnya sering kali mengangkat isu-isu sensitif seperti hubungan antaragama, pemerintahan, dan kehidupan sosial umat Muslim di Indonesia.

Namun, gaya ceramahnya yang keras tidak jarang memicu kontroversi. Pada tahun 2022, ia dijatuhi hukuman lima bulan penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan karena dianggap melakukan ujaran kebencian terhadap agama lain.

Wafat di Tengah Dakwah

Ustadz Yahya Waloni wafat pada 6 Juni 2025 ketika sedang menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Darul Falah, Makassar. Di tengah khutbah kedua, ia tiba-tiba terjatuh dan segera dilarikan ke rumah sakit. Sayangnya, nyawanya tidak tertolong. Berdasarkan keterangan keluarganya, Yahya sebelumnya sudah mengeluh sakit kepala dan memiliki riwayat penyakit jantung.

Warisan dan Kenangan

Yahya Waloni meninggalkan seorang istri dan tiga anak. Selain itu, ia juga meninggalkan jejak kuat dalam dunia dakwah Indonesia — baik dari sisi inspiratifnya sebagai seorang mualaf, maupun perdebatan yang ditimbulkan dari isi ceramahnya. Bagi sebagian orang, ia adalah simbol keberanian dalam menyuarakan keyakinan. Namun, bagi yang lain, ia adalah sosok yang perlu diwaspadai karena retorika yang memicu ketegangan.

Yahya Waloni adalah contoh nyata bagaimana perjalanan hidup spiritual seseorang dapat mengubah arah hidup sepenuhnya. Ia meninggalkan warisan cerita tentang pencarian kebenaran, perubahan keyakinan, dan dinamika peran publik dalam masyarakat religius yang plural seperti Indonesia.

#yahyawaloni 

6/04/2025

Tips Mudah Memperkirakan Berat Daging Sapi

Mengetahui perkiraan berat daging sapi sangat penting, terutama saat hendak membeli, menjual, atau mempersiapkan hewan kurban. Berikut ini adalah beberapa tips praktis untuk memperkirakan berat daging sapi, baik saat masih hidup maupun setelah disembelih.

1. Gunakan Ukuran Tubuh untuk Menghitung Berat Hidup
Jika sapi masih hidup, kamu bisa memperkirakan berat badannya menggunakan ukuran lingkar dada dan panjang tubuh. Rumus yang sering digunakan adalah rumus Schaeffer:

 𝐑𝐮𝐦𝐮𝐬:

Berat Hidup (kg) = (Lingkar Dada² × Panjang Badan) / 10.815
 Keterangan:

Lingkar dada: Diukur di belakang kaki depan (dalam cm)

Panjang badan: Dari bahu hingga pangkal ekor (dalam cm)

𝐂𝐨𝐧𝐭𝐨𝐡:
Jika lingkar dada 180 cm dan panjang badan 150 cm:

Berat hidup = (180² × 150) / 10.815 ≈ 449 kg
2. Hitung Perkiraan Berat Daging Bersih
Setelah sapi disembelih, tidak semua bagian bisa dikonsumsi. Umumnya, daging bersih hanya sekitar 40–45% dari berat hidup sapi.

 𝐏𝐞𝐫𝐤𝐢𝐫𝐚𝐚𝐧 𝐊𝐚𝐬𝐚𝐫:

Berat karkas (tanpa kepala, kulit, isi perut): ±50–55% dari berat hidup

Daging bersih siap konsumsi: ±40–45% dari berat hidup

 Contoh:
Sapi dengan berat hidup 500 kg →

Berat karkas: ±250–275 kg

Berat daging bersih: ±200–225 kg

3. Gunakan Tabel Estimasi Cepat
Berikut tabel cepat sebagai panduan praktis:

Berat Hidup (kg) Estimasi Daging Bersih (kg)
400 160–180
500 200–225
600 240–270
700 280–315

𝐓𝐢𝐩𝐬 𝐓𝐚𝐦𝐛𝐚𝐡𝐚𝐧

✅ Jenis sapi seperti limousin dan simental cenderung menghasilkan lebih banyak daging.
✅ Sapi yang terlalu tua atau kurus akan menghasilkan daging lebih sedikit.
✅ Gunakan pita ukur khusus sapi agar hasil lebih akurat dan praktis.

Dengan tips di atas, kamu bisa lebih yakin memperkirakan berapa banyak daging yang bisa didapat dari seekor sapi, baik untuk kurban, pesta, atau keperluan usaha.

#tips #beratSapi #beratdagingqurban

6/02/2025

Khutbah idul Adha: Pengorbanan untuk Istiqomah pada kebenaran

 KHUTBAH PERTAMA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الْـحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْأَعْيَادَ لِلْمُسْلِمِينَ فُرْصَةً لِلذِّكْرِ وَالشُّكْرِ، وَشَهَادَةً عَلَى نِعْمَةِ التَّوْحِيدِ وَالْإِيمَانِ. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَهْدِيهِ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ نَفْسِيَ الْخَاطِئَةَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْـحَمْدُ.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan kita berbagai kenikmatan dan karunia, terutama nikmat iman dan Islam. Pada hari ini kita berkumpul dalam rangka merayakan salah satu hari besar umat Islam, yakni Idul Adha, yang dikenal juga sebagai Hari Raya Kurban.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beserta keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh umatnya yang senantiasa mengikuti petunjuk beliau hingga hari kiamat.

Saya sebagai khatib, berwasiat kepada diri saya sendiri dan kepada jama'ah sekalian : “Bertakwalah kepada Allah, Bertakwalah, karena derajat kita ditentukan oleh derajat ketakwaan kita kepada Allah SWT.

Jama’ah yang dirahmati Allah,

Idul Adha bukan sekadar perayaan tahunan. Ia adalah pengingat tentang pengorbanan yang begitu agung dari seorang hamba Allah yang luar biasa: Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam. Seorang hamba yang Allah muliakan, tidak hanya karena ketakwaannya, tetapi karena kerelaannya mengorbankan segalanya demi kebenaran dan keimanan.

Bayangkan, seorang ayah yang lama menanti kehadiran seorang anak, akhirnya dianugerahi putra yang saleh, Ismail. Lalu Allah memerintahkan untuk menyembelih anak itu. Tanpa ragu, Nabi Ibrahim menjawab seruan itu. Inilah bentuk ketaatan total — pengorbanan atas apa yang paling dicintai demi memenuhi perintah Allah.

Allah berfirman:

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ ۝ وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ ۝ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

“Maka tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya, Kami panggillah dia: 'Wahai Ibrahim! Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu.' Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”

(QS. As-Saffat: 103-105)

Karena pengorbanannya itu, Allah memberi gelar mulia kepada Ibrahim:

وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

“Dan Allah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya.”

(QS. An-Nisa: 125)

Ma’asyiral Muslimin,

Pengorbanan Ibrahim bukan hanya peristiwa masa lalu. Ia adalah teladan abadi bagi kita semua. Sebab hari ini, kita juga menghadapi ujian dan tantangan dalam mempertahankan iman dan berjalan di atas kebenaran. Tidak jarang, jalan kebenaran terasa sunyi, berat, dan penuh rintangan.

Kita hidup di zaman di mana menjaga kebenaran adalah perjuangan. Menjaga kejujuran di tengah budaya manipulasi. Menjaga amanah di tengah maraknya pengkhianatan. Menjaga kesucian diri di tengah arus pergaulan bebas. Menjaga ibadah di tengah kesibukan duniawi. Semua itu membutuhkan pengorbanan.

Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Akan datang kepada manusia suatu zaman, di mana orang yang sabar di atas agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.”

(HR. Tirmidzi)

Maka wahai kaum muslimin, jangan heran jika kebenaran terasa sepi, jika ketaatan terasa berat. Karena memang jalan menuju surga tidak pernah mudah. Dan karena itulah, Allah menjanjikan balasan besar bagi yang bertahan.


KHUTBAH KEDUA

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillaahil hamd.

Ma’asyiral Muslimin yang dimuliakan Allah,

Bertahan dalam kebenaran bukanlah perkara ringan. Ia menuntut pengorbanan harta, waktu, tenaga, bahkan perasaan. Bisa jadi kita kehilangan teman karena prinsip yang kita pegang. Mungkin kita tersingkir dari jabatan karena tidak mau kompromi dalam kemaksiatan. Namun yakinlah, tidak ada satu pun yang sia-sia di sisi Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata): ‘Jangan takut, jangan bersedih, dan bergembiralah dengan surga yang dijanjikan untuk kalian.’”

(QS. Fussilat: 30)

Imam Al-Ghazali rahimahullah berkata:

“Banyak manusia yang mengetahui kebenaran, tetapi hanya sedikit yang mau menempuhnya, karena jalan kebenaran adalah jalan sunyi yang membutuhkan pengorbanan.”

Jama’ah Idul Adha yang dirahmati Allah,

Hari raya kurban mengajarkan kepada kita semua bahwa iman itu butuh bukti, dan bukti itu adalah pengorbanan. Ibadah kurban hari ini adalah simbol, tapi makna yang lebih dalam adalah kesiapan kita untuk mengorbankan dunia demi akhirat, nafsu demi iman, kenyamanan demi keridhaan Allah.

Karena itu, mari kita koreksi diri:

Sudahkah kita berani meninggalkan yang haram demi ridha Allah?

Sudahkah kita mengorbankan sebagian harta kita di jalan dakwah?

Sudahkah kita berani jujur walau mengorbankan keuntungan dunia?

Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillaahil hamd.

Idul Adha adalah panggilan. Bukan hanya untuk menyembelih hewan kurban, tapi menyembelih kecintaan terhadap dunia yang melampaui kecintaan kepada Allah.

اللهم اجعلنا من عبـادك الذين يقيمون دينك، ويثبتون على الحق، ويضحون في سبيلك، ويتبعون سنة نبيك، اللهم آمين.

أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم، فاستغفروه، إنه هو الغفور الرحيم.

Doa Penutup (Setelah Khutbah)

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ، وَثَبِّتْنَا عَلَى طَاعَتِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ، الَّذِينَ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَا

رَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.


#khutbahjumat #khutbahieduladha #kajian

5/30/2025

Pergaulan dalam Islam – Pentingnya Memilih Teman yang Baik

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat iman, Islam, dan kesehatan sehingga kita bisa berkumpul dalam majelis ilmu ini. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi besar kita, Muhammad SAW, kepada keluarganya, sahabatnya, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti sunnah beliau hingga akhir zaman.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Pada kesempatan kali ini, mari kita renungkan sejenak tentang pentingnya pergaulan dan memilih teman yang baik dalam Islam. Karena, siapa teman kita, sangat menentukan bagaimana kepribadian, akhlak, dan bahkan akidah kita akan terbentuk.


1. Hadits tentang pengaruh teman

Rasulullah SAW bersabda:

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang itu tergantung agama (gaya hidup) temannya. Maka hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan siapa yang dijadikan teman.”
(HR. Abu Dawud, Tirmidzi – hasan shahih)

📌 Hadits ini mengingatkan kita bahwa teman dekat memiliki pengaruh besar terhadap keimanan dan akhlak kita. Kalau kita berteman dengan orang yang rajin salat, jujur, dan santun, maka kita akan terdorong untuk menjadi seperti itu. Tapi kalau kita dekat dengan orang yang suka berkata kotor, malas ibadah, atau bahkan jauh dari agama, maka lama-lama kita bisa ikut terbawa.


2. Hadits tentang perumpamaan teman baik dan buruk

Rasulullah SAW juga memberi perumpamaan yang sangat indah:

مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالجَلِيسِ السَّوْءِ، كَحَامِلِ المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيرِ، فَحَامِلُ المِسْكِ، إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الكِيرِ، إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk itu seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Penjual minyak wangi bisa memberimu minyak, atau kamu bisa membelinya, atau minimal kamu mencium aroma wangi darinya. Sedangkan pandai besi bisa membakar bajumu, atau minimal kamu mencium bau yang tidak sedap darinya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

📌 Teman baik akan selalu memberikan pengaruh positif, walau sedikit. Sedangkan teman buruk, sekalipun kita tidak langsung ikut melakukan keburukannya, kita tetap akan terkena dampaknya—baik dari sisi akhlak, omongan, atau bahkan pandangan orang lain terhadap kita.


3. Hadits tentang menjaga lisan dalam pergaulan

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ، فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

📌 Dalam pergaulan, terutama di era media sosial seperti sekarang, adab berbicara sangat penting. Jangan sampai kita terjebak dalam ghibah, ujaran kebencian, atau menyakiti orang lain dengan komentar pedas.


Penutup

Hadirin yang dirahmati Allah,

Mari kita perbaiki pergaulan kita. Carilah teman yang bisa mengajak kita lebih dekat kepada Allah, bukan yang menjauhkan. Ingat bahwa akhlak, iman, dan masa depan kita sangat dipengaruhi oleh siapa yang setiap hari berinteraksi dengan kita.

Semoga Allah SWT senantiasa memberi kita taufik untuk memilih lingkungan yang baik dan menjadikan kita teman yang membawa kebaikan bagi orang lain.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 

#kultum #materikultum #kajian #pergaulan #remaja


Selamat anda sukses menambah wawasan anda dengan membaca. Teruskan dengan membaca artikel lainnya. Baca juga:

Manusia sebagai khalifah dan sifatnya yang merusak dan menumpahkan darah sesamanya.

10/08/2024

Amanah kepada manusia

 Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

إِنَّا عَرَضۡنَا ٱلۡأَمَانَةَ عَلَى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱلۡجِبَالِ فَأَبَيۡنَ أَن يَحۡمِلۡنَهَا وَأَشۡفَقۡنَ مِنۡهَا وَحَمَلَهَا ٱلۡإِنسَٰنُ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

"Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh,"

(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 72)

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَلَقَدۡ كَتَبۡنَا فِي ٱلزَّبُورِ مِنۢ بَعۡدِ ٱلذِّكۡرِ أَنَّ ٱلۡأَرۡضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ ٱلصَّٰلِحُونَ

"Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (tertulis) di dalam Az-Zikr (Lauh Mahfuz), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh."

(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 105)


10/07/2024

BERMAKSIAT DIKALA SEPI


 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Ada seseorang yang ketika di hadapan orang banyak terlihat alim dan shalih. Namun kala sendirian, saat sepi, ia menjadi orang yang menerjang larangan Allah.


Inilah yang dapat dilihat dari para penggiat dunia maya. Ketika di keramaian atau dari komentar ia di dunia maya, ia bisa berlaku sebagai seorang alim dan shalih. Namun bukan berarti ketika dalam kesepian, ia seperti itu pula. Ketika sendirian browsing internet, ia sering bermaksiat. Pandangan dan pendengarannya tidak bisa ia jaga.


Keadaan semacam itu telah disinggung oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam jauh-jauh hari. Dalam hadits dalam salah satu kitab sunan disebutkan,


عَنْ ثَوْبَانَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ : « لأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا ». قَالَ ثَوْبَانُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لاَ نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لاَ نَعْلَمُ. قَالَ : « أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا »


Dari Tsauban, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, ia berkata, "Sungguh aku mengetahui suatu kaum dari umatku datang pada hari kiamat dengan banyak kebaikan semisal Gunung Tihamah. Namun Allah menjadikan kebaikan tersebut menjadi debu yang bertebaran." Tsauban berkata, "Wahai Rasulullah, coba sebutkan sifat-sifat mereka pada kami supaya kami tidak menjadi seperti mereka sedangkan kami tidak mengetahuinya."


Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Adapun mereka adalah saudara kalian. Kulit mereka sama dengan kulit kalian. Mereka menghidupkan malam (dengan ibadah) seperti kalian. Akan tetapi mereka adalah kaum yang jika bersepian mereka merobek tirai untuk bisa bermaksiat pada Allah." (HR. Ibnu Majah no. 4245). Ibnu Majah membawakan hadits di atas dalam Bab "Mengingat Dosa".

Hadits di atas semakna dengan ayat,

يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَى مِنَ الْقَوْلِ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا

"Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan." (QS. An-Nisa': 108). 

Walaupun dalam ayat tidak disebutkan tentang hancurnya amalan.

Ada beberapa makna dari hadits Tsauban yang kami sebutkan di atas:


Pertama:

Hadits tersebut menunjukkan keadaan orang munafik, walaupun kemunafikan yang ia perbuat adalah kemunafikan dari sisi amal, bukan i'tiqad (keyakinan). Sedangkan hadits Abu Hurairah berikut dimaksudkan pada kaum muslimin.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ أُمَّتِى مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ ، وَإِنَّ مِنَ الْمَجَانَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ ، فَيَقُولَ يَا فُلاَنُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا ، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ

"Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan dalam bermaksiat. Yaitu seseorang yang telah berbuat dosa di malam hari lantas di pagi harinya ia berkata bahwa ia telah berbuat dosa ini dan itu padahal Allah telah menutupi dosanya. Pada malam harinya, Allah telah menutupi aibnya, namun di pagi harinya ia membuka sendiri aib yang telah Allah tutupi." (HR. Bukhari no. 6069 dan Muslim no. 2990)


Ibnu Hajar Al-Haitami mengatakan "Termasuk dosa besar adalah dosa yang dilakukan oleh orang yang menampakkan keshalihan, lantas ia menerjang larangan Allah. Walau dosa yang diterjang adalah dosa kecil dan dilakukan di kesepian.

Ada hadits dari Ibnu Majah dengan sanad berisi perawi tsiqah (kredibel) dari Tsauban radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, 

"Sungguh aku mengetahui suatu kaum dari umatku datang pada hari kiamat dengan banyak kebaikan …" 

Karena kebiasaan orang shalih adalah menampakkan lahiriyah. Kalau maksiat dilakukan oleh orang shalih walaupun sembunyi-sembunyi, tentu mudharatnya besar dan akan mengelabui kaum muslimin. Maksiat yang orang shalih terjang tersebut adalah tanda hilangnya ketakwaan dan rasa takutnya pada Allah."


Kedua:

Yang dimaksud dalam hadits Tsauban dengan bersendirian dalam maksiat pada Allah tidak berarti maksiat tersebut dilakukan di rumah seorang diri, tanpa ada yang melihat. Bahkan boleh jadi maksiat tersebut dilakukan dengan jama'ahnya atau orang yang setipe dengannya.


Yang dimaksud dalam hadits bukanlah melakukan maksiat sembunyi-sembunyi. Namun ketika ada kesempatan baginya untuk bermaksiat, ia menerjangnya. 


Ketiga:

Makna hadits Tsauban adalah bagi orang yang menghalalkan dosa atau menganggap remeh dosa tersebut.


Syaikh Muhammad Al-Mukhtar Asy-Syinqithi berkata, ada orang yang melakukan maksiat sembunyi-sembunyi namun penuh penyesalan. Orang tersebut bukanlah orang yang merobek tabir untuk menerjang yang haram. Karena asalnya orang semacam itu mengagungkan syari'at Allah. Namun ia terkalahkan dengan syahwatnya. Adapun yang bermaksiat lainnya, ia melakukan maksiat dalam keadaan berani (menganggap remeh dosa). Itulah yang membuat amalannya terhapus.


WaLLAAHUa'lam

#hadits #kajianislami #hartsunamedia

#trending #viralnews

“Islam sebagai Fondasi Kebangkitan Nasional”

  Khutbah Jum’at “Islam sebagai Fondasi Kebangkitan Nasional” KHUTBAH PERTAMA Mukadimah إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَ...