1/08/2021

Makna Hadzal Qur'ana Mahjura (Al Furqon : 30)

 

Dalam Surat Al Furqon ayat 30, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan".  

Makna Al Qur'an yang ditinggalkan menurut Ibnul Qoyyim AL Jauziyah adalah:dalam kitabnya yang berjudul, ‘al-Fawā`id(hal. 83)’, menerangkan bahwa salah satu bentuk pengacuhan Alquran adalah sebagai berikut: Pertama, tidak mendengarkan, dan mengimaninya. Kedua, tidak mengamalkan, dan berhenti pada halal-haramnya, meski mengimani. Ketiga, tidak menjadikannya sebagai sumber hukum baik dalam masalah pokok maupun cabang. Keempat, tidak mentadabburi, memahami apa yang dimaksudkan oleh Pembicaranya(Allah). Kelima, tidak menjadikannya sebagai obat untuk semua penyakit hati.

Menurut Quraisy Shihab, Rasulullah mengadukan kesombongan kaumnya yang dia rasakan kepada Allah dengan mengatakan, "Sesungguhnya mereka telah meninggalkan al-Qur'ân dan mencampakkannya. Mereka juga makin menjadi dengan ketaksudian, kesombongan dan permusuhan yang ada pada mereka."

Ibnu Katsir berkata:

Demikian itu karena orang-orang musyrik tidak mau mendengar Al-Qur'an dengan penuh ketaatan, tidak mau pula mendengarnya. Makna ayat ini sama dengan apa yang disebutkan oleh Firman-Nya dalam ayat lain:
{وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ}
Dan orang-orang yang kafir berkata, "Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al-Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya. (Fussilat: 26), hingga akhir ayat.
Apabila dibacakan Al-Qur'an kepada mereka, mereka melakukan hiruk-pikuk dan banyak berbicara tentang hal lainnya hingga orang-orang tidak dapat mendengarkannya. Ini merupakan salah satu sikap yang meng­gambarkan ketidakacuhan kepada Al-Qur'an, tidak mau beriman kepada Al-Qur'an serta tidak membenarkannya, termasuk sikap meninggalkan Al-Qur'an. Termasuk sikap tidak mengacuhkan Al-Qur'an ialah tidak mau merenungkan dan memahami maknanya. Termasuk ke dalam pengertian tidak mengacuhkan Al-Qur'an ialah tidak mengamalkannya dan tidak melaksanakan perintah-perintahnya, serta tidak meninggalkan larangan-larangannya. Termasuk pula ke dalam pengertian tidak mengacuhkan Al-Qur'an ialah mengesampingkannya, lalu menuju kepada yang lainnya, baik berupa syair, pendapat, nyanyian atau main-main, cerita atau pun metode yang diambil bukan darinya.
Semoga Allah Yang Maha Penganugerah lagi Mahakuasa atas segala sesuatu menyelamatkan kita dari hal-hal yang membuat-Nya murka, dan menggerakkan kita kepada hal-hal yang diridai oleh-Nya, seperti meng­hafal Al-Qur'an-Nya, memahaminya, dan mengamalkan apa yang di­kandungnya di tengah malam dan siang hari, sesuai dengan cara yang disukai dan diridai-Nya. Sesungguhnya Dia Mahamulia lagi Maha Pemberi.

 


الحكم على حديث: ( سيأتي زمان على أمتي ...)


 

السؤال: أخ من العراق يقول يوسف جوهر عمر بعث بسؤال يقول فيه: قال رسول الله ﷺ: سيأتي زمان على أمتي لا يبقى من الإسلام إلا اسمه، ومن الإيمان إلا رسمه، ومن القرآن إلا حرفه، همهم بطونهم دينهم دراهمهم قبلتهم نساؤهم لا بالقليل يقنعون ولا بالكثير يشبعون السؤال: هل الحديث صحيح؟ وهل يدل على اقتراب يوم القيامة؟ 

الجواب: لا أعلم صحة هذا الأثر ولكن جاء معنى بعضه عن علي أنه قال: «يأتي على الناس زمان لا يبقى فيه من الإسلام إلا اسمه ولا من القرآن إلا رسمه، مساجدهم عامرة وهي خراب من الهدى، علماؤهم شر من تحت أديم السماء، من عندهم تخرج الفتنة وفيهم تعود » هذا مروي عن علي رضي الله عنه وأرضاه، وفي صحته نظر وهذا معناه صحيح فإن الأمور في آخر الزمان تتغير ولا يبقى من الإسلام إلا اسمه ومن القرآن إلا رسمه؛ لأنهم لا يعملون به، ثم يرفع إذا لم يبق إلا رسمه يرفع في آخر الزمان وهو من أشراط الساعة، و يأتي على الناس زمان لا يقال فيه: الله الله ولا يقال فيه: لا إله إلا الله كما صحت به الأحاديث عن رسول الله عليه الصلاة والسلام.
فهذا المعنى صحيح، هذا المعنى وإن كان الأثر فيه نظر لكن معناه صحيح؛ لأنه تتغير الأحوال في آخر الزمان ويقل العلم والفضل كما قال ﷺ: يتقارب الزمان ويظهر الجهل ويقل العلم ويفشو الزنا ويشرب الخمر ويكثر الهرج. قيل: يا رسول الله! ما الهرج؟ قال: القتل القتل كل هذا واقع كما أخبر به النبي عليه الصلاة والسلام، وكذلك في آخر الزمان تعمر المساجد باللبن بالحجر بالأسمنت بأنواع العمارة ولكن يقل قاصدوها والمصلون فيها لقلة الرغبة في الخير وقلة الإيمان وضعف الوازع الإيماني.
كذلك يوجد علماء لكن منحرفون عن الهدى في آخر الزمان، وقد وجدوا في هذا الزمان وفي غير هذا الزمان ولكن يزداد الأمر شدة يكونون علماء زور علماء ضلالة، يدعون إلى الفساد والشر، وإلى الشرك بالله عز وجل وإلى البدع والخرافات، فهم علماء في الاسم ولكن الحقيقة ليسوا بعلماء لضلالهم وبعدهم عن الهدى، نسأل الله السلامة. نعم.

المقدم: جزاكم الله خيراً.

4/27/2016

STIGMATISASI WAHABI, UPAYA AMPUTASI SEJARAH BANGSA

Wahabi, yang fisikeli dinisbat pada kaum berjenggot dan bercadar tiba-tiba saja menjadi isu yang harus digemakan, tidak tanggung-tanggung mereka langsung meng-akuisi "nusantara" dan segera menisbat yang tidak se'aliran dengan mereka sebagai bukan "nusantara". Kemudian istilah wahabi dicipta "sebagai" furqon antara nusantara dan bukan nusantara yang bermakna bukan nusantara berarti tidak nasionalis, tidak layak mendiami nusantara.

Senyatanya, jika menilik sejarah bangsa, wahhabi itu ada setua bangsa ini, meski harus dibuat dafinisi wahhabi itu sendiri. Jika yang disebut wahhabi adalah madzhab pemikiran Islam yang bersumber dari Ibnu Taymiyah dan Syeikh Abdul Wahhab itu sendiri maka sejatinya wahhabi sudah sekian lama menjadi bagian "nusantara" ini. Bahkan jika Islam "tradisional" yang bermadzhab Asya'ariyah, Syafi'iyah dikembangkan oleh para wali yang hampir semuanya pendatang dari timur tengah, maka faham wahhabiyah justru dibawah oleh anak pribumi dari Timur tengah. Contohnya gerakan Kaum Paderi di Sumatra Barat, Haji Miskin Pandai Sikat (Agam) Haji Abdurrahman Piabang (Lubuk Limapuluh Koto), dan Haji Mohammad Haris Tuanku Lintau (Luhak Tanah Datar) adalah pemuda-pemuda asli ranah Minang. Mereka mulai membawakan purifikasi Islam sebagaimana dilakukan Syeikh Abdul Wahhab pada tahun 1801. Dan sejarah mencatat merekalah yang mempertahankan nusantara ini dari imperialisme Belanda dibawah Imam Bonjol dengan peperangan selama kurang lebih 30th.

Bahkan di Jawa, pemikiran wahhabi sudah masuk pada masa pemerintajan Paku Buwono IV, sekitar tahun 1788M, bahkan Sunan Bagus, sebutan lain PB IV tertarik dengan ajarah Wahhabi ini, meski kemudian Pemerintah Belanda mendesak agar orang-orang Wahabi itu diserahkan kepadanya. Pemerintah Belanda cukup tahu, apakah akibatnya bagi penjajahannya, jika faham Wahabi ini dikenal oleh rakyat.

Di masa pergerakan pun, para aktivis pergerakan Islam banyak didominasi oleh mereka yang cenderung dengan pemikiran Ibnu Taymiyah dan Syeikh Abdul Wahhab yang dianggap sebagai sumber utama ajaran Wahhabi, paling tidak mereka mengikut pemikiran Muhammad Abduh atau ataupun Jamaluddin AL Afghani dan Muh rasyid Ridho, secara akidah mereka berkiblat kepada pemikiran Ibnu Taymiyah dan Syeikh ABdul Wahhab. Para aktivis ini kemudian banyak bergabung dalam Partai Masyumi.

Pun Soekarno pun pernah mengutarakan ketertarikannya terhadap "wahabi" ini. Kepada A. Hassan, Soekarno bercerita keinginannya membaca buku "Utusan Wahabi." Ia juga bercerita telah menerjemahkan buku biografi Ibnu Saud. "Bukan main hebatnya ini biografi! Saya jarang menjumpai biografi yang begitu menarik hati," ujar Bung Karno. Ia menuliskan dalam suratnya itu, "Bagi saya buku ini bukan saja satu ikhtiar ekonomi, tetapi adalah pula satu pengakuan, satu confenssion. Ia menggambarkan Ibnu Saud dan Wahhabism begitu rupa, mengkobar-kobarkan elemen amal, perbuatan begitu rupa hingga banyak kaum ‘tafakur’ dan kaum pengeramat Husain cs (Syiah) akan kehilangan akal nanti sama sekali,"

Muhammadiyah dengan gerkan purifikasi dengan slogan anti TBC, bisa dikatakan membawa spirit wahhabi, bahkan kalau kita menilik buku kuliah tauhidnya Yunahar Ilyas maka disana ada pembagian aqidah menjadi tiga Rububiyah, Uluhiyah dan Mulkiyah serta asma wa syifa, metode pengajaran tauhid khas wahhabi.

Stigmatisasi Wahhabi dahulu dan sekarang
Di Indonesia, stigma Wahabi pernah dilekatkan pada ormas-ormas Islam seperti Muhammadiyah, Al-Irsyad, dan Persatuan Islam (PERSIS). Tokoh-tokoh seperti KH Ahmad Dahlan, Syaikh Ahmad Soorkati, A. Hassan, dianggap sebagai pengusung paham Wahabi di Indonesia.
Pada masa yang lalu stigmatisasi wahhabi adalah upaya melanggenggang imperalisme. Hari ini stigmatiasi wahhabi tidak lebih dari upaya dari orang-orang yang merasa "minder" dan kala saing agar bisa memenangkan persaingan dengan lebih mudah, bahkan lebih dari itu ada motif duniawi, seperti "proyek" dan kekuasaan.

Wahhabi dalam konteks yang luas tidak bisa diidentifikasi oleh entitas tertentu, ciri pakaian tertentu atau ormas tertentu. Pun sebutan wahhabi atau yang lainnya sebenarnya sangat tidak begitu penting. Karena sesungguhnya yang terpenting adalah kita bisa beragama dengan kesalehan yang shohih, dan kejujuran dalam ucapan dan perbuatan. Ikhlas, menjauhi motif-motif dunia, baik harta, kekuasaan ataupun sanjungan. Kita menghargai perbedaan dalam beragama sepanjang bisa di pertanggungjawabkan. 

5/30/2015

Cintaku Diketok Palu




Sebetulnya apasih rahasia dari aktivitas pacaran kok bisa-bisanya membius para remaja, bahkan anak SD pun sudah tahu tentang aktivitas-aktivitas pacaran. Itu terbukti ketika Ustadz Burhan Sodiq menceritakan tentang seorang psikolog Jakarta ibu Elly Risman bikin kuisioner kepada anak-anak SD. Beliau memberi kesempatan kepada anak-anak untuk bertanya tentang dunia dewasa,
“Silahkan kamu bertanya tentang dunia dewasa yang kamu tidak tahu.. !!”
Kemudian ada seorang anak bertanya,
“Ibu saya mau tanya, bagaimana caranya agar ciuman tapi tidak hamil?”
Bayangkan anak SD, pertanyaannya sudah kayak gitu.
ya, silahkan mencium sumur, mungkin tidak akan hamil. Hehehe..

(Cintaku Diketok Palu, Wahono Wihan Wijaya) 

3/29/2015

Fatwa Syaikh Utsaimin Bahwa Bumi Tidak Bergerak.

Untuk masalah ini banyak orang bekomentar tanpa memperhatikan adab, terutama adab kepada ulama. Banyak yang menghujat Syaikh karena masalah ini, mereka sudah mengabaikan adab terhadap ulama, padahal ini hanya masalah kecil saja. Untuk lebih jelasnya ini nukilan dari perkataan Syaikh:
"Dhahirnya dalil-dalil syar'i menetapkan bahwa mataharilah yang berputar mengelilingi bumi dan perputarannya itulah y ang menyebabkan terjadinya siang dan malam di permukaan bumi, tidak ada hak bagi kita untuk melewati dhahirnya dalil ini kecuali dengana dalil yang lebih kuat dari hal itu yang memberi peluang bagi kita untuk mentakwilnya dari dhahirnya."
Jika Kita menyimak perkataan beliau ini maka bagi yanag mau terbuka cara berfikirnya serta memperhatikan adab terhadap ulama tentu bisa mencerna dengan baik. Yang pertama bahwa beliau adalah ulama agama. Tentu saja dalam menafsirkan ayat berdasarkan kapasitas beliau sebagai ulama, bukan astronom. Justru jika beliau menafsirkan dengan cara astronomi sementara beliau tidak begitu menguasai bidang itu sebagaimana beliau menguasai keilmuan agama, hal ini bisa menjadi cela.
Yang kedua, bahwa dalam ucapan beliau diatas sebenarnya sudah tersirat bahwa pandangan beliau bisa dianulir jika da dalil yang kuat yang menyanggahnya. Padahal sama-sama kita ketahui bahwa dalam menafsirkan masalah ilmu pengetahuan dan teknologi itu cara menafsirkannya dengan mengambil dari dua sisi, secara agama dan teknologi. Beliau telah mengambil peran dalam bidang agama, dan beliaupun juga memberi kesempatan kepada kita semua yang memahami astronomi dan ilmu terapan lainnya untuk melengkapi penafsiran beliau.
Yang ketiga, masalah pengetahuan adalah masalah yang sederhana dalam agama, karena Allah meberikan sesuai dengan perkembangan akal manusia. Allah hanya memberi sinyal-sinyal kepada umat-Nya sesuai perkembangan zaman. Karena tidak mungkin Allah memberi informasi yang tidak sesuai dengan akal di zamannya. Akan tetapi untuk masalah Aqidah maka hal ini sangat vital dan tetap keadaannya sejak zaman dahulu hingga nanti kiamat. Sebagaimana kita ketahui beliau Syaikh Utsaimin adalah ulama yang meluruskan aqidah, tentu hal ini tidak sebanding dengan persoalan kecil tentang penafsiran diatas yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan kesesatan.
Yang Keempat, jika kita kaitkan pada masa Rasulullah SAW dahulu, maka akan kita dapati hikmah dari peristiwa berikut:
"Dari Aisyah ra berkata: "Bahwa Nabi SAW pernah mendengar suara-suara, maka beliau bersabda: "Suara apa ini?" Para sahabat berkata: "Suara orang-orang mencangkok kurma  yang Rasulullah!". Maka rasulullah langsung bersabda: "JIka mereka meninggalkannya niscaya akan lebih baik." Akhirnya mereka tidak lagi mencangkok hingga pada tahun ini hasil kurma menjadi anjlok. Lalu mereka melaporkan hal ini kepada Nabi SAW, maka beliau bersabda: "Adapun untuk urusan yang berkaitan dengan perkara dunia (teknologi) kalian, maka terserah kalian (yang lebih faham), tetapi untuk perkara agama kalian maka kembalikan kepadaku." (HR Ahmad).
Jadi sebenarnya kita semua berfikir positif dan mempunyai adab terhadap ulama tentu akan labih mudah memahami perbedaan ini, sayangnya banyak orang mensikapi hal ini dengan cara buruk dan tidak menggunakan adab. (Al Furqon , Edisi 124 thXII/2015)

“Islam sebagai Fondasi Kebangkitan Nasional”

  Khutbah Jum’at “Islam sebagai Fondasi Kebangkitan Nasional” KHUTBAH PERTAMA Mukadimah إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَ...