6/28/2025

Merugilah Anak yang Tak Menjadikan Orang Tua Renta sebagai Jalan ke Surga



Beberapa waktu lalu, beredar di media sosial sebuah video menyayat hati: seorang wanita tua duduk termenung di sebuah panti jompo. Matanya kosong, tangannya bergetar, dan sesekali menoleh ke arah pintu seolah menanti kedatangan seseorang. Belakangan diketahui bahwa ia adalah ibu dari lima orang anak. Dahulu, ia seorang diri berjuang membesarkan mereka—menggendong saat sakit, menahan lapar demi menyuapi, memeras tenaga demi pendidikan mereka. Namun kini, ketika rambutnya telah memutih dan langkahnya tertatih, anak-anaknya justru menitipkannya ke panti jompo dengan alasan kesibukan. Ia dilupakan, padahal dulu tak pernah melupakan.


Fenomena semacam ini menggambarkan sebuah ironi besar: di saat seseorang memiliki kesempatan emas untuk berbakti, mereka justru memilih berpaling. Padahal, tinggal bersama orang tua yang telah renta adalah peluang langka yang Allah berikan sebagai sarana meraih surga. Maka, sungguh merugilah anak yang tidak menjadikan keadaan ini sebagai ladang amalnya.

Dalil Al-Qur’an

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’, dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (QS. Al-Isra’: 23)

Ayat ini menegaskan bahwa berbakti kepada orang tua, khususnya saat mereka telah tua renta, adalah perintah langsung dari Allah. Bahkan sekadar berkata "ah" pun dilarang—apalagi mengabaikan dan menelantarkan mereka.

Hadis Nabi ﷺ

Rasulullah ﷺ memperingatkan:

"Celaka! Celaka! Celaka!" Para sahabat bertanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang mendapati salah satu atau kedua orang tuanya lanjut usia, namun ia tidak masuk surga (karena berbuat baik kepada mereka)." (HR. Muslim no. 2551)

Ini adalah peringatan yang sangat keras dari Nabi ﷺ. Betapa besar peluang masuk surga melalui orang tua yang tua, namun betapa banyak pula yang melewatkannya dengan sia-sia.

 Pendapat Ulama

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadis di atas menunjukkan ancaman bagi siapa pun yang tidak menggunakan keberadaan orang tua yang renta sebagai kesempatan untuk berbuat baik dan meraih surga.

Ibnul Jauzi dalam Birrul Walidain berkata:

"Barang siapa yang mendampingi orang tuanya yang lemah, lalu tidak berusaha membuat Allah ridha melalui mereka, maka sungguh ia telah melewatkan keuntungan besar."

Lebih dari sekadar kewajiban, melayani orang tua yang telah lanjut usia adalah bentuk kesyukuran dan adab seorang anak. Ini juga menjadi cara Allah menguji cinta dan pengorbanan kita kepada keluarga.

Setiap kita, akan jadi orang tua

Setiap anak kelak akan menjadi orang tua. Maka tanyakan pada diri sendiri: apakah aku ingin diperlakukan sama seperti aku memperlakukan orang tuaku sekarang?

Tinggal bersama orang tua yang renta bukan beban, tapi kehormatan. Bukan beban, melainkan jalan mulia menuju ridha Allah dan surga-Nya. Dan merugilah orang yang menyia-nyiakan kesempatan ini, karena pintu surga itu nyata di hadapannya, namun ia memilih untuk membiarkannya tertutup. 

6/27/2025

Kenaifan Kaum Agamis Tekstual dan Kaum (Ngaku) Ateis yang Sok Ilmiah


Dalam lanskap pemikiran hari ini, kita menyaksikan dua kutub ekstrem yang sering bersuara keras: kaum agamis tekstual dan kaum yang mengaku ateis namun merasa paling ilmiah. Keduanya sama-sama terjebak dalam 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘪𝘧𝘢𝘯, meski dengan bentuk dan cara yang berbeda. Kaum agamis terlalu tergesa mengklaim kebenaran wahyu tanpa memahami realitas, sementara kaum ateis terlalu cepat menutup kemungkinan transenden karena merasa cukup dengan sains. Dua-duanya gagal melihat luasnya realitas dan keterbatasan manusia.

1. Kenaifan Kaum Agamis Tekstual

Kaum ini memegang teks suci secara harfiah tanpa memahami konteks, metode tafsir, atau prinsip kausalitas (asbab). Contoh lucunya, ada dari mereka menolak percaya pada prakiraan cuaca BMKG, dan menyebutkan itu sebagai kesyirikan, karena seolah-olah “mendahului kehendak Tuhan.” Bagi mereka, menyatakan bahwa hujan bisa diprediksi berarti menyaingi Tuhan.

Padahal, para ilmuwan hanya mempelajari pola-pola alam berdasarkan hukum yang ditetapkan Tuhan sendiri (sunnatullah). Bahwa ada qadar dan khasiat dari sesuatu yang bisa dimanfaatkan manusia dengan akalnya untuk direkayasa agar bermanfaat. 

Alih-alih memposisikan Tuhan sebagai Sang Maha Berkehendak, malah justru Tuhan digambarkan seolah-olah bertindak spontan dan reaktif, bukan sebagai Zat Mahabijaksana yang telah menciptakan sistem dan hukum yang tetap.

Imam Al-Ghazali pernah mengkritik kaum yang menafikan sebab-akibat secara total. Dalam Tahafut al-Falasifah, ia tidak menolak sebab-akibat, tapi menekankan bahwa sebab tidak memiliki daya sendiri kecuali karena izin Tuhan. Artinya, Tuhan tetap Maha Kuasa, namun hukum-hukum alam adalah sarana (asbab) yang digunakan-Nya dalam mengatur dunia.

Bahkan Al-Qur’an sendiri berulang kali menyebutkan hujan, angin, dan awan dalam bahasa kausalitas:

"Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan)...” (QS. Al-A’raf: 57)

Ayat ini menunjukkan mekanisme alam yang Tuhan ciptakan dan kelola, bukan aksi reaktif yang tiba-tiba tanpa keteraturan.

2. Kenaifan Kaum Ateis yang Sok Ilmiah

Di sisi lain, sebagian orang yang mengklaim diri sebagai ateis merasa bahwa sains telah menjelaskan segalanya, dan karena itu tidak perlu lagi konsep Tuhan. Mereka menyatakan bahwa alam semesta terjadi begitu saja, tanpa sebab. 

Ini adalah bentuk kenaifan intelektual karena justru melanggar prinsip sains itu sendiri, yaitu bahwa setiap gejala harus punya sebab dan penjelasan. David Hume, sekalipun skeptis terhadap sebab-akibat, tetap menyadari bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa asumsi kausalitas. Bahkan Stephen Hawking, meski cenderung ateistik, tetap menyusun teori asal-usul alam dalam kerangka hukum fisika—yang tentu saja adalah bentuk pengakuan bahwa alam tunduk pada keteraturan. 

Mengatakan “alam terjadi begitu saja” tanpa sebab, sejatinya bukan kesimpulan ilmiah, melainkan keyakinan metafisik yang tak terbukti. Filsuf kontemporer seperti William Lane Craig melalui Kalam Cosmological Argument, menegaskan bahwa:“

"Segala yang memiliki awal pasti memiliki sebab. Alam semesta memiliki awal, maka ia pasti memiliki sebab.”

3. Kedewasaan Intelektual: Melepaskan Kenaifan

Iman bukanlah kebodohan, dan sains bukanlah musuh spiritualitas. Namun baik iman maupun sains bisa berubah menjadi sumber arogansi dan kenaifan, jika tidak disertai keterbukaan, refleksi, dan kesadaran akan batas manusia.

Imam Malik pernah berkata, “Barangsiapa beragama tanpa ilmu, maka dia akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki.”

Dan filsuf Karl Popper menyatakan, “Semakin banyak kita tahu, semakin kita sadar bahwa kita tidak tahu.”

Kedewasaan berpikir adalah ketika kita mengakui bahwa teks tidak berdiri sendiri tanpa konteks, dan bahwa sains tidak menjangkau seluruh dimensi eksistensi. Tuhan tidak dibatasi oleh hukum alam, tapi justru hukum itu adalah manifestasi kebijaksanaan-Nya, bukan pengganti-Nya.


Melawan Kenaifan

Yang perlu kita lawan bukan iman atau sains, tapi kenaifan—baik yang berbaju religius maupun yang berselimut saintisme. Iman sejati akan terbuka pada ilmu, dan ilmu sejati akan merunduk dalam kerendahan hati. Di situlah letak kebijaksanaan: tidak menafikan, tapi menyatukan; tidak membenturkan, tapi menyelami.



6/22/2025

JAS MERAH dan JAS HIJAU: Menyusun Ulang Memori Sejarah Bangsa



"Jas Merah", singkatan dari Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah, merupakan slogan yang disampaikan oleh Ir. Soekarno dalam pidato kenegaraannya pada 17 Agustus 1966. Slogan ini merupakan ajakan kepada bangsa Indonesia untuk tidak terputus dari akar sejarah, tidak melupakan perjalanan panjang kemerdekaan, serta menghargai jasa para pejuang bangsa. Namun dalam praktiknya, slogan ini lebih sering diklaim dan diangkat oleh kelompok nasionalis, terutama yang berideologi Sukarnoisme.

Hal ini bisa dimaklumi. Kedekatan emosional dan ideologis kelompok nasionalis terhadap figur Bung Karno membuat mereka merasa paling berhak mengangkat dan mewarisi semangat Jas Merah. Secara politik dan simbolik, slogan ini menjadi penguatan narasi bahwa nasionalislah yang paling berjasa dalam perjuangan dan pembentukan bangsa. Tak jarang muncul kesan bahwa merekalah yang dimaksud Bung Karno sebagai pelaku utama sejarah yang tak boleh dilupakan.

Namun, pemaknaan sempit terhadap sejarah seperti ini rawan mengikis keutuhan narasi kebangsaan. Sebab, sejarah kemerdekaan Indonesia bukan hanya dibentuk oleh satu golongan atau satu ideologi, melainkan merupakan hasil perjuangan kolektif seluruh elemen bangsa: nasionalis, Islamis, sosialis, hingga kekuatan lokal dan adat.

Ulama dan Umat Islam: Pilar Sejarah yang Terlupakan

Salah satu pilar penting yang kerap terpinggirkan dalam narasi besar sejarah nasional adalah peran umat Islam dan para ulama. Padahal, kontribusi mereka nyata, massif, dan berlangsung jauh sebelum munculnya organisasi-organisasi nasionalis sekuler.

1. Jejak Ulama dalam Perlawanan Terhadap Kolonialisme
Para ulama sejak abad ke-17 telah menjadi garda terdepan dalam perlawanan terhadap kolonialisme. Tokoh seperti Sultan Agung, Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, dan Teuku Umar merupakan pemimpin yang menggabungkan semangat jihad dan nasionalisme. Bahkan Perang Diponegoro (1825–1830) yang disebut sejarawan Peter Carey sebagai "perang terbesar melawan kolonialisme di Asia abad ke-19", dipimpin oleh seorang bangsawan yang sangat dekat dengan kalangan ulama dan pesantren.

2. Gerakan Islam Modernis dan Tradisionalis
Organisasi seperti Syarikat Islam (1912)—yang awalnya bernama Syarikat Dagang Islam—merupakan kekuatan politik awal umat Islam melawan kolonialisme dengan pendekatan ekonomi dan sosial. Kemudian muncul Muhammadiyah (1912) dan Nahdlatul Ulama (1926) yang memainkan peran penting dalam penguatan akar sosial masyarakat dan penyadaran nasionalisme berbasis Islam.

3. Peran Ulama dalam Perumusan Kemerdekaan
Dalam momen-momen genting menjelang dan sesudah kemerdekaan, para ulama berada dalam barisan depan. KH Wahid Hasyim, KH Hasyim Asy’ari, Ki Bagus Hadikusumo, dan Mohammad Natsir adalah contoh tokoh-tokoh Islam yang aktif di parlemen, perumusan konstitusi, hingga pembentukan NKRI. Bahkan Resolusi Jihad NU 22 Oktober 1945 menjadi landasan moral dan hukum bagi meletusnya perlawanan 10 November di Surabaya—yang kini dikenang sebagai Hari Pahlawan.

Jas Hijau: Jangan Sekali-kali Menghilangkan Jasa Ulama

Maka lahirlah gagasan slogan tandingan yang komplementer terhadap Jas Merah, yaitu:

JAS HIJAU” – Jangan Sekali-kali Menghilangkan Jasa Ulama.

Slogan ini bukan untuk mengadu domba antar golongan, tapi untuk melengkapi narasi sejarah nasional yang utuh dan adil. JAS HIJAU adalah pengingat bahwa perjuangan kemerdekaan bukan sekadar perjuangan politik, tetapi juga perjuangan spiritual, moral, dan sosial yang dipelopori oleh para ulama dan umat Islam.

Sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara, dalam bukunya Api Sejarah, menjelaskan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak mungkin terjadi tanpa peran umat Islam dan jaringan pesantren. Ia bahkan menyebut adanya “penyembunyian sejarah” yang cenderung meminggirkan tokoh-tokoh Islam demi narasi tunggal sekuler-nasionalis.

Kesimpulan: Sejarah Milik Bersama

JAS MERAH dan JAS HIJAU harus berjalan beriringan. Yang satu mengingatkan kita untuk tidak melupakan sejarah bangsa secara umum. Yang lain memperjuangkan agar jasa ulama tidak dihapus dari memori kolektif bangsa.

Bangsa Indonesia tidak akan besar jika hanya mengingat sebagian sejarah dan melupakan bagian lainnya. Keadilan sejarah adalah fondasi keadilan bangsa.


Catatan: 

JAS HIJAU adalah akronim yang disampaikan oleh Dr. Hidayat Nurwahid dalam acara Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Wisma Mahdhiyyin Bandung, di tengah acara Majelis Tahkim Luar Biasa Syarikat Islam Indonesia (PSII) pada tanggal 21-22 Juni 2025.


Referensi:

  • Soekarno, Pidato 17 Agustus 1966: “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah”.

  • Peter Carey, The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and the End of an Old Order in Java, 1785–1855.

  • Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah Jilid 1 & 2.

  • Greg Barton, The Authorized Biography of Nurcholish Madjid (tentang hubungan Islam dan nasionalisme).

  • Zainul Milal Bizawie, Masterpiece Islam Nusantara.

Baca juga:

6/21/2025

Ukuran Sukses Manusia: Menuju Keridhoan Allah dan Surga yang Dijanjikan


Dalam hiruk pikuk kehidupan dunia, ukuran kesuksesan seringkali disempitkan pada capaian-capaian materi: jabatan tinggi, harta melimpah, popularitas, atau pengaruh. Namun, dalam pandangan Islam yang menyeluruh, kesuksesan sejati adalah ketika seluruh keadaan dan potensi manusia diarahkan untuk meraih keridhoan Allah, dan akhirnya mengantarkannya kepada surga yang dijanjikan sebagai tempat kembali terbaik. 

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

"Barang siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh ia telah memperoleh kemenangan (sukses sejati)." QS. Ali Imran: 185)

Ayat ini menjadi tolok ukur utama dalam menilai keberhasilan hakiki. Dunia dan segala isinya hanyalah fase ujian yang fana, sedangkan kesuksesan hakiki adalah ketika seseorang selamat dari murka Allah dan mendapatkan ridho-Nya.

Potensi Diri dan Arah Hidup

Setiap manusia dianugerahi potensi: akal, hati, waktu, dan tenaga. Sukses bukan semata hasil dari kemampuan memaksimalkan potensi ini untuk kepentingan duniawi, tetapi bagaimana potensi tersebut digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa:

"Kebahagiaan dan keberuntungan sejati ada pada penghambaan yang benar kepada Allah. Maka siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, ia akan tersesat dan binasa, sedangkan siapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuan, dunia akan tunduk kepadanya."

Potensi manusia baru akan menemukan arti sebenarnya jika digunakan sebagai wasilah (sarana) untuk ibadah bukan semata untuk pencapaian dunia yang fana. Bahkan dunia bisa menjadi fitnah (ujian) jika menjauhkan dari Allah.

Kesuksesan yang Tidak Selalu Sesuai Keinginan Dunia

Tidak sedikit orang yang tampak sederhana, tidak dikenal di dunia, hidupnya tidak bergelimang harta, tapi ia sukses besar di sisi Allah. Rasulullah SAW bersabda:

"Betapa banyak orang yang rambutnya kusut, berdebu, dan tertolak dari pintu-pintu (dunia), tapi jika ia bersumpah atas nama Allah, maka Allah pasti mengabulkannya." (HR. Muslim)

Ini menggambarkan bahwa standar sukses di mata manusia tidak sama dengan sukses di mata Allah. Maka jangan heran jika orang yang tampak “biasa” di dunia adalah penghuni surga yang tinggi di akhirat, karena hatinya dipenuhi iman, lisannya sibuk berdzikir, dan hidupnya ditopang kesabaran.

Pandangan Para Ulama tentang Sukses Hakiki

Imam Al-Ghazali dalam *Ihya Ulumuddin* menyatakan:

“Kebahagiaan dan kemenangan bukanlah karena banyaknya harta atau banyaknya pengikut, tetapi karena dekatnya hati kepada Allah dan bersihnya jiwa dari cinta dunia yang melalaikan.”

Begitu pula Imam Hasan Al-Bashri berkata:

“Sungguh aku melihat kaum (sahabat Nabi), mereka menganggap dunia sebagai sesuatu yang hina, dan amal akhirat sebagai satu-satunya kesibukan mereka. Demi Allah, mereka adalah manusia paling sukses."

Kembali Menyusun Ukuran Hidup

Dari uraian di atas, kita diingatkan kembali bahwa kesuksesan bukan hanya tentang pencapaian terhadap dunia, melainkan bagaimana keadaan dan potensi kita digunakan untuk menggapai ridho Allah, bukan sekadar ambisi pribadi.

Kesuksesan bukan soal berapa banyak yang dimiliki, tetapi apa yang diperjuangkan dan untuk siapa kita hidup. 

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bagi mereka surga Firdaus sebagai tempat tinggal." (QS. Al-Kahfi: 107)


Maka, arahkan potensi dan perjalanan hidup kepada satu tujuan besar: **keridhoan Allah dan surga yang kekal abadi**. Itulah sukses sejati yang tak akan pernah pudar.


Cokroaminoto: Singa Podium dan Pelopor Zelfbestuur di Hindia Belanda



Ketika sejarah kemerdekaan Indonesia ditelusuri ke akarnya, sering kali kita langsung teringat pada proklamasi 1945 dan tokoh-tokoh seperti Soekarno dan Hatta. Namun, di balik gemuruh kemerdekaan itu, ada satu sosok penting yang jauh sebelumnya telah meniupkan api perjuangan: Haji Oemar Said Cokroaminoto. Ia bukan hanya orator ulung yang dijuluki Singa Podium, tetapi juga salah satu tokoh pertama yang secara terang-terangan menyerukan zelfbestuur — hak pemerintahan sendiri — kepada pemerintah kolonial Belanda.

Zelfbestuur: Gagasan Kemerdekaan Sebelum Kemerdekaan

Pada Kongres Sarekat Islam pertama di Bandung tahun 1916, Cokroaminoto tampil sebagai tokoh utama yang menyuarakan perlunya zelfbestuur bagi bangsa Indonesia. Dalam konteks politik kolonial saat itu, gagasan ini amat radikal. Kata "kemerdekaan" belum boleh diucapkan, namun Cokroaminoto dengan berani menyampaikannya dalam bentuk tuntutan agar Hindia Belanda diberikan hak untuk mengatur nasibnya sendiri.


Dalam pidatonya, ia berkata:


“Kami menghendaki pemerintahan sendiri, kami menuntut zelfbestuur!”

(Sumber: Shiraishi, Takashi. Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926.Jakarta: Grafiti, 1997.)


Pernyataan ini bukan hanya mencengangkan pemerintah kolonial, tetapi juga menyadarkan kaum bumiputera bahwa ada kemungkinan untuk menjadi tuan di negeri sendiri.


Cokroaminoto dan Sarekat Islam: Membangun Kesadaran Nasional


Sarekat Islam (SI), di bawah kepemimpinan Cokroaminoto, menjadi organisasi massa terbesar di Indonesia pada awal abad ke-20. SI bukan sekadar gerakan ekonomi umat Islam, melainkan berkembang menjadi kendaraan politik yang menampung berbagai aspirasi kemerdekaan. Di sinilah Cokroaminoto menunjukkan kepiawaiannya merangkul massa, membangun kesadaran nasional, dan merumuskan arah perjuangan.


Menurut Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo, seorang sejarawan terkemuka Indonesia:

“Cokroaminoto adalah pelopor nasionalisme politik yang berbasis massa. Ia menanamkan kesadaran politik kepada rakyat kecil, hal yang tidak dilakukan oleh tokoh-tokoh elitis sebelumnya.”

(Sumber: Sartono Kartodirdjo, Pemberontakan Petani Banten 1888, Pustaka Jaya, 1984.)


Guru Para Pemimpin Besar


Kehebatan Cokroaminoto tidak hanya diukur dari gagasannya, tetapi juga dari generasi pemimpin yang lahir dari didikannya. Di rumahnya di Surabaya, ia mendidik tokoh-tokoh yang kelak memainkan peran besar dalam sejarah Indonesia: Soekarno, Semaoen, Kartosoewirjo, dan bahkan Tan Malaka.


Menurut Soekarno dalam autobiografinya "Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat", ia menyebut:

“Cokroaminoto adalah guru bangsa. Di rumahnya saya belajar berpikir politik dan membayangkan Indonesia yang merdeka.”


Cokroaminoto berhasil mempengaruhi spektrum ideologi nasionalisme, Islamisme, dan sosialisme yang kelak mewarnai dinamika politik Indonesia.


Warisan Besar yang Terlupakan


Meskipun tidak sempat menyaksikan kemerdekaan yang ia impikan — Cokroaminoto wafat pada tahun 1934 — gagasan dan pengaruhnya tetap hidup. Zelfbestuur bukan lagi sekadar tuntutan politis, tetapi menjadi jalan menuju kemerdekaan sejati yang akhirnya dicapai pada 17 Agustus 1945.


Namun dalam buku-buku sejarah populer, nama Cokroaminoto sering kali tertutup bayang-bayang murid-muridnya. Padahal, ia adalah peletak dasar nasionalisme yang pertama kali menantang kolonialisme dengan ide pemerintahan sendiri secara terbuka.

Arsitek Kebangkitan Nasional

Cokroaminoto adalah tokoh sentral yang mengartikulasikan kemerdekaan jauh sebelum kata itu mendapat tempat dalam diskursus politik Hindia Belanda. Ia tidak hanya bersuara, tetapi membangun kesadaran. Ia bukan sekadar pemimpin gerakan, tetapi penggagas arah. Dalam sejarah Indonesia, ia layak dikenang bukan hanya sebagai singa podium, tetapi sebagai arsitek awal kebangkitan bangsa.

Referensi:

1. Shiraishi, Takashi. Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912–1926. Grafiti Pers, 1997.

2. Kartodirdjo, Sartono. Pemberontakan Petani Banten 1888. Pustaka Jaya, 1984.

3. Soekarno. Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Gunung Agung, 1965.

4. Ricklefs, M.C. Sejarah Indonesia Modern 1200–2008*. Serambi, 2008.

5. Suardi Tasrif. Cokroaminoto: Hidup dan Perjuangannya. Bulan Bintang, 1951


Selamat anda telah menjadi pembaca artikel kami, teruskan membaca artikel lainnya. 

Baca juga:

Khilafah adalah ideologi global

6/18/2025

Urgensi Kepemimpinan dalam Islam: Antara Tuntutan Syariat dan Realitas Umat




Kematian Rasulullah SAW adalah peristiwa yang mengguncang kaum Muslimin. Namun yang menarik, para sahabat tidak langsung menguburkan jenazah beliau, tetapi lebih dahulu berunding untuk menentukan siapa yang akan menjadi pengganti Rasulullah dalam memimpin umat. Ini menunjukkan betapa penting dan mendesaknya persoalan kepemimpinan (imamah/khalifah) dalam Islam. Tanpa pemimpin, umat akan tercerai berai, kehilangan arah, dan mudah dipermainkan oleh kekuatan luar maupun hawa nafsu dari dalam.

Istilah Kepemimpinan dalam Al-Qur’an dan Maknanya

Dalam Al-Qur'an dan hadits, kepemimpinan disebut dengan beberapa istilah, antara lain:

  1. Imam (إمام)
    Secara bahasa berarti "yang diikuti". Dalam Al-Qur’an, istilah ini digunakan untuk menunjukkan sosok teladan yang memimpin umat.

    "Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu dia melaksanakannya. Allah berfirman: Sesungguhnya Aku menjadikanmu imam bagi seluruh manusia."
    (QS. Al-Baqarah: 124)

    Imam di sini berarti pemimpin yang ditaati dan dijadikan panutan dalam menjalankan agama dan urusan dunia.

  2. Ulil Amri (أُولِي الْأَمْرِ)
    Merujuk pada orang-orang yang memiliki otoritas dalam urusan umat, baik pemimpin politik maupun ulama.

    "Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan ulil amri di antara kamu."
    (QS. An-Nisa: 59)

    Ulil Amri mencakup kepemimpinan kolektif, seperti pemimpin negara dan tokoh keagamaan, yang otoritasnya berasal dari syariat dan maslahat umat.

  3. Amir (أمير)
    Bermakna "komandan" atau pemimpin dalam urusan militer dan administratif. Rasulullah SAW menyebutkan,

    "Apabila tiga orang keluar dalam perjalanan, maka hendaklah mereka mengangkat salah satu sebagai amir (pemimpin)."
    (HR. Abu Dawud)

    Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan diperlukan bahkan dalam lingkup terkecil.

  4. Khalifah (خليفة)
    Berarti "pengganti". Ini mengandung makna representasi manusia atas amanah dari Allah untuk memakmurkan dan menegakkan keadilan di muka bumi.

    "Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi."
    (QS. Al-Baqarah: 30)

    Dalam konteks sejarah, istilah khalifah digunakan untuk menyebut para pemimpin umat pasca Rasulullah SAW.

Kedudukan, Fungsi, dan Tugas Pemimpin

Menurut Al-Mawardi dalam Al-Ahkam As-Sulthaniyyah, kepemimpinan dalam Islam adalah kewajiban kolektif (fardhu kifayah) untuk menjaga agama dan mengatur dunia dengan nilai-nilai Islam. Fungsi utama pemimpin meliputi:

  1. Menjaga agama dan menegakkan hukum-hukum syariat.

  2. Menegakkan keadilan, memberikan hak kepada yang berhak.

  3. Menjaga keamanan, baik dari ancaman luar maupun kezaliman dalam negeri.

  4. Mengelola harta negara (baitul mal) dan mendistribusikannya dengan adil.

  5. Mengatur urusan umat, seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi dan diplomasi.

Imam Al-Ghazali dalam Al-Iqtisad fi al-I'tiqad menyatakan:

“Agama dan kekuasaan adalah saudara kembar. Agama adalah pondasinya, dan kekuasaan adalah penjaganya. Apa yang tidak memiliki penjaga akan hancur, dan apa yang tidak memiliki pondasi akan runtuh.”

Bahaya dan Dampak Umat Tanpa Kepemimpinan

Ketiadaan pemimpin dalam suatu umat akan menimbulkan kekacauan, perpecahan, dan lemahnya kewibawaan syariat. Dalam hadits disebutkan:

"Barang siapa mati dalam keadaan tidak memiliki bai'at kepada seorang imam (pemimpin), maka ia mati dalam keadaan jahiliyah."
(HR. Muslim)

Tanpa pemimpin:

  • Umat kehilangan arah dan visi bersama.

  • Syariat tidak bisa ditegakkan secara institusional.

  • Potensi umat tercerai-berai oleh kepentingan pribadi dan kelompok.

  • Musuh mudah masuk dan melemahkan dari dalam.

Persatuan, Strategi, dan Kekuatan

Pemimpin adalah simbol persatuan. Ia mengarahkan umat kepada satu visi yang terarah. Dalam pertempuran Uhud, kekalahan kaum Muslimin bukan karena lemahnya kekuatan fisik, tetapi karena ketidaktaatan terhadap instruksi pemimpin (Rasulullah). Ini menunjukkan pentingnya strategi, komando, dan ketaatan dalam barisan umat.


Kepemimpinan adalah kesempurnaan agama

Islam menempatkan kepemimpinan sebagai tiang penyangga peradaban. Ia bukan sekadar posisi administratif, tetapi bagian dari sistem ketatanegaraan Islam yang wajib ditegakkan untuk menjaga agama dan kemaslahatan umat. Tanpa kepemimpinan, syariat tidak akan tegak sempurna, dan umat akan kehilangan arah. Oleh karena itu, menegakkan kepemimpinan yang adil, amanah, dan syar’i adalah bagian dari ibadah kolektif umat.


Referensi:

  1. Al-Mawardi, Al-Ahkam As-Sulthaniyyah

  2. Al-Ghazali, Al-Iqtisad fi al-I’tiqad

  3. Ibnu Taimiyah, As-Siyasah As-Syar’iyyah

  4. Tafsir Al-Qur’anul Karim, Ibnu Katsir

  5. Shahih Muslim, 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘣 𝘐𝘮𝘢𝘳𝘢𝘩


Selamat, anda adalah orang yang peduli ilmu dan literasi, teruskan dengan artikel-artikel bermanfaat lainnya. 

Baca juga:

6/17/2025

Kritik yang Dibalas Stigma

 


Fenomena—di mana kritik terhadap pemerintah dibalas dengan serangan terhadap pribadi pengkritik, bukan substansi kritik—dapat dijelaskan dengan berbagai pendekatan dalam ilmu sosial dan politik, terutama dalam kerangka psikologi politik, teori komunikasi, dan analisis kekuasaan.


1. Teori Delegitimasi (Delegitimization Theory)

Dalam ilmu sosial, delegitimasi adalah strategi untuk melemahkan posisi lawan dengan menyerang kredibilitasnya, bukan argumennya. Ketika seseorang mengkritik pemerintah, kekuasaan (atau pendukungnya) bisa merasa terancam, sehingga merespons dengan labelling: "barisan sakit hati", "anak abah", "orang kalah", dsb. Ini bertujuan untuk:

  • Mengalihkan perhatian dari isi kritik ke motif pribadi si pengkritik.

  • Membingkai kritik sebagai ekspresi dendam atau ambisi politik pribadi, bukan kepedulian terhadap publik.

📚 Referensi:

  • Bar-Tal, Daniel. Group Beliefs: A Conception for Analyzing Group Structure, Processes, and Behavior (2000).

  • Tajfel, Henri & Turner, John C. (1986). The Social Identity Theory of Intergroup Behavior.


2. Ad Hominem dan Strategi Komunikasi Politik

Dalam retorika dan teori komunikasi, serangan terhadap pribadi dikenal sebagai fallacy ad hominem. Ini adalah logical fallacy yang umum digunakan dalam politik populis.

Alih-alih menjawab kritik secara rasional, politisi (atau buzzer politik) justru:

  • Menyerang latar belakang pengkritik (misalnya mantan pejabat, aktivis, atau oposan lama).

  • Menstigmatisasi dengan asosiasi negatif agar publik tak percaya pada kritik tersebut.

Ini sering dipakai dalam politik identitas dan politik populis, di mana kebenaran bukan diukur dari argumen, tapi dari siapa yang bicara.

📚 Referensi:

  • Lakoff, George (2004). Don’t Think of an Elephant!: Bagaimana framing dalam politik bekerja.

  • McNair, Brian (2007). An Introduction to Political Communication.


3. Politik Kekuasaan dan Perlindungan Narasi

Dalam teori politik kekuasaan (terutama dari Michel Foucault), penguasa tidak hanya memonopoli sumber daya ekonomi dan hukum, tetapi juga mengontrol narasi publik. Kritik bisa dianggap sebagai ancaman terhadap legitimasi kekuasaan, dan karena itu:

  • Diredam bukan dengan dialog, tapi dengan stigmatisasi.

  • Dibungkam dengan mengisolasi pengkritik dari simpati publik.

Ketika opini publik bisa digiring untuk percaya bahwa pengkritik punya niat jahat, maka pemerintah tidak perlu menjawab kritik itu secara substansial.

📚 Referensi:

  • Foucault, Michel (1980). Power/Knowledge: Selected Interviews and Other Writings.

  • Chomsky, Noam & Herman, Edward S. (1988). Manufacturing Consent.


4. Fenomena Buzzer dan Mediasi Politik Digital

Di era digital, terutama di negara-negara demokrasi lemah atau semi-otoriter, pemerintah (atau pihak yang diuntungkan oleh kekuasaan) menggunakan buzzer, influencer, atau pasukan siber untuk:

  • Memonopoli opini publik di media sosial.

  • Melakukan cyberbullying atau character assassination terhadap pengkritik.

Ini disebut dalam kajian sebagai “digital authoritarianism”—di mana demokrasi secara formal tetap ada, tapi ruang kebebasan dieksploitasi untuk menekan oposisi dan kritik.

📚 Referensi:

  • Freedom House (2022). Freedom on the Net.

  • Howard, Philip N., et al. (2018). The Global Disinformation Order: 2019 Global Inventory of Organised Social Media Manipulation.


Kesimpulan

Fenomena serangan terhadap pribadi pengkritik alih-alih menjawab substansi kritik mencerminkan beberapa kondisi sosial-politik:

  1. Ketidakmampuan atau ketidakmauan menghadapi kritik secara intelektual.

  2. Upaya mempertahankan narasi kekuasaan dengan membungkam suara berbeda.

  3. Politik populis yang menggiring persepsi bahwa hanya “orang baik” yang boleh bersuara, dan kritik = dendam.

  4. Polarisasi masyarakat dan pembentukan echo chamber digital, yang membuat rasionalitas tersisih oleh loyalitas.

Dalam masyarakat demokratis yang sehat, kritik adalah bentuk partisipasi warga negara. Ketika kritik dibalas dengan stigmatisasi, itu tanda adanya regresi demokrasi dan dominasi politik identitas.

“Islam sebagai Fondasi Kebangkitan Nasional”

  Khutbah Jum’at “Islam sebagai Fondasi Kebangkitan Nasional” KHUTBAH PERTAMA Mukadimah إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَ...